24 November 2013

Setelah Menonton Teater

Tepat minggu kemarin, 17 November 2013, pada jam ini saya sedang ada di TIM, menonton pertunjukkan teater Koma bertajuk Ibu yang tampil di hari terakhirnya. Ibu yang diadaptasi dari naskah Bertolt Brecht - Mother Courage and Her Children, menceritakan tentang Ibu Brani dan ketiga anaknya. Mereka adalah pedagang gerobak keliling di tengah medan perang yang tidak berkesudahan. Jika sedang berjualan di kasawan Matahari Putih, maka Ibu Brani akan memasang bendera Matahari Putih di gerobaknya, pembeli barang dagangannya sudah pasti tentara dan pasukan Matahari Putih. Begitu pun sebaliknya, jika mereka sedang berjualan di kawasan Matahari Hitam. Ibu Brani memanfaatkan keadaan perang agar memperoleh keuntungan dari gerobak jualannya. Tapi, adakah yang benar-benar diuntungkan dari sebuah konflik? Sang sutradara - N. Riantiarno menuliskan pada buku panduan teater yang dibagikan saat pertunjukan, bahwa alasan dia memilih naskah Bertolt Brecht untuk ditampilkan adalah untuk menjawab isu Pemilu yang akan diselenggarakan 2014 nanti. Isu yang nyentil. Maka pada Maret 2014 nanti, bertempat di TIM juga, keluarga teater Koma menjanjikan penonton kala itu untuk datang kembali melihat pertunjukan mereka dengan tajuk yang berbeda. Yang bikin saya penasaran. Yang pasti akan buat saya menangis lagi ketika pertunjukan usai dan tirai ditutup.

Pertunjukan yang seperti itu selalu membuat saya terharu. Bukan karena bagusnya cerita atau megahnya panggung, tetapi passion pemainnya yang selalu buat saya iri. Melihat mereka menari-nari, berteriak-teriak di atas panggung, dan melagukan naskah yang sama selama setengah bulan berturut-turut. Apalagi yang tidak membuat mereka kebosanan melainkan cinta? Sama harunya ketika saya melihat dua empu sastra di Teater Salihara tepat empat minggu yang lalu. Leon Agusta, penyair yang sudah renta bahkan berjalan saja musti dipapah, tetapi pembacaan puisinya sanggup membuat semua orang bergeming. Bicara beliau sama seperti langkah kaki yang bisa diayunkannya saat ini, lambat saja, tidak berapi-api, tetapi sanggup membuat satu ruangan berkontemplasi. Putu Wijaya, hampir 70 tahun usianya, setengah badannya sudah habis dimakan penyakit stroke. Pasti kamu tidak akan tega melihat beliau berjalan ke tengah panggung dengan tongkat penyangga dan dipapah anak istrinya. "Oh. Seharusnya kakek-kakek itu istirahat saja di rumah!" Namun saya tak menyangka suaranya masih sama menggelegar seperti saat dia muda. Padahal dia hanya bisa duduk saja, air liur yang tidak sengaja selalu keluar dari bibirnya itu sesekali dilapnya dengan sapu tangan, bibirnya sudah lumpuh setengah. Beliau berteriak-teriak menghidupi naskah Merdeka yang dibacakannya. Tanpa melihat teks. Dia ingat. Luar biasa! Saya seperti menonton teater dengan banyak lakon dan iringan musik. Pembacaan naskah Merdeka bersama anak lelakinya mendapat tepuk tangan paling meriah.


Selesai menonton pertunjukkan Ibu, teman saya mengajak ke atas panggung. "Ayo naik!" Saya pikir tidak boleh, ternyata banyak yang naik untuk bersalaman dan berfoto dengan pemain atau dengan latar panggung. Saya canggung tetapi terkesima. Mereka, para pemain saling berpelukan haru. Tiba-tiba ada satu pemain yang mengajak saya untuk menyalaminya, kemudian dia menitikkan air mata. Ampun! Belum lagi kelopak mata ini kering seusai pertunjukan, saya disuguhkan lagi adegan seperti ini. Sama halnya setelah pertunjukkan para empu, saya menyalami Leon Agusta dan Putu Wijaya, cengkraman tangan mereka masih kuat, mereka sangat hidup. Berapa banyak manusia yang bahkan masih jauh lebih muda dari mereka di luar sana yang hidupnya tidak hidup? Selalu mengeluh dan mengutuki nasib. Banyak. Mungkin salah satu diantara mereka - si pengeluh itu, ada saya di dalamnya. Seniman, lakon, para sastrawan yang saya lihat, walau raga mereka hampir mati, jiwa mereka tetap hidup. They feed not only their body but also their soul.

Maka beruntunglah mereka para pemberani yang bisa memilih cara hidup yang mereka sukai, menjalani pekerjaan yang mereka cintai, dan menggeluti hobi yang mereka selingi. Iya, saya sedang iri. Iri yang membuat saya selalu menangis terharu melihat para pelakon menari-nari di atas panggung. Seharusnya saya bisa seperti mereka. Seharusnya saya bekerja dengan hasrat dan cinta seperti itu. Lalu saya membuat pembenaran-pembenaran atas nama realita hidup dan nasib buruk kepada cita-cita dan hidup yang tidak bisa saya kejar itu. Saya menjadi pasrah atas keadaan yang telah diberikan oleh nasib sekarang. Tapi saya lupa, apa saya tidak akan mengeluhkan hal yang sama jika keadaannya sekarang 'saya adalah seseorang dengan hidup dan pekerjaan yang sudah seperti saya cita-citakan?' Tidak mengeluhkan uang yang selalu kurang atau tidak mengeluhkan capek di badan sepanjang malam. Jangan-jangan saya juga mengidamkan menjadi karyawan kantoran? Yang selalu mendapat jatah uang setiap bulan dan kerjanya duduk di kursi kantoran dengan pakaian rapi. Ah lagi-lagi saya membuat pembenaran. Seharusnya jika saya iri melihat mereka yang hidupnya begitu hidup, maka jadi apa pun saya hari ini, hidup haruslah saya hidupi. :)






*foto dokumentasi pribadi

5 comments:

  1. Terima kasih telah menghargai teater dan orang2 yang menggeluti bidang itu. Saya pun terharu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, keep playing on ya. :)

      Delete
  2. nice post , ,
    salam kenal , , ,ditunggu kunjungan baliknya . . . :)

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)