20 October 2015

Jelajah Sejarah di Museum Purbakala Sangiran




Tepat seminggu kemarin saya plesir ke Solo dengan tujuan wisata utama: Museum Purbakala Sangiran, atau dunia internasional mengenalnya sebagai Sangiran Early Man Site. Terletak di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Museum Purbakala sangiran berjarak tempuh kurang lebih 17 km, dengan durasi kurang lebih 40 menit mengendarai kendaraan dari kota Solo.

Saya berangkat Senin siang, ketika sudah sampai di tempat, ternyata tutup. Iya, Museum Purbakala Sangiran tidak dibuka pada hari senin. Salahnya saya tidak mencoba googling atau cari tahu dahulu sebelum memutuskan pergi. Berikut jam operasional Meseum Purbakala Sangiran:
Senin: Libur
Selasa - Minggu: 08.00 - 16.00
Jam buka tiket: 08.00 - 15.30 (setengah jam sebelum Museum tutup)
Harga Tiket Masuk: Domestik Rp 5,000 / Foreigner Rp 11,500

Niat saya sudah begitu bulat melihat salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO di Indonesia, jadi Selasa pagi saya kembali mengunjungi Museum. Pagi maupun siang ternyata hawa di sana sama saja, panas sekali. Entah sedang musim panas atau memang tanah di sana yang gersang, saya menyarankan jika teman-teman berniat untuk berkeliling ke semua Museum Purbakala Sangiran, kenakanlah baju yang nyaman dan penutup kepala.

Baru saja saya sampai di muka gang menuju pintu masuk, akses jalan sudah sangat macet. Ternyata ada beberapa sekolah yang mengadakan touring. Ruas sisi jalan menuju Museum dan lahan parkiran umum penuh dengan bus besar, bus sedang sampai angkot kecil. Ketika masuk ke pintu utama pun saya harus berdesak-desakan dengan banyak anak kecil. Untungnya anak-anak kecil, saya enggak kebayang kalau Museum itu benar-benar dipenuh-sesaki oleh orang dewasa.
Jalan, Kunjungan, Trip, Sekolah, Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia

Walau penuh sesak, kalau sabar, pengunjung masih bisa foto-foto di luar dan dalam Museum. Sejepret-dua jepret penampakan luar Museum bisa saya abadikan.
Jalan, Kunjungan, Trip, Sekolah, Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia
Museum Sangiran sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO nomor 593
Jalan, Kunjungan, Trip, Sekolah, Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia
Jenis tanah di Sangiran
Masuk kebagian utama museum yang pertama kali kita lihat adalah gambar dua dimensi dari teori evolusi manusia. Banyak anak sekolah yang melihat-lihat, mencatat, dan mengambil gambar untuk mengisi bahan tugas sekolah mereka.
Jalan, Kunjungan, Trip, Sekolah, Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia
Contoh adek-adek sekolah yang tekun mengamati
Seharusnya yang tua-tua jangan kalah sama antusiasme adek-adek ini. :( 
Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia
Fosil Banteng Purba. Lihat tanduknya menyatu langsung dengan kepala.
Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia
Fosil tengkorak Gajah Purba yang masih bisa diselamatkan
Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia
Satu-satunya fosil yang dapat kita sentuh
Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia
Ilustrasi dua ilmuan yang sedang meneliti situs purbakala Sangiran
Selain berisi fosil, patung dan juga ilustrasi situs Sangiran, Museum juga dipenuhi oleh cerita-cerita sejarah dunia mulai dari pembentukan alam semesta, bumi, dan awal mula kehidupan di bumi kita tercinta ini.
Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia
Teori asal mula dan tersebarnya jenis manusia purba
Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia
Dua contoh patung manusia purba yang ada di Indonesia. Gambar sebelah kanan adalah jenis Homo Floresiensis atau dikenal sebagai "Hobbit"
Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia
Dokumentasi kesibukan peneliti dan warga di galian situs
Perjalanan saya tidak berhenti di Museum utama ini saja, ternyata Museum Fosil Sangiran memiliki lima Klaster / anak Museum yang mengelilingi lahan Sangiran dan dapat kita kunjungi tanpa tiket masuk, alias gratiss. Perjalanan ke tiap-tiap Klaster bisa menempuh jarak 3-4 Km. Lima Klaster tersebut adalah: Klaster Bukuran, Manyarejo, Dayu, Ngebung, dan Krikilan. Perbedaan kelima Klaster tadi dapat dibaca di sini: YUK MENGENAL KLASTER-KLASTER MUSEUM DI SANGIRAN

