14 January 2016

Merayakan Malam Tahun Baru di The Packer Lodge

hostel, jakarta, the-packer-lodge

Entah sudah berapa lama saya tidak merayakan hiruk pikuk malam tahun baru. Terakhir kali waktu kuliah dulu, saya dan teman-teman segeng SMA bikin acara nginep bareng dengan susunan acara: ngobrol sampai tengah malam, nyemil, dan bikin es susu soda. Mirip-mirip Pajama Party gitu, deh. Pada tahun-tahun berikutnya, saya tidak lagi merayakan malam tahun baru di luar dengan siapapun. Perayaan membuat saya lelah, apalagi kalau musti ke luar rumah melewati jalan Jakarta yang padat dan berdesakan? Bayanginnya saja sudah bikin capek duluan. Saya emoh menghabiskan energi demi libur yang cuma satu hari.

Tapi tidak tahun ini.

Rekan kerja saya, Jo, mengajak saya dan teman kerja kami lainnya merayakan malam tahun baru di luar. Hitung-hitung buang penat, saya mengiyakan ajakan Jo. Kebetulan juga 1 Januari 2016 jatuh pada hari jumat, jadi masih ada sisa hari Sabtu-Minggu untuk saya gunakan istirahat di rumah. Lalu mulailah kami bertiga mencari referensi Hotel dengan budget bersahabat. Susah juga ternyata. Hotel incaran yang bagus dan murah full booked semua, Hotel alternatif lainnya memasang rate tinggi pada malam tahun baru. Tiba-tiba saya ingat ada satu Hostel yang pernah saya lihat via internet bernama The Packer Lodge di daerah Gajah Mada.

Murah, interiornya unik, dan banyak Backpacker Bulenya. Tiga hal itu yang saya ingat ketika pertama kali saya membaca menu "Galery" dan "Review" di website The Packer Lodge. Saya lempar informasi tentang Hostel ini ke Jo dan dia setuju. Kami fix tahun baruan bareng di sana. Yeay!


Inilah cerita tentang pergantian malam tahun baru 2015-2016 kami di The Packer Lodge Hostel.



Akhirnya kami berempat, saya, Jo, Janah dan Ririn menginap semalam di The Packer Lodge untuk merayakan tahun baru 2016. Feeling excited, huh? Saya, Jo, dan Janah berangkat langsung dari kantor dengan taksi menuju lokasi, sementara Ririn yang berbeda kantor dari kami datang menyusul. Sebenarnya lokasi The Packer Lodge Hostel cukup strategis, Gang masuknya berhadapan langsung dengan LTC Glodok, dan di dekat situ ada Shelter Busway. Dari jalan raya tinggal masuk ke dalam hang Mangga/Jl. Kemurnian IV kurang lebih 50 meter, pintu masuk Hostelnya ada di sebelah kanan gang.

hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Gang Mangga, lokasi menuju The Packer Lodge Jakarta
hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Parkiran dengan mural Dewa Gajah pada temboknya
Suasana di Resepsionis, antri bok!


Waktu sampai di resepsionis dan check in, saya sempat shock saat petugas Hostel bilang kami kebagian kamar di Dorm Room 8 Pods, Dorm Room 4 Pods sudah penuh. Hah? Artinya, kami bakal tidur satu kamar dengan empat orang asing lainnya. O-em-ji. Walau beda kasur dan disekat-sekat, tetap saja saya risih bayanginnya.

Cukup lama kami menunggu proses check in di Resepsionis sampai mendapatkan akses pintu masuk dan kunci lemari. Tempatnya memang imut-imut, tapi keamanannya cukup yahud. Pintu masuk utama hanya bisa dibuka oleh tamu yang memegang akses, jadi orang luar yang tidak berkepentingan dilarang masuk

Kami masing-masing membayar IDR 125,000 per orang untuk biaya penginapan plus deposit IDR 200,000 yang akan dikembalikan ketika check out. Menurut saya deposit di sini cukup mahal dibanding Hotel bintang 3/4 yang pernah saya tempati, dengan rata-rata depositnya tidak sampai seratus ribu. Untungnya peralatan dan fasilitas di The Packer Lodge lengkap banget. Resepsionis bilang, handuk bersih ada di dalam lemari kami, selimut bersih ada di dalam Pods, sabun dan shampoo juga sudah tersedia di kamar mandi bersama, tamu tinggal bawa sikat dan pasta gigi saja. Sarapan roti, susu, teh/kopi disediakan setiap jam 6-10 pagi.

Akses dan kunci sudah kami dapat, mari kita eksplorasi setiap sudut tempatnya!

