18 August 2012

Tanpa Muka



"There is a face beneath this mask, but it isn't me. I'm no more that face than I am the muscles beneath it, or the bones beneath that." ― Steve Moore, V for Vendetta


Dulu saya sering membayangkan gimana jadinya kalau manusia diciptakan tanpa muka, tanpa wajah, dan dalam bentuk tubuh yang sama semua. Kalau tanpa kaki atau tangan sudah ada. Kalau ada kepala tapi tanpa muka jadinya seperti korek berjalan gitu, hanya badan saja tetapi mukanya rata. Mungkin bisa dibayangkan bentuknya kurang lebih seperti tokoh robot dalam film I,Robot yang aktor pemeran utamanya Will Smith, aktor kesukaan saya. Cuma kalau robot badannya besi semua, yang saya bayangkan sih masih sama. Lembek daging merah berbalut ari tipis kekuningan, bukan keras besi dan lempengan. Pikir saya apabila manusia seperti itu semua, nanti tak ada yang jatuh cinta dengan keelokan rupa, tak ada "sebutan" ganteng, cantik, jelek atau biasa saja. Tak ada pula yang mempermasalahkan hari ini mesti pakai gincu warna apa. Semuanya adil sama rata?

Lalu bagaimana manusia tanpa rupa?
Maka penilaian kita terhadap seseorang sebatas sikapnya saja, respon dia terhadap sesuatu. 
Maka tak ada artis yang operasi plastik di hidung, mata, dan pipi yang entah karena tuntutan penggemar, manajemen atau kepuasan diri sendiri.
Maka tak ada headline surat kabar: Gara-gara Jerawat, Gadis ini Bunuh Diri.
Maka seseorang itu hanya bisa kita kenali dari bentuk tubuhnya saja, kalau bentuk tubuhnya sama semua, mungkin dia hanya bisa dikenali dari jenis suaranya saja, kalau jenis suaranya sama semua, ahh.. habis kata-kata saya.

Lalu dimana uniknya?

Pernah ada peristiwa yang saya alami, saat muka ini penuh noda jerawat (sekarangpun masih sih). Waktu itu di depan lift lantai dasar menuju meeting dengan salah satu PM project. Teman saya bilang, "kalau saya jadi kamu gak akan bisa pede seperti itu, dulu pernah waktu SMP jerawatan membuat saya menunduk melulu ketika dijalan, apalagi berpapasan.". Tertawa saja tanggapan saya "haha, lebay lo!" Bukankah itu berlebihan? Wajar juga sih, ketika itu dia sedang masa puber-pubernya. Sedangkan saya waktu puber mukanya seperti pantat bayi badak, tak dirawat apa-apa tak jerawatan pula. Kebalikannya sekarang. Kalau boleh jujur ya minder juga, apalagi ketika sedang berpapasan dengan orang-orang spesial. Beruntungnya saya diberkahi CPU usage otak yang kecil, yang tidak bisa memikirkan banyak hal sekaligus. Kalau memikirkan ini-itu dan persoalan jerawat tadi akan membuat penuh memory. Daripada nge-hang dan panas, maka saya alihkan saja memikirkan hal-hal yang lebih berguna. Tapi orang sekitar yang melihat perubahan sepertinya agak risih. Dahulu bagus - sekarang jelek. Dahulu mulus - sekarang bopengan. Karena hal itu semua juga, membuat saya berpikir kembali bagaimana kalau manusia diciptakan tanpa muka ya? Mungkin semua orang tidak akan mempermasalahkan sesuatu yang nampak jelas. Mungkin saja, sesuatu yang menarik ada jauh didalam dan kedalam, bukan hanya soal permukaan.

Seperti ketika kamu terkesima melihat menara jam besar di ujung stasiun Gare de Lyon, Paris. Yang mirip Big Ben itu. Yang Detail jelasnya ada di film Hugo. Kita terkesima ketika melihat jam besar yang antik dan sangat classy. Tetapi apa yang ada didalamnya, ya di dalam jam besar itu, ada rangkaian mesin analog yang berputar berbentuk roda bulat dengan pinggiran bergerigi, rodanya ada beberapa, bergerak kompak tertatur sesuai fungsinya masing-masing untuk memutar jarum jam detik dan menit. Lalu ada lonceng luar biasa besar yang bisa menghasilkan suara sampai 100 desiBel. Dan ternyata dari dalam menara jam itu, disamping roda-roda yang berputar dan lonceng besar tadi, kita dapat melihat pemandangan yang luar biasa menakjubkan yang tak akan didapatkan ketika hanya terkesima memandang menara jam dari luar saja.

Wow! Eiffel à Paris

5 comments:

  1. Oke, ternyata aprie jago ya nulisnya. Simple tp ngena. Tp ni endingnya aga gantung :d walau dtunjang dg foto utk menyampaikan pesannya

    Bundanya neno

    ReplyDelete
    Replies
    1. endingnya dibuat bias, antara bingung mau nulis apalagi dan membebaskan imajinasi pembaca *caelah..
      makasih uni sudah mampir \(^.^)/

      Delete
  2. nice try, *gak terasa kentang goreng ku habis saat baca tulisan ini.. :)) andai yaa, tanpa muka..ah tapi gak seru ah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak seru kayak seragam SD :D

      Delete
    2. monoton dan kurang berwarna :D

      Delete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)