17 October 2013

Salihara dan Sarasvati

Postingan ini merupa sebagai ucapan terimakasih saya kepada pertunjukkan sangat tidak biasa yang saya dapat secara cuma-cuma. Ucapan terimakasih saya kepada Salihara yang mendatangkan banyak sekali penyair besar Indonesia dan mancanegara ke dalam teater kecilnya sampai akhir Oktober ini, yaitu acara rutin 2 tahunan Komunitas Salihara. Selain syair dan pepuisian ada juga beberapa pertunjukkan musik, teater dari mancanegara seperti Inggris dan Jepang, pameran seni rupa, sampai kelas tarot. Tahun 2013 ini mereka menamai acaranya "Sirkus Sastra".

Terimakasih Salihara untuk acara luar biasa ini. Akhirnya kami yang biasa duduk sebagai pembaca kertas berisikan cetakan syair-syair bagus, bisa juga duduk dekat menatap dan mendengar suara penyair seperti: Arafat Nur, Djaenar Mesa Ayu, Joko Pinurbo, Seno Gumira Ajidarma, Arswendo Atmowiloto, Putu Wijaya, Sitok Srengenge, dan lainnya secara live!

Sabtu, 5 Oktober 2013, tidak akan saya lupa pertemuan pertama kali saya dengan Joko Pinurbo, salah satu penyair yang saya penasaran sekali bagaimana bentuk rupanya. Bisa melihat dan didongengi puisi yang dibawakan oleh penulis aslinya, buat saya itu sudah lebih dari cukup. Jadi alangkah kurang ajarnya saya sebenarnya karena tidak memperhitungkan nama penyair selain Jokpin yang tertera pada daftar di hari itu, yaitu: Bamby Cahyadi, penulis yang merangkap sebagai manajer restoran besar cepat saji di Jakarta, yang saya ingat betul jawaban atas pertanyaan MC kepadanya, "mengapa menulis?" Bagi Bamby menulis adalah wujud penyeimbang jiwanya. Terdengar sama dengan judul Blog saya ya? hehe. Lalu ada Deddy Arsya, penyair kelahiran Bukit Tinggi yang syair-syairnya sangat kuat berisi tentang kekecewaan 'urang awak' pada masa silam. Ada juga Maria Peura, penulis cerita anak yang berasal dari Finlandia. Dia bercerita bagaimana kehidupan anak-anak yang ada di perbatasan Finlandia dan Swedia. Sepatu putih yang dikenakan Maria Peura akan saya ingat betul! Sayangnya tidak saya foto.



Sama nasibnya seperti tiga penyair selain Jokpin diatas, Sarasvati sebagai musik penghiburnya juga tidak saya ikut pertimbangkan. Padahal tujuan saya selain menulis tentang salihara adalah menuliskan tentang mereka. Bagaimana saya sangat terpukau oleh band asal kota kembang ini. Bagaimana bisa saya tidak terpukau? Membayangkan kedatangan 7 orang personilnya masuk ke podium panggung yang gelap dengan jubah panjang hitam gelap satu persatu saja sudah sangat dramatis buat saya. Lalu musik-musik horor mengalun, kemudian menyusul suara vokalisnya. MC menjelaskan sedikit tentang profil band ini: vokalisnya, yang biasa dipanggil Teh Risa, memiliki gift yang bisa berinteraksi dengan makhluk gaib sedari kecil. Risa sudah terbiasa bercakap-cakap dengan 'mereka', mendengarkan kisah mereka yang menyedihkan dan menuangkannya menjadi sebuah lagu. Bagi Risa mereka semua adalah teman. Teman yang bisa dipanggil kapan saja yang bahkan lebih manusiawi dibanding manusia itu sendiri. Mereka dapat takut. Mereka dapat sedih. Mereka dapat merasakan kesepian.

