11 April 2013

Tentang Cidera yang Disembuhkan oleh Kata-kata

Pada pelajaran mengenai anatomi tubuh, guru Biologiku pernah berkata "tulang ekor dan umbai cacing (usus buntu) adalah organ tubuh yang tidak mempunyai fungsi", dengan kata lain tidak berguna. Lantas mengapa dengan isengnya Tuhan ciptakan mereka kalau tidak berguna? Adakah hal yang sia-sia yang sudah diciptakan Tuhan? Pertanyaan seperti ini yang sering menyita waktu berpikir saya. Pertanyaan sepele yang saya mau ada jawabannya saat itu juga. Atau ingatan akan pertanyaan sepele ini tidak mau lepas dari kepala. 

Sampai saat ini saya masih ingat perkataan guru biologi itu, syukurnya dengan sudut pandang yang berbeda, saya menemukan jawaban yang versi saya. Tulang ekor dan umbai cacing adalah organ tubuh yang tidak bekerja, tidak berguna, katakanlah demikian. Kau akan stop mengatai mereka, sampai... Salah satu dari mereka mengalami cidera, kesakitan. Maka bukan organ tubuh yang tidak berguna tadi saja yang merasakan sakit, tapi juga seluruh tubuh. Berapa orang yang menderita perutnya, mulutnya, kerongkongannya kehausan tapi dilarang untuk minum dan berharap bisa kentut lekas-lekas setelah operasi usus buntu? Atau berapa orang yang tidak nyaman tidurnya, punggungnya, rusak percaya dirinya, karena tulang ekornya miring dan perlu banyak fisioterapi untuk meluruskannya kembali?

Bukan, saya bukan sedang terkena usus buntu ataupun kelainan tulang. Hanya cedera ringan pada otot tulang belakang yang mampu melumpuhkan aktivitas saya selama dua hari. Ringan, sampai-sampai yang bisa saya lakukan hanya menangis pada jam dua pagi. Ringan, yang membuat saya bersyukur teramat dalam bukan usus buntu atau kelainan tulang yang sedang menimpa badan. Ringan, semoga yang berat-berat dapat dilalui oleh mereka dengan ikhlas.

Tulang belakang, kamu bukan menjadi hal yang sepele lagi di kepalaku sekarang.

Tentang cidera itu, yang saya tanggapi secara berlebihan (saya memang selalu berlebihan dalam menanggapi penyakit. Ah, bukan penyakit saja, terhadap segala halnya saya selalu menyiapkan resiko yang paling buruk) ternyata cepat sekali tersembuhkan, mungkin karena cederanya ringan saja, trauma otot, kejang otot, muscle strain dan nama lain yang diberikan kepadanya membuat saya manja dan betah berlama-lama dalam keajaiban kata:

*Ibu yang selalu bilang pada setiap keluhan sakit saya, penyebabnya adalah diet dan kurang makan. Padahal bukan. Dilontarkannya lagi keluhan mengenai buruknya pola makan saya sambil mengelus-elus daerah tubuh yang sakit dengan balsem seadanya. Ibu, jarang melontarkan kata-kata manis tapi saya selalu suka dielus. Terimakasih, Mak.

*Sahabat saya yang seorang perawat tapi bukan perawat. Dialah orang yang selalu saya adukan ketika sakit. Dan dia pulalah yang bisa meredakan kekhawatiran berlebihan saya dengan pengetahuan kedokteran dan obat-obatan. Terimakasih, Rani.

*Percakapan sepele yang membuat saya terbahak atas komentar apa saja mengenai hal apa saja dalam dua kepala yang berbeda. Kiriman gambar ini contohnya: foto keluarga besar dengan orang tua cantik-ganteng sempurna yang memiliki tiga anak, masih bayi, balita dan belum dewasa benar, yang kurang mirip dengan orang tuanya. Pada foto itu tertulis "PLASTIC SURGERY you can't hide it forever". Terimakasih hiburannya, Icha.

*Jawaban santainya atas hasil rongent yang melegakan sekaligus meyakinkan saya kalau tidak terjadi apa-apa dengan tulang ekor. Terimakasih, Dokter Ari, Pramita Lab, Kebon Jeruk.

*Seseorang yang satu-satunya ada dipikirkan saya sekiranya dapat dimintai bantuan saat itu. Serta, dua setengah piring roti yang saya habiskan dengan rakus total membuat saya lupa kalau pantat sedang cidera. Terimakasih, Mas.

*Pesan yang menanyakan kehadiran saya kembali, karena ruangan kantor terasa sepi ditinggal dua hari. Mungkin sekedar basa-basi atau memang kehadiran saya berarti. Diperhatikan seperti itu membuat saya merasa lebih. Terimakasih, Mbak Rike, mbak Nita, kak Leni.

*Tulisan yang awalnya saya minta atas laporan mengenai workshop di Salihara Tentang Perempuan Pencipta Narasi yang tidak bisa saya hadiri karena sedang cidera, ini membuat terharu. Walau isinya bukan mengenai workshop, postingan ini tertuju buat saya, mendoakan saya semoga lekas sembuh. Terimakasih, Ika. :')

8 comments:

  1. Apriiiiee... cepet sembuh, terus kita ketemuan yaaa.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Na, makasih ya. Sekarang aku sembuh, mari kita ketemu :D

      Delete
  2. Semoga cepat sembuh dan semakin sering bersyukur mbak :D
    tjuandha.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. Syukurlah, sudah sembuh ^_^

    ReplyDelete
  4. hasil pemikiran yang keren.
    mudah-mudahan, semakin sehat dan nyaman. :)

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)