Ketika masuk ke Hostel, pemandangan pertama yang akan tamu lihat adalah Mading dan coretan tangan testimoni dari tamu-tamu lokal maupun mancanegara yang sudah menginap di sini. Lucu-lucu, deh, tulisannya tidak cuma Bahasa Inggris.

mading, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Mading di dekat pintu masuk The Packer Lodge
coretan-diding, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Coretan tangan di dinding dan kertas dari tamu mancanegara

Di depan meja Resepsionis ada hiasan Pohon Natal dan kabinet berisi banyak Postcard Jakarta. Saya nyesel lupa beli postcardnya ketika check out, padahal dari pertama kali lihat sudah niat banget mau beli 3 lembar. Bagus-bagus, ih! Balik ke sana lagi apa?

pohon-natal, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Hiasan Pohon Natal dan Postcard yang diperjual-belikan

Sampai di kamar kami langsung bebenah, ganti baju, ada juga yang mandi. Ternyata bayangan saya tentang Room yang nyampur-nyampur dengan tamu asing lainnya tidak semencekam itu. Kamarnya rapi, Podsnya juga cukup privasi dengan penutup kain yag bisa dirapatkan. Masing-masing Pods disediakan kasur empuk lengkap dengan sarungnya, kipas angin, lampu penerangan, colokan, hanger, dan brankas penyimpanan berkunci.

Pods saya dan bentuk Dorm 8 Pods secara keseluruhan

Selesai bebenah saya mau keliling Hostel, ah. Tangan gatel banget ini mau foto-foto spot unik yang ada di tiap lantai. Yuk, langsung jepret!

Interior Lantai Dasar

Di lantai dasar hanya ada dua Privat Room di samping ruang resepsionis, sisanya adalah rungan managemen dan kamar mandi bersama lantai 1. Di dekat tangga ada tempat penyimpanan alas kaki. Semua tamu tidak diperkenankan menggunakan alas kaki di dalam Hostel, lantainya jadi bersih banget, lho.

mural, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Mural unik yang Jakarta banget ada di setiap dinding
old-motorcycle, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Motor Jadul tahun 1980an?


Interior Lantai 2

Lantai dua hanya dipenuhi hiasan dan properti bernuansa batik. Saya tidak banyak Eksplorasi di lantai yang paling sepi dibanding lantai-lantai lainnya ini.

old-bycylce, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Sepeda Ontel lengkap sama baju adat jawa dan blankon
batik, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Lukisan-lukisan batik memenuhi dekorasi di lantai 2


Interior Lantai 3

Selain Room, lantai tiga ini digunakan sebagai ruang hiburan. Ada papan Karambol, ada dua PC dengan sambungan internet yang cepat, dan Home Theater lengkap dengan kaset-kaset DVD. O, iya, saya belum cerita ya kalau semua lantai dan kamar terkoneksi Wifi? Colokan juga ada di mana-mana, enggak bakalan mati gaya, deh.

karambol, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Papan Karambol, tapi enggak ada yang mainin :p
entertainment-room, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Dua PC dengan koneksi Internet cepat
home-theater, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Home Theater lengkap
dvd, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Koleksi DVD dan majalah


Interior Lantai 4

Nah, ini dia lantai paling atas, lantai yang paling ramai. Di lantai ini hanya berisi satu Dorm Room 8 pods dan dua Dorm Rooms 4 Pods, serta dapur dan kantin yang luas. Di depan dapur ada Smooking Room yang segar. Pengelola meletakkan banyak tanaman hijau dan burung kecil di sini. Jadi walaupun judulnya "smooking Room" justru menjadi spot paling asri. Smooking Room, tempat di mana flora, fauna, manusia, dan asap rokok berbincang mesra. #azhek

smooking-room, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Smooking Room di lantai 4 dengan atap terbuka. Ini apik tenan!
Seruput Mie-nya, Mas!
kitchen, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Dapur yang rapi, bisa bikin indomie dan ambil air minum sesuka hati

Sampai jam 8 malam kami berempat masih duduk-duduk di dapur, masak Indomie dan nyemilin Chiki. Jangan khawatir sulit cari makan, ya. Jalan Gajah Mada lumayan ramai dengan Resto dan jajanan kaki lima ketika malam. Indomart dan Sevel juga dekat dari Hostel.

