16 January 2013

#BeforeMidnight Menikah

Barusan saya kedatangan tamu. Mantan tetangga dekat yang sampai sekarang masih sering main ke rumah, teman kecil dimana kami sempat besar bersama. Pertemuan terakhir saya dengannya adalah empat bulan lalu pada resepsi pernikahan dia. Setelah basa-basi panjang lebar, sayapun akhirnya bertanya bagaimana kabar kehidupan barunya? Dia mengeluh, keluhannya masih sama seperti tahun-tahun yang dia lalui ketika masih berpacaran dulu. Teman saya itu, yang membuat saya sedikit syok dengan kiriman undangan pernikahan sebulan setelah dia bercerita akan putus dengan kekasihnya, dan membuat saya lebih syok lagi sekarang ini ketika dia berkata atas jawaban saya tadi "Me not happy at all. You know, I even think and told my mom to get divorce with him."

Atas jawabannya saya tidak berkata apa-apa, hanya lontaran komentar yang sekiranya ingin dia dengar. Untuk masalah satu ini, yang saya pikir kompleks dan terlalu personal, saya belum bisa memilah mana salah mana benar. Mana penjahat mana korban. Mana yang patut disingkirkan mana yang patut ditolong. Semuanya menjadi punya peran. Lagipula saya bukan siapa-siapa yang mengerti masalah rumah tangga orang.

Entah, mungkin karena hal-hal seperti ini juga, yang saya ketahui dan rasakan melalui orang lain (karena pengalaman sendiri adalah guru yang baik, dan pengalaman orang lain adalah guru yang paling baik) saya menjadi tidak pernah ingin berlomba-lomba untuk menikah karena pernikahan bukan balap lari dimana yang sampai garis finish terlebih dahulu adalah pemenangnya. Tidak pula menjadi bangga karena pernikahan bukan piala yang bisa diletakkan pada lemari antik untuk dipajang dan dipamerkan. Dan, tidak juga menjadi tergesa-gesa atas rayuan dan desakan orang tua karena pada akhirnya pernikahan adalah pertanggungjawaban untuk dua orang.

Berapa orang dari teman wanitamu yang menikah dengan alasan dikejar umur? Takut terlalu tua dan takut menjadi tidak "laku"? Atau dengan alasan ditinggal banyak teman yang sudah menikah lalu kesepian dan ikut-ikutan? Atau begini: Sudah berhubungan lama dengan pacar. Sudah terlampau dekat dengan keluarganya. Sudah terlanjur membuang banyak waktu. Sudah terlanjur melakukan dosa bersama. Sudah hamil duluan. sudah, sudah dan sudah-sudah lainnya? Yang dibuat alasan sampai lupa apa esensinya sebuah pernikahan.

Tapi, beruntunglah mereka yang sudah saling menemukan tanpa perlu merasakan kegalauan panjang. Beruntung pula mereka yang tidak berpikir panjang lalu (sok berfilosofi tentang arti sebuah pernikahan, seperti saya ini) dengan niat mulia untuk menikah sakinah mawadah warohmah kemudian berbahagia penuh barokah. Bersyukurlah...

Lantas dengan segala keberuntungan orang lain bukan menjadi alasan untuk saya menjadi iri dan ikut-ikutan, karena dengan begitu berarti saya belum bisa bahagia dengan diri sendiri, mengenal dan bangga dengan diri sendiri, menikahi diri sendiri, bukan onani ya. It just like, never put your happiness on someone else's hand. Just your hand. Your happiness. It not an egois or narcissism, cause when you happy people around you will be more happy too.

Karena tuntutan hati akhirnya saya bercerita panjang lebar disini, bukan untuk menggurui tetapi berbagi. Saya bukan wanita yang punya pengalaman dalam pernikahan. Bukan pula yang jago dalam hal berhubungan. Tapi yang saya tahu dan saya yakini sampai saat ini...

Menikahlah ketika kamu bisa bertanggungjawab tidak hanya kepada diri sendiri tetapi orang lain, orang yang kamu kasihi dan penurus yang kamu ingin hidupi lebih baik lagi.

Menikahlah ketika kamu bisa bahagia dengan dirimu sendiri, dan ketika bersama dengan dia kebahagian itu datang menjadi dua kali lipat banyaknya.

Menikahlah ketika tak ada alasan lain saat pergi tidur lalu bangun kembali di pagi hari, dan hal yang paling ingin kamu lihat pertama kali adalah wajahnya.

Menikahlah ketika kamu rela memasak ikan untuk makan siang, padahal kamu benci sekali baunya! Tetapi kamu bahagia karena ada yang menunggu dengan sabar makanan kesukaannya di meja makan.

Menikahlah ketika kamu ingin berkeliling dunia, melihat langit yang berbeda, menghirup udara yang tidak sama, kemudian pulang hanya kepadanya.

Menikahlah ketika ...

Ahh.. saya terlalu banyak berteori.

12 comments:

  1. Married is like going home, where your heart stay :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. what a word, we sometimes forget :)

      Delete
  2. Trus kalau udah terlanjur2 gitu gimana atuh? Cari yg lain?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu juga yang saya bingung, termasuk kasus teman saya ini.
      Tapi ada yang pernah bilang, "jika tidak ada yang kamu cintai, maka cintailah yang ada saat ini" :D

      Delete
  3. emg ada yah orang siap nikah??? sukriii sukriii....g akan ada sukri...makanya ilmu pikir pendek kaya gw kadang berguna...hajar bleh, yang penting niatnya ibadah...btw, emg ude ada yg kena tipuan lo lg???

    ReplyDelete
    Replies
    1. heh! jangan pembunuhan