31 October 2014

Wisata Lengkap di Ujung Kulon



Dari sedikit tempat wisata yang sudah saya kunjungi, sejauh ini, Ujung Kulon adalah destinasi yang menawarkan spot-spot wisata paling lengkap. Ujung Kulon tidak hanya menyajikan wisata bahari seperti yang ada di Kepulauan Seribu, lebih dari itu, rangkaian pulau-pulau di sekitar Ujung Kulon akan memuaskan mata kita dengan pemandangan alamnya yang bukan hanya pantai dan laut tropis. Juga hutan, sungai, hewan-hewan liar, dan beberapa daerah konservasi yang teduh.

Jika teman-teman pecinta snorkeling puas dengan pemandangan biota laut di sekitar pulau Handeleum dan pulau Alor, saya yang lebih suka wisata teduh-teduh ini dibuat puas dengan pemandangan hutan dengan pohon-pohon raksasanya, babi hutan, anak monyet yang digendong ibunya ke mana-mana, kancil atau rusa-rusa kecil yang muncul keluar dari hutan ketika malam. Menenangkan. Dari semua itu yang paling epik adalah bisa merasakan naik kano, canoeing bahasa kerennya, di sepanjang sungai Cigenter. Konon sungai Cigenter banyak buayanya, walau guide kano berkata sebaliknya. Epik, kan?





Endemik di Ujung Kulon, Badak Bercula Satu, jangan harap bisa menemukan hewan langka ini dalam satu-dua hari kunjungan. Menurut Bapak-bapak penjaga Pulau Handeleum (salah satu pulau konservasi hewan liar seperti monyet dan ular) minimal sepuluh hari kunjungan baru bisa menemukan Badak Becula Satu, pun dengan melakukan perjalanan ke pelosok hutan.

Di Pulau Peucang, tempat kami menginap, saya dibuat terkesima oleh pasir putihnya yang sangat halus. Monyet, babi, biawak dan hewan liar lainnya yang dibiarkan hidup berdampingan. Mindset orang kota kebanyakan melihat pemandangan babi atau monyet berkeliaran adalah ketakutan. Tetapi tidak di sini, saya benar-benar merasa jadi bagian dari alam. Ketika rombongan kami pergi trackingmenyusuri hutan untuk menikmati sunset di pantai karang sisi belakang pulau Peucang—rusa-rusa kecil sampai yang besarnya setinggi manusia tidak malu-malu menampakan diri. Sayangnya sebagaian dari kami tidak cukup puas hanya memandang mereka dari kejauhan. Banyak dari kami tidak puas hatinya jika belum mengganggu keberadaan hewan-hewan di hutan dan membuat mereka tidak nyaman lalu pergi.

Keadaan tidak mengenakan itu juga terjadi ketika kami mengunjungi Pulau Cidaon, padang rumput tempat banteng-banteng liar dilindungi. Wisatawan lain yang baru saja datang ke Cidaon setelah rombongan kami selesai melihat-lihat merasa kecewa, seharusnya rombongan mereka masih bisa melihat banteng-banteng itu sarapan di padang rumput. Secara tidak langsung mereka menyalahkan rombongan kami karena datang dengan tidak arif, membuat keributan yang menyebabkan gerombolan banteng liar pergi ke dalam hutan. Pengalaman tidak mengenakan ini pada akhirnya memberikan pelajaran kepada kami sebagai wisatawan.

Sebagai pengunjung seharusnya kita menghormati tempat yang kita kunjungi, bukan sebaliknya, walau yang kita kunjungi hanyalah alam dan hewan-hewan.
 

4 comments:

  1. pengen banget bisa ke sini... apalagi Pulau Peucang, duh pasti keren.. serius ngiler banget liat foto rusa-rusa :(((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dan banyak banget tempat wisata yang bisa di eksplor di sana. dua minggu di sana baru puas kayaknya. hehehe.

      Delete
  2. Menarik sekali pengalamnnya, oh iya menurut aprie tas carier ukuran brp ya yg cocok kalo kesana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya bawa ransel biasa untuk keperluan dari jumat malam sampai minggu cukup kok. Karena kita main terus jadi jarang ganti baju kecuali mau tidur. Hehe.

      Delete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)