Santai-santai di Pantry menunggu tengah malam

Tiga teman saya dengan kemampuan Bahasa Inggris yang sejajar ekspatriat ini, cepat banget beradaptasi dengan semua penghuni di Lantai 4. Kebanyakan dari mereka memang turis asing, orang lokalnya hanya kami berempat dan dua orang wanita lainnya yang akan lanjut plesir ke Jogja besok pagi. Dari semua tamu, kami banyak ngobrol sama:

1. Max dan Ood. Travelers dari Colorado, US. Mereka adalah rekan sejawat sejak usia 10 tahun, saat ini usia mereka 21 tahun. Mereka baru saja lulus kuliah dan sedang menikmati hidup keliling Asia sebelum memetuskan untuk bekerja. Ketika ditanya, "dari mana kalian mendapatkan uang sampai bisa keliling Asia?" Mereka jawab, dari hasil part time selama kuliah. Luar biasa! Sedangkan saya musti nunggu tugas dari kantor dulu baru bisa jalan-jalan ke Bangkok tahun 2014 lalu. Hahaha. Max yang lebih tinggi badannya kuliah jurusan Ekonomi sedangkan Ood yang kayak Ed Sheeran kuliah jurusan Science. Saya belum pernah bertemu dan bercakap-cakap dengan turis sebaik dan se-humble mereka.

2. Adam. Traveler kewarganegaraan Polandia. Walau Bahasa Inggrisnya tidak terlalu lancar, tapi saya salut sama Adam yang mau mingle dengan semua tamu. Adam berusia sekitar 50 tahunan dan sudah tidak bekerja. Tujuan hidupnya adalah menjadi seorang Traveler. Adam hidup memanfaatkan tabungan yang dikumpulkannya sejak bekerja dulu. Dia berjalan dari satu negara ke negara lain tanpa rencana dan tujuan yang pasti. Orang seperti Adam sering saya temui di buku-buku, tapi baru kali ini saya bertemu sosok asli traveler nomaden. Bayangkan, Adam berjalan kaki dari Hostel ke Ancol dengan mengandalkan Map saja. Ketika saya tanya, untuk apa ke sana? Dia menjawab, "saya hanya ingin melihat Dermaga." Ckckck.

3. Gerrit. Traveler kewarganegaraan Netherland, alias Belanda. Sama halnya dengan Adam, Gerrit adalah pengangguran yang melancong berbulan-bulan keliling Asia dari uang hasil bekerja beberapa tahun sebelumnya. Gerrit tidak pernah merencanakan perjalanannya, dia memesan pesawat dan hotel on the spot sambil melihat referensi dari website The Lonely Planet. Gerrit bilang menjadi "Traveler Spontan" paling cocok untuknya. Ketika daerah yang didatanginya begitu buruk, dia hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Namun ketika derah yang didatanginya begitu indah dan mengesankan, itu menjadi sebuah rejeki untuknya.

Gerrit sangat tinggi, teman saya Janah yang imut-imut itu hanya seukuran pinggangnya. Waktu kami ngobrol, dia sempat bertanya kenapa banyak orang lokal yang memintanya untuk berfoto bersama? "Hahaha. Poor you! That's because you are tall, blond, and has blue eyes. Indonesian Poeple get more atractive with Kompeni!" :))


Manajemen Hostel membuat event tahun baru di garasi, semua tamu yang menginap dapat terompet gratis. Kebetulan saya juga bawa lima pak kembang api buat lucu-lucuan. Hehehe. Pengelola memang baik banget, deh. Mereka memandu kami semua menikmati pesta kembang api di jalan raya bersama warga sekitar. Ini sungguh perayaan malam tahun baru paling meriah buat saya. Terima kasih, The Packer Lodge!

happy-new-year, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
Happy New Year Everyone! Max, Ood, Me, and Janah
Dua bocah maen kembang api sementara Janah lagi prospekin Si Ed Sheeran. :))
Wefie for New Year's Eves

Pukul dua pagi, kami semua siap-siap kembali ke Pods masing-masing. Turu sek!

Selfie dulu sebelum Bobok :p

Hari pertama di tahun 2016, saya susah banget bangun tidur (padahal mah tiap hari juga susah. Pencitraan aja, lu!) Sampai Jo berkali-kali gecek ke Pods saya dan nyuruh cepat-cepat mandi. Jo bilang, sebelum kami pulang, Si Duo Max-Ood dan Gerrit mau jalan-jalan keliling kota dan Museum Fatahillah. Wuihh... jadi guide-nya bule-bule sehari.

pecinan, hostel, the-packer-lodge, jakarta, kota
China Town dan Novotel persis di sebelah gang Mangga

Setelah sarapan di China Town, kami semua meluncur langsung ke arah Stasiun kota pakai angkot. Belum pernah, kan, seangkot sama bule-bule? Saya pernah, dong! Mereka excited banget sampai direkam dan diupload ke Snapchat-nya. Hahaha. 

Ada Bule naik Angkot!

