10 July 2013

Lucid Dream dan Sleeping Beauty

"Sana main sama kakaknya!" Lalu bocah kecil itu menghampiriku dengan malu-malu setelah diperintahkan oleh wanita paruh baya berkerudung hijau yang rasa-rasanya aku juga tidak kenal. Wanita paruh baya berkata dengan hanya menolehkan kepalanya ke arahku kepada bocah kecil itu – karena sedang sibuk keluar masuk dapur mempersiapkan makanan untuk semua tamu – sepertinya dia tidak mau diganggu.

Aku sedang duduk bersandarkan tembok pembatas dapur dan labirin menuju ruang tamu sambil memegang sendok dan kue black forest yang masih ada dalam cetakannya. Aku ingat, kue black forest ini mirip sepeti kue yang dibuatkan anak didikku sebagai hadiah ulang tahunku kemarin. Penuh dengan coklat. Permukaan kuenya dilapisi coklat dan pada setiap lapis kuenya ada lelehan coklat manis pula. Humm...

Disini sedang ada acara keluarga besar, di rumah kakaknya Ibu. Acara keluarga besar versi keluarga Ibuku adalah acara yang tidak hanya dihadiri oleh saudara-saudara kandung tetapi juga saudara-saudara yang bisa kubilang jauh, atau saudara-saudara dari nenek, bahkan sampai tetangga di kampung yang menetap di Jakarta dan bisa hadir dalam acara ini juga ikut bergabung. Kebayang kan berapa banyak orang dalam acara ini? Sebagian wajah yang sering kulihat saja yang aku kenal, lainnya tidak. Dan sialnya aku ini adalah contoh orang yang takut salah berbasa-basi dengan orang tua dan kurang nyaman berbasa-basi dengan banyak orang asing. Makanya lebih senang menghindari keramaian seperti ini.
Bocah lelaki di hadapanku sekarang usianya sekitar empat tahun, kurus, berkulit putih, rambutnya lemas bergelombang sampai ke leher mau ke pundak. Iya, rambutnya agak panjang. Mengenakan kaus berwarna orange dan celana panjang coklat muda. Belum pernah aku melihat wajah yang seperti dia sebelumnya. Bisa dipastikan tidak ada anak dari semua sepupuku yang berwajah dia. Dia tidak banyak berbicara banyak tersenyum. Kadang mondar-mandir di depanku kadang hanya duduk di sebelah kananku. Saat dia sedang diam, kuajak berbicara sesekali sambil kusuapi kue black forest coklat ini. Ternyata dia tidak suka kue. Tetapi waktu kusuapi tidak menolak juga. Bocah aneh. Kuenya itu hanya diemut-emut dan dimainkan saja di dalam mulutnya. Persis aku seusia dia ketika disuapi Ibu nasi. Karena kapok, kue ini tidak kusuapi lagi, kucemili sendiri.

Aku jadi tidak tahu bocah ini maunya apa. Kenapa tidak main dengan teman sebayanya? Malah asyik sendiri denganku di dapur sini. Mungkin habis diomeli Ibunya? Bisa jadi. Atau habis bertengkar dengan bocah lainnya. Dia tidak agresif seperti anak-anak sepupuku: Jiji, Jeje, Rifky, Ridho yang kalau disatukan bisa jadi grup band Metalcore. Dia cute dan cool. Banyak tersenyum dan kalau ditanya maka jawabnya hanya singkat saja sambil malu-malu.

Lalu tiba-tiba dia meletakkan kedua siku dan lengannya di atas pahaku, di hadapan kue black forest yang masih kupegang ini. “Mau ini lagi?” Tanyaku. Dia menjawab dengan menggelengkan kepala sambil menatap mataku lurus-lurus. “Mau apa?” Tanyaku lagi. Masih tidak ada jawaban disana. Masih hanya dengan tatapan dan seulas senyuman saja. Lalu wajahnya makin bergerak maju ke arah wajahku. Sepertinya aku tahu apa maunya. Dia sulit menggapainya, maka itu aku yang menundukkan wajahku ke arah wajahnya. Kami berciuman. Di bibir. Biasanya aku senang dicium keponakanku karena mereka lucu, apalagi dengan Jiji yang memang wataknya centil. Tapi kali ini, setelahnya jadi agak canggung. Padahal dia hanya bocah kecil. Kenapa dia malu-malu. Aku jadi malu. Aku jadi canggung dengan wajahnya yang asing. Akhirnya karena ketidaknyamanan suasana, aku menyuruhnya meninggalkan dapur. Menyuruhnya menjauhiku saja menghampiri teman-teman kecilnya. Dia tidak menolak, masih dengan senyum yang sama kemudian pergi. Tiba-tiba aku merasa sepi juga ditinggal sendiri di dapur ini. Karena sebenarnya aku juga ingin ditemani. Seharusnya bocah itu tetap tinggal saja di sini. Mondar-mandir di depanku atau duduk di samping kananku.

