07 January 2013

Hurt People Hurt People



Ada yang pernah nonton filmnya Ben Stiller satu ini? Kali ini film serius, agak membosankan menurut saya. Terbukti dari banyaknya orang yang keluar dari bioskop padahal filmnya masih setengah jalan, kalau saya memilih nonton sampai habis, penasaran dan kadung tiket sudah kebeli juga haha.. (gak mau rugi). Sama seperti kebanyakan penonton dengan ekspektasinya Ben Stiller pasti film komedi, padahal ini film drama dengan alur sangat lambat yang mengisahkan hidup seorang pria berusia 40-tahunan yang menganggap dirinya masih remaja, tukang kayu, setengah gila karena over-analisis. Memiliki hobi yang aneh: mengirimi surat kritik kepada setiap produk yang dia anggap perlu dikritik. Contohnya surat yang dia kirim untuk Starbucks seperti ini "Dear Starbucks, in your attempt to manufacture culture out of fast food coffee you've been surprisingly successful for the most part. The part that isn't covered by 'the most part' sucks."

Ah.. Well,

Tapi saya bukan lagi mau ngomongin film, cuma ada salah satu quote di film Greenberg yang bagus dan saya ingat terus "Hurt People Hurt People". Pertanyaan saya, Why (often) hurt people hurt other people?

Saya jadi ingat kejadian di angkot rabu lalu. Ada seorang ibu yang ingin naik angkot kebetulan saya ada didalamnya. Sebelum si ibu berhasil masuk angkot, lewatlah pengendara motor ABG yang seenak jidat nyelip diantara trotoar dan angkot, mari kita sebut ABG itu dengan A. Sehingga si ibu yang ingin naik angkot tadi (kita sebut dengan B) jadi marah-marah, sempoyongan masuk ke angkot. Dan.. tidak sengaja menduduki penumpang disebelahnya. Orang sebelahnya? (mari kita sebut dengan C) Tentu menjadi tidak enak hati dan sedikit marah. Kelihatan dari wajahnya yang menampilkan ekspresi "ini si B kenapa sih masuk-masuk angkot kok rusuh". Saya yang duduk diseberang mereka jadi maklum melihat kejadian itu. Tetapi si C belum tentu maklum melihat si B, karena duduk membelakangi dan tidak melihat kejadian dengan jelas. See! Domino's effect here. Si A menyerempet B, kemudian B marah dan tidak sengaja membuat marah C karena sudah marah-marah. Marahception!

Saya jadi kepikiran lagi, Why (often) hurt people hurt other people?

Itu salah satu kejadian spontan, sama halnya ketika kita kena imbasnya orang-orang yang kebetulan moodnya lagi kurang bagus. Kejadian sehari-hari seperti itu pasti saya atau kamu sering alami, entah sebagai pelaku atau sebagai korban, yang dengan kata "maaf" saja sudah cukup untuk memperbaiki semuanya. "Eh, mba kedudukan ya? Maaf". "Mood gue lagi ancur seharian nih, maaf ya".

Tapi bagaimana kalau yang efeknya jangka panjang seperti ini:
Seorang yang putus cinta, terluka, tidak percaya cinta, menjadi player, melukai.
Korban sodomi, terluka, trauma dan dendam, menjadi pelaku sodomi, melukai.
Korban bullying di sekolah, terluka, marah dan sakit hati, menjadi punya kesempatan untuk, melukai.
 When Sorry didn't affect a lot, how to cut it off?

4 comments:

  1. sebuah ulasan yang bagus dan menarik... Semoga bermanfaat! Terus menulis! :D

    ReplyDelete
  2. yang paling umum itu kasus bullying, malah dijadikan tradisi

    ReplyDelete
    Replies
    1. djadikan lifestyle, makin tenar sekolahnya makin kenceng bullyingnya

      Delete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)