Memutuskan untuk ke Museum Fatahilah saat Tahun baru adalah kesalahan besar, saudara-saudara! Penuh sesak manusia dan tidak ada satupun Museum yang buka. Mana si Gerrit jadi korban masyarakat-yang-ngebet-banget-pengen-foto-sama-bule lagi. Hahaha, again?

Enggak sampai 15 menit kami semua memutuskan kembali saja. Niat awal pulang dengan busway tapi urung, enggak kuat antrinya, jadi kita melengos jalan kaki. Sepanjang Gajah Mada dihibur sama bau pesing dan pedagang benda antik.

Pedagang benda-benda antik dan lukisan di sepanjang jalan Gajah Mada

Ood bertanya, apa saya enggak merasa susah hidup setiap hari dengan banyak manusia dan lingkungan yang kotor? Huahaha. Saya jawab, "saya sudah terbiasa setiap hari berdesakan naik busway dan lihat jalanan kotor penuh sampah. Mungkin kamu perlu juga mengunjungi India, di sana tidak jauh beda dari Jakarta, bahkan lebih kotor."

Saya bingung itu bule-bule ngeluh kondisi Jakarta tapi mukanya kok bahagia banget. "it's kind of adventure!" katanya si Ood. "Yes, I got an adventure almost everyday." kata saya dalam hati.

Akhirnya, selesai sudah acara jalan-jalan kami siang itu. Kami harus mengantar tiga abang bule ini sampai ke depan Gang Mangga lagi. Sorenya, Max dan Ood akan melanjutkan perjalannya ke Jogja. Sedangkan Gerrit menuju Beijing esok harinya. Semoga akan ada waktu kami berempat bisa mengunjungi US dan Netherland, ya. Ada amin? :D

Wefie sebelum perpisahan. See you around, boys! Si Janah ilang.

The Packer Lodge @ Gg Mangga
Jl. Kemurnian IV no. 20-22
Jakarta Barat 11120
Tel: +62 (21) 6290162
Email:tpl.reservation@thepackerlodge.com

23 comments:

  1. emang kalo udah bersih pasti nyaman ya

    ReplyDelete
  2. Seru banget acaranya!
    Pasti tidak terlupakan tuh..!
    Kalo nanti Jakarta uda bersih banget, mereka mungkin akan stay di sini.. Hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahaha.. janganlah, biar mereka di sana aja. udah kepenuhan Jakartanya. :p

      Delete
  3. Wah, seru ya petualangannya

    ReplyDelete
  4. Kadang pesing dan kotor itulah yang membuat bule-bule itu balik lagi. Hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya di negara mereka gak ada yang kayak gini, ya? :))

      Delete
  5. unik lho ini...berasa bukan di jakarta ajaah hahaha

    ReplyDelete
  6. Podsnya itu kalo interiornya warna putih semua udah mirip hotel kapsul di Jepang. Baru tau di Jakarta ada yang begini juga xD

    (( banyak backpacker bulenya)) eh malah beneran ketemu dan berteman :p
    Keren kak Apriiii semoga bisa gantian ngunjungin yang lain xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. AAMIIN KENCENG BANGET! Hahaaha. Eh tapi kayaknya pods kapsul di Jepang lebih sempit dari ini deh. Di sini kita masih bisa guling-guling kanan-kiri lho. :D

      Delete
  7. Hostelnya bagus ih kak dan terbilang cukup ramah sama kantong juga sih.
    Hihi kesampean ya kak malam taun baru sama bule (loh?)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu bukan niat awalku, kok... suer deh :p

      Delete
  8. Aku taun baruan malah tidur. Berasa jompo hahaha.
    Tapi asyik juga ya bisa dapet pengalaman yg beda di tahun baru :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun seringnya begitu,li.. huahaha. Kemaren ini lagi ganjen aja pada mau ke luar. :))

      Delete
  9. Aku malah gak pernah ketemu bule, apalagi kumpul ma mereka. Wkwkwk.
    Seru banget, ya?

    ReplyDelete
  10. baru tahu ada "kapsul" di Jakarta,,
    Iya... kayak di Jepang itu yaa..
    So... seru...

    ReplyDelete
  11. wah diangkkott sama buleee pernah jugaaa tapi lupa gak heboh kamera t.t aaahhh kece absi yah kalo dibikin blog ternyata mantap euuyyy.....

    ReplyDelete
  12. lucu hostelnya, kalo ga inget punya anak pengen deh sekali-sekali nginep di pods begitu hehehe
    salam kenal yaaa

    ReplyDelete
  13. *terdampar disini jam segini, dari tadi belum di close2 juga ini blog* #LOL

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)