Sayangnya saya hanya sanggup mendatangi dua Klaster saja, yaitu Klaster Bukuran dan Klaster Manyarejo. Informasi lengkap mengenai perbedaan dua Klaster yang saya kunjungi sudah dijelaskan pada link di atas.

Pada Klaster Bukuran bangunan dan isinya terkesan sangat hi-tech. Saya dapat melihat empat kamar kecil untuk menonton channel televisi National Geograhic yang memuat fenomena pembentukan bumi sampai terciptanya manusia sekarang, dengan durasi tidak lebih dari 1 menit. Dan patung-patung yang lebih modern serta kutipan-kutipan para ilmuan. Buku kuno teori evolusi Charles Darwin juga dipajang di dalam Klaster ini.

Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia
Pintu masuk Klaster Bukuran yang megah
Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia
Mejeng di spot lucu Klaster Bukuran :D
Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia
Buku teori evolusi Charles Darwin dan Ilustrasi manusia purba bentuk digital
Sedangkan Klaster Manyarejo dibuat sebagai apresiasi warga terhadap ilmuan yang meneliti di situs-situs purbakala Sangiran. Warga sangat mendukung setiap gerakan penelitian yang ada di wilayah Sangiran. Pada Klaster ini kita tidak lagi melihat display atau fosil purba melainkan perkakas dan alat mencangkul yang digunakan warga dan peneliti dalam upaya menemukan setiap celah fosil baru. Ada juga foto-foto peneliti yang diabadikan, dan galian situs yang dibiarkan untuk pengunjung.

Museum, Sangiran, Purbakala, Fosil, UNESCO, Indonesia
Contoh situs purbakala dan fosilnya yang dibiarkan untuk dipertontonkan pengunjung Klaster Manyarejo
Demikian kunjungan singkat saya di Museum Fosil Sangiran. Belum lengkap sebetulnya jika tidak mengunjungi setiap Klaster yang ada, tetapi apa daya badan saya manja sekali dengan cuaca panas. Semoga ada kunjungan berikutnya yang bisa menuntaskan rasa penasaran. Satu kutipan bagus dari Museum Purbakala Sangiran yang saya bawa pulang, adalah:


Ayo ke Museum!

26 comments:

  1. Masuk wishlist nih mba Aprie.. nice review ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeay! Ditunggu review kunjungannya, Mbak. ;)

      Delete
  2. wah bagus juga ya, aku suka sekali ke museum setiap datang ke suatu kota pasti yg dicari museum dulu baru kuliner

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, epik Mba Museum Purbakala Sangiran ini. Kalo mampir Solo bisa kulineran sekaligus ke Museum. :D

      Delete
  3. wow luas juga, masing2 klaster 3-4 km, kalo 5 berarti 15- 20 km, itu 40 menit naik motor lho.... luasnyaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Lima Klaster itu memamg mengitari kawasan Sangiran. Kalau hawa sedang panas memang berasa banget naik motor...

