Jujur, Loyal, dan Pintar

Three wise monkey. Iwazaru, Mizaru, Kikazaru



Manajer di tempat saya bekerja pertama kali pernah berkata seperti ini,
"Ada tiga macam tipe karyawan di dunia ini. Pertama, dia yang jujur dan loyal tetapi tidak pintar. Kedua, dia yang loyal dan pintar tetapi tidak jujur. Ketiga, dia yang pintar dan jujur tetapi tidak loyal."

Sampai sekarang saya masih kepikiran, kira-kira saya ini masuk tipe yang mana, ya? 

Waktu pertama kali lulus kuliah D3 dengan idealisme mahasiswa yang masih melekat, tekad saya HARUS menemukan pekerjaan yang ideal. Padahal, bekal yang saya punya hanya background kampus negeri terakreditasi B. Kurang lebih tiga bulan saya nganggur, mimpi pekerjaan dan perusahaan impian kandas sudah. Karena sudah tidak tahan kelamaan menganggur, saya berfikir untuk menerima perusahaan apapun lah asal gajinya manusiawi.

Lalu saya diterima salah satu perusahaan outsourcing telekomunikasi terbesar se Indonesia. Ikatan kontrak yang tidak terlalu mengikat dengan atasan-atasan engineer yang jam kerjanya lebih fleksibel memberikan saya kesempatan untuk ekstensi kuliah S1 di tahun kedua. Gaji sebenarnya masih di atas rata-rata.

Tahun ketiga saya masih bekerja di perusahaan yang sama tetapi dimutasi ke divisi lain. Ilmu admin, birokrasi, dan finansial saya bertambah walaupun harus membuang gelar Engineer. Sembilan bulan saya bertahan, karena ego dan lain hal, akhirnya saya putuskan untuk keluar. Saya mencoba peruntungan di tempat lain.

(Baca Juga: Idul Fitri dan pekerjaan baru)

Sekitar awal tahun 2012 saya sudah bergabung di perusahaan baru yang masih bergerak di lini telekomunikasi.

Kurang lebih, itulah pengalaman kerja yang saya jalani saat ini. Balik lagi ke statement awal. Waktu pertama kali terjun ke dunia pekerjaan kira-kira saya ada di tipe pertama "jujur, loyal tetapi tidak pintar". Untuk dapat menyerap pengalaman dan ilmu maka saya buang jauh-jauh ke sotoy-an, lembur sampai tengah malam pun diladeni, bahkan ijin tidak masuk untuk interview di tempat lain saya katakan dengan jujur kepada atasan (walaupun pada akhirnya gak di ijinin juga sih. Hahaha)

Ditahun kedua bekerja di divisi lain, saya menjadi tipe kedua "loyal dan pintar tetapi tidak jujur". Kerjasama perusahaan dengan pemerintah dan birokrasi membuat semua orang di lingkungan kerja saya seperti itu. Semua karyawan tidak boleh yang terlalu jujur (makanya jangan jadi PNS! Hahaha).

Nah, ditempat yang sekarang ini kira-kira saya ada di tipe yang ketiga "pintar dan jujur tetapi tidak loyal". Kenapa saya bisa pede bilang diri sendiri pintar, ya karena saya yakin saja saya pintar. Pengalaman kerja tiga tahun harusnya membuat saya pintar. Loyality menjadi tidak terlalu besar di perusahaan. Sebenarnya, bekerja di sini pun sebagai batu loncatan saja sampai saya lulus S1. Enaknya kerja di sini, jam kerja tidak terlalu mengikat dan tidak ada sangsi, yang penting KPI kerja harus terpenuhi. YES! Makanya saya jadie enggak loyal-loyal amat.

Berada di tipe yang mana tergantung pilihan Anda, yang penting adalah kenyamanan, tetapi kadang bisa berbenturan juga dengan idealisme "harus menjadi yang seperti apa" di tempat Anda sekarang. Karena kadang kemauan kita untuk tetap jujur, loyal dan pintar menjadi sia-sia dengan kondisi yang tidak mendukung. Kalau sudah galau begini, saran saya ya pindah saja. Hidup ini singkat, sayang waktu terbuang sia-sia pada kegalauan pekerjaan yang tidak worth. Atau jika Anda menyukai tantangan, lebih mulia lagi menjadi enterpreuner atau owner. *Lama-lama bisa ditimpuk masa ini, ngomong doang, WOIY! Coba situ maju duluan. :D

Jadi ingat perkataan mantan manajer saya diakhir diskusi kami "Bekerjalah untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain, atasan atau perusahaan". Perkataan beliau ini yang memberikan efek besar pada saya, bahwa sejatinya manusia adalah untuk bekerja, bergerak, move on. Semua hal yang kita lakukan ketika bekerja adalah untuk kemajuan diri sendiri, bukan kemauan orang lain, disamping naik gaji dan promosi, ya. Hehehe.

Buat saya sekarang, mungkin idealnya kerja yang baik ya seperti ini: sosial life and work life seimbang. Walaupun pekerjaan saat ini bukan yang paling baik, tetapi saya terus mengusahakan yang terbaik untuk pekerjaan, dimanapun tempatnya (inget omongannya om manajer lagi kan). Dan tentunya saya masih terus mencari-cari kesempatan baik lagi, kesempatan dimana saya bisa mendapatkan keseimbangan antara jujur, loyal dan pintar. :)

Karena kalau enggak balance, jujur dan loyal tanpa kepintaran saya akan jadi orang tolol seumur hidup. Loyal dan pintar tanpa kejujuran kemungkinan besar ya jadi koruptor. Pintar jujur dan tidak loyal? Hmm... yang satu ini agak sulit, karena kalau posisinya dibalik saya yang menjadi HRD atau yang punya perusahaan, bakal menjauhi karyawan tipe begini.

Anyway, Pernah punya teman yang bekerja tapi ijasahnya ditahan, di-bully atasan sendiri, atau dilarang menikah / hamil sampai waktu tertentu, dan pemotongan gaji karena cuti atau telat absensi, atau yang lebih parah lagi dibayar dengan job desc yang tidak sesuai pada kapasitasnya. Miris bukan? peraturan dan hal-hal seperti itu bagi saya merugikan kita sebagai karyawan karena jauh dari manusiawi. Walaupun mereka yang bekerja sudah lebih beruntung dari mereka yang masih mencari pekerjaan di luar sana. Mari doakan mereka!

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment

Hai, terima kasih sudah berkenan mampir ke blog Aprijanti.com

Saya membaca setiap komentar yang masuk. Jika ada pertanyaan penting, mohon untuk cek kembali balasan saya pada postingan ini, ya! Mohon maaf untuk setiap komentar spam, judi, caci maki, dan komentar yang memiliki link hidup akan saya hapus. Salam. :)

INSTAGRAM