Aku terbangun dari mimpi dengan perasaan kecewa. Ah... Sleeping beauty never awake without a kiss. Begitu pikirku menghibur diri.


Ini lagi-lagi cerita tentang mimpi saya. Saya senang menuliskan mimpi. Mimpi lebih menarik untuk dituliskan daripada kisah hidup saya sendiri. Hahaha

Pernah dengar tentang Lucid Dream? Atau Mimpi sadar (jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia). Kesimpulan yang saya ambil setelah mengalaminya sendiri dan kesimpulan dari artikel colongan google, Lucid Dream yang istilahnya pertama kali dipopulerkan oleh Psikiater Belanda, Frederik van Eeden, adalah mimpi dimana kita sadar sedang bermimpi. Kita sedang menjalani adegan demi adegan pada mimpi tersebut secara sadar. Jangan membayangkan Lucid Dream sebagai sesuatu yang terlalu ilmiah atau mimpi yang susah-susah seperti adegan di film Inception. Saya rasa, semua orang pasti pernah mengalaminya. Seperti mimpi sedang terbang. Kita jadi merasakan sensasi ketakutan dan kebahagiaan bisa terbang sekaligus. Untuk orang yang berani dan berimajinasi liar, biasanya dia bisa mengontrol mimpi tersebut sehingga bisa terbang kemana pun ke tempat yang ingin dia tuju. Seru bukan? Dan orang-orang seperti ini disebut Oneironaut, yaitu orang yang bisa bebas menjelajahi mimpi. Atau contohnya lagi ketika kedapatan sedang bermimpi seram. Berada di dalam Gua yang sangat gelap atau kecapekan dikejar-kejar hantu. Karena tidak menyenangkan biasanya secara sadar kita memutuskan untuk bangun saja, padahal sebenarnya kita bisa jadi Hero dalam Lucid Dream kita sendiri, dengan membaca ayat kursi biar setannya pergi, contohnya. Hehehe

Jadi, di dalam Lucid Dream seseorang punya emosi. Senang, sedih, kecewa, bahagia, seolah-olah sedang mengalami kejadian sebenarnya. padahal kita tahu kita sedang berada dalam sebuah mimpi. Berbeda dengan mimpi biasa yang hanya seperti sedang menonton adegan di televisi berlayar besar saja, kemudian ketika sadar kita lupa akan mimpi tersebut atau hanya ingat garis besarnya saja.

Buat saya pribadi Lucid Dream sering datang ketika akan menstruasi. Karena saya lebih gemar tidur dari pada bermimpi, jadi pasti akan mengeluh jika tidak bisa tidur nyenyak. Kesimpulan yang saya ambil sendiri, ketika mengalami Lucid Dream, seseorang akan menguras banyak energi karena waktu yang seharusnya otak pakai untuk istirahat jadi berkurang. Tetapi tidak sedikit juga yang senang bisa mengontrol Lucid Dream mereka. Mereka yang secara sengaja atau tidak sengaja mempunyai kemampuan untuk mengontrol Lucid Dream akan mendapatkan euforia yang tidak bisa mereka dapatkan dalam kehidupan nyata. Kapan lagi bisa merasakan sensasi terbang atau lompat dari lantai dua belas tetapi tidak mati. :D

Begitulah kira-kira sedikit tentang Lucid Dream. Apa Lucid Dream terakhir kalian?


for the complete information about Lucid Dream, you can read here

3 comments:

  1. Wah, mimpi yang aneh. Tapi, mungkin menyenangkan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. menyenangkan, walau kadang melelahkan :))

      Delete
  2. Wahh lucid dream, udah lama gak latihan hehe saya sendiri sepertinya belum pernah merasakan benar-benar dalam level lucid dream. Pernah bermimpi tapi masih dalam tahapan vivid dream *kata temen di kaskus(mimpi terasa begitu nyata, namun tidak tau kalau sedang bermimpi, dan semua berjalan otomatis.)

    mimpinya jadi kaya agen gitu, terus lagi dalam adegan kejar-kejaran, dengan gugup saya mencoba mengendarai sebuah mobil untuk lari dari kejaran musuh. mimpi tsb terasa begitu nyata, stir kemudi dan pedal gas begitu nyata saya rasakan apalagi deg2an nya :D

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)