      Delete
  4. inget jaman nya waktu SMP aku pernah ke museum meneliti ceritanya hehe,,
    ternyata semakin masuk perubahan jaman wujud manusia semakin sempurna ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, karena tantangan hidupnya semakin rumit. Tapi bisa jadi manusia masa depan malah semakin bungkuk, menunduk terus liatin HP hobinya. :))

      Delete
  5. Informasi lengkap mengenai perbedaan dua Klaster yang saya kunjungi sudah dijelaskan pada link di atas. ---> blogger males ngetik. gantian demo
    brati klo enggak blajar, enggak kreatif dan suka mengulangi kesalahan, brarti bukan manusia ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Yoi! Blogger males ngetik.
      disebut manusia juga sih, tapi purba. :p

      Delete
  6. murah bingit harga masuk nya ya.. aku juga suka menjelajah museum.. tapi masih di sekitar jakarta aja, dan itu juga belum semua nya, jedol bingits gak sehh jalan jalan ke museum.. tapi aku sih suka yang purba purba begini hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, asih murah Mba. Makanya ramai terus.
      Masuk ke Museum itu syahdu dan sepi, enak banget. :D

      Delete
  7. Wah ini nih yang sering dibaca di buku sejarah, manusia sangiran... tapi belum pernah ke solo, jadi belum pernah ke sana... semoga kalau suatu saat ke sana bisa mampir...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Pak. Ini yang sering disebut-sebut buku sejarah dunia bahkan.
      Amin, semoga cepat mampir ke sana.

      Delete
  8. Belum pernah ke Solo >.< kalau sempat ke Solo wajib mampir ke sini nih u.u Itu yang katanya Hobbit, Lucy bukan? Yang katanya ibu pertama manusia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga cepet mampir Solo :)

      Itu Homo Floresiensis, manusia Hobbit. Kalau menurut keterangan di Museum, jenis ini masih dipertanyakan asal-usulnya karena gak termasuk rantai asal-usul Homo Sapiens.

      Delete
  9. Jadi ingat waktu SD sering banget pengenalan lingkungan ke museum dari sekolah xD
    Kalau nyengajain ke museum emang belum pernah huhu :')
    Ada rencana mau ke museum sih tapi ga jadi mulu xD
    Suka bingung kalau ke museum soalnya sepi dan kadang ga tau ticket boxnya dimana.. Hahaha....

    Itu yang klaster Bukuran kayak di kampus kampus gitu ya gerbangnya xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo aku justru suka Museum karena sepi. :)
      Iya, Klaster Bukuran itu bangunannya megah.

      Delete
  10. wah pesan" terakhirnya bagus ya mbak hehe ke tembak akuhhh.;... hehe sejarah yah?? kenapa ya saya g terlalu demen hadeehh payah saya nih hadooo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya gapapa, kan setiap orang punya keminatan masing-masing kalau traveling. Hehe.

      Delete
  11. Wah,,, mengingatkanku pada zaman sekolah dulu, pokoknya kalau study tour pasti ada ke museumnya dan suruh catat buat laporan,,,, sekarang malah senang ke Museum,,,, Museum ini sudah lama masuk ke warisan dunia, tapi malah terlewatkan belum tak kunjungi,,,, Btw gambarnya bagus mbak Apri, mantebe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo, Mbaknya, semoga bisa berkunjung ke sana lalu foto-foto dengan gambar yang lebih bagus. :D

      Delete
    2. Aduh mbak,,,, ma'af, saya bukan perempuan, tapi laki - laki,,,, hehe,,, Iya mbak, semoga suatu saat nanti bisa kesana,,, :-)

      Delete
    3. Hahaha. Maaf ya, saya salah paham. :))

      Delete
  12. waah, dapet kesempatan ke klaster yg lain yah mbak? beberapa waktu lalu sy kesana juga, tapi sayangnya nggak sempat ngunjungi klaster 2 & 3 :( katanya koleksinya nggak sebanyak yg di klaster utama yah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Koleksinya memang gak sebanyak klaster utama, tapi lebih unik. Sayang aja kalau udah mampir sangiran tapi gak muter-muter. :)

      Delete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)