Saat lagu mengalun, tidak jarang Teh Risa memanggil-manggil nama mereka untuk ikut menonton bersama dan menemaninya. Teh Risa bilang, mereka suka pertunjukan. Kemudian, para penonton akan tertawa-tawa ngeri dan itu adalah sensasi menonton pertunjukan yang sangat seru buat saya. Anehnya saya tidak merasa ngeri walaupun suasana telah menjadi horor. Saya atau entah bahkan penonton lainnya merasa ikut berempati dengan mereka. Kisah hidup mereka yang kelam yang mungkin membuat mereka masih tertahan dan butuh teman, membuat kita kasihan.

Judul lagu seperti 'Ivanna' dan 'Story of Peter' adalah judul yang terinspirasi dari nama-nama mereka, teman bermain spesial Teh Risa. Dan di sinilah klimaksnya, pada judul lagu ke-9 yang band mainkan, 'Aku dan Buih', air mata saya sudah tidak sanggup lagi ditahan-tahan, ketika ditengah lagu Teh Risa menceritakan ada satu teman favoritnya yang bisa menari, namanya Canting.

"Cinta juga butuh logika. Jangan sampai menjadi sepertiku: kabur meninggalkan keluarga yang mencintaiku dengan lelaki itu. Maka jadilah aku di sini, tidak bisa menari ditonton oleh ratusan orang lagi." Itulah isi hati canting yang diceritakannya kepada Teh Risa dan diceritakan kembali kepada kami yang menonton pada malam itu. Saya miris, sedih, entah mengapa seperti ada yang menyesakan dada membuat tenggorokan saya kering tetapi mata terus saja basah.

Buih adalah nama anak yang dilahirkan canting. Buih hidup, Canting mati.

Separuh belikat
Terluka geletik luka
Menggentas kelopak
Angkara mengabur senja

Oh canting menari dengan rapuh
Diatas kain kelabu
Tertulis dengan jenuh
Melebur luka yg pilu

Seruan cerita
Antara aku dan buih
Mengantup prahara
Hamparan geluh menindih


I sing, I cry, I play my part, saya rasa memang jargon yang tepat yang Sarasvati berikan untuk bandnya. Saya sadar belakangan kalau acara malam itu full booksampai beberapa orang harus puas menonton di lantaikarena dipenuhi oleh sebagian penontonnya yang adalah fans Sarasvati, Sarasvamily. Gairah menonton pertunjukkan yang seperti ini, setidaknya bisa membasahi jiwa-jiwa kering kami akan kebutuhan hiburan berkualitas di Jakarta. Hahaha, lebay ya? Maju terus band-band Indie Indonesia!

*sumber video dan gambar: Sarasvatimusic dan Salihara

13 comments:

  1. Ah Teh Risa, dari saat masih di Homogenic sampai sekarang ttp suka. Suka horror kalau nyeritain "temen-temen"-nya. Paling suka lagu "Bilur".

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya saya baru aja kenal mereka, dan suka. Paling suka "Aku dan Buih" :'D

      Delete
  2. Idih, postingannya bikin sirik deh. Kenapa aku ngga ikut nonton juga. :|
    Udah baca Novelnya Teh Risa blum? *sama aku juga belum :P*
    Semua lagunya keknya ngga ada yang ngga suka deh walaupun temanya penuh duka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga sirik sama kamu, Va. Di Bandung bisa liat Sarasvati kapan aja. :|
      Yuk, beli yuk novelnya! Dibaca sambil denger lagunya. Horor abis..

      Delete
  3. waduh saya pada gak tau tuh penyair2nya heheawambanget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Googling aja mas, siapa tau salah satunya ada yang bikin jatuh cinta. :)

      Delete
  4. waduh bahasa tingkat tinggi semua, gw harus bobo siang dl demi memulihkan tenaga setelah baca syair2nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak to? Abis baca syair terus bobok siang. :)))

      Delete
  5. wah saya kurang mendalami perihal sastra, nice info mbak

    ReplyDelete
  6. bikin ngiri nih, saya belum pernah liat live performnya Teh Risa, hiks hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga secepatnya bisa nonton live ya. \o/

      Delete
  7. pertunjukkannya betul-betul horor, baru lihat fotonya aja udah merinding, gimana klo nonton langsung ya

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)