29 June 2012

Jujur, Loyal, dan Pintar

Three wise monkey. Iwazaru, Mizaru, Kikazaru



Manajer ditempat saya bekerja pertama kali pernah berkata seperti ini, ada tiga macam tipe karyawan.
"pertama:
dia yang jujur dan loyal tetapi tidak pintar
kedua:
dia yang loyal dan pintar tetapi tidak jujur
ketiga:
dia yang pintar dan jujur tetapi tidak loyal"

Sampai sekarang kalau lagi iseng di kantor kadang masih kepikiran, kira-kira saya ini masuk tipe yang mana ya? 

Waktu pertama kali lulus kuliah D3 dengan idealisme mahasiswa yang masih melekat, tekad saya harus menemukan pekerjaan yang ideal di kali pertama. Padahal bekal yang saya punya hanya background kampus negeri terakreditasi B dengan ilmu kuliah yang kira-kira cuma 30% terserap (dikit amatt). Kurang lebih tiga bulan saya nganggur, mimpi pekerjaan dan perusahaan impian kandas sudah. Karena sudah tidak tahan kelamaan menganggur, pikir saya kali itu oke pekerjaan dan perusahaan apapun boleh lah asal gaji manusiawi. Saya terima tawaran teman utuk coba masuk ke outsourcing salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar se Indonesia. Ikatan kontrak yang tidak terlalu mengikat dengan atasan-atasan engineer yang jam kerjanya lebih fleksibel memberikan saya kesempatan untuk ekstensi kuliah S1 di tahun kedua. Dan memang kebanyakan teman kampus saya yang bekerja disini merasa nyaman karena waktu yang fleksibel (untuk ekstensi) dan fasilitas kantor yang mewah. Untuk ukuran gajipun masih diatas rata-rata standar gaji lulusan D3. Tahun ketiga saya masih bekerja di perusahaan yang sama tetapi di mutasi ke divisi lain. Ilmu admin, birokrasi dan finansial saya bertambah walaupun harus membuang gelar engineer. sembilan bulan saya bertahan karena ego dan lain hal akhirnya saya putuskan untuk keluar, mencoba peruntungan di tempat lain. Sekitar awal tahun 2012 saya sudah bergabung di perusahaan baru yang masih bergerak di lini telekomunikasi.

Yak segitu pengalaman kerjanya, balik lagi ke statement awal. Waktu pertama kali terjun ke dunia pekerjaan kira-kira saya ada di tipe pertama "jujur, loyal tetapi tidak pintar". Untuk dapat menyerap pengalaman dan ilmu maka saya buang jauh-jauh ke sotoy-an, lembur sampai tengah malam pun diladeni, bahkan ijin tidak masuk untuk interview di tempat lain saya katakan dengan jujur kepada atasan, akhirnya gak di ijinin juga sih (ya kali? situ aja yang o'on). Ditahun kedua bekerja di divisi lain kira-kira saya turun/naik tingkat ya? ke tipe kedua "loyal dan pintar tetapi tidak jujur". Kerjasama perusahaan dengan pemerintah dan birokrasi membuat semua orang dilingkungan seperti ini menjadi tidak boleh yang terlalu jujur (makanya jangan jadi PNS, haha...). Nah ditempat yang sekarang ini kira-kiralah di tipe yang ketiga "pintar dan jujur tetapi tidak loyal". Kenapa saya bisa pede bilang diri sendiri pintar, ya karena saya yakin saja saya pintar, masak pengalaman kerja tiga tahun tidak membuat pintar juga, miris amat. Loyality menjadi tidak terlalu besar di perusahaan ini, bekerja disini pun sebagai batu loncatan saja sampai saya lulus S1. Dan enaknya, jam kerja tidak terlalu mengikat dan tidak ada sangsi, yang penting KPI kerja harus terpenuhi.YES!

Berada di tipe yang mana tergantung pilihan Anda yang penting adalah kenyamanan, tetapi kadang bisa berbenturan juga dengan 'harus menjadi yang seperti apa' di tempat Anda sekarang. Karena kadang kemauan kita untuk tetap jujur, loyal dan pintar menjadi sia-sia dengan kondisi yang tidak mendukung. Kalau sudah galau begini ya pindah saja. Hemat saya, hidup itu singkat, sayang waktunya terbuang sia-sia pada kegalauan pekerjaan yang tidak worth. Atau jika Anda menyukai tantangan, lebih mulia lagi menjadi enterpreuner atau owner. *Lama-lama bisa ditimpuk masa ini, ngomong doang woii! coba situ maju duluan* :D

Jadi ingat perkataan mantan manajer saya juga "Bekerjalah untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain, atasan atau perusahaan". Perkataan beliau ini yang memberikan efek besar pada saya. Bahwa sejatinya manusia adalah untuk bekerja, bergerak, move on. Dan semua-semua hal yang dilakukan ketika bekerja itu adalah untuk kemajuan diri sendiri. Disamping naik gaji dan promosi.

Buat saya sekarang, mungkin idealnya kerja yang baik ya seperti ini. Ketika sosial life and work life seimbang. Walaupun pekerjaan saat ini bukan yang paling baik, tetapi saya terus mengusahakan yang terbaik untuk pekerjaan, dimanapun tempatnya (inget omongannya om manajer lagi kan). Dan tentunya saya akan masih terus mencari-cari kesempatan baik lagi, kesempatan dimana saya bisa mendapatkan keseimbangan antara jujur, loyal dan pintar hehe...

Karena kalau gak balance, dengan jujur dan loyal tanpa kepintaran saya akan jadi orang tolol seumur hidup dibawah ketiak bos terus. Dengan loyal dan pintar tanpa kejujuran kemungkinan besar ya jadi koruptor. Dengan pintar  jujur dan tidak loyal, hmm.. yang satu ini agak sulit, karena kalau posisinya dibalik saya yang menjadi HRD atau yang punya perusahaan, bakal menjauhi karyawan tipe begini.

Anyway, Pernah punya teman yang bekerja tapi ijasahnya ditahan, di bully atasan sendiri, atau dilarang menikah / hamil sampai waktu tertentu dan pemotongan gaji karena cuti atau telat absensi, atau yang lebih parah lagi di bayar dengan job desc yang tidak sesuai pada kapasitasnya. Miris bukan? peraturan dan hal-hal seperti itu bagi saya merugikan kita sebagai karyawan karena jauh dari manusiawi. Walaupun mereka yang bekerja sudah lebih beruntung dari mereka yang masih mencari pekerjaan di luar sana. kita do'akan.

No comments:

Post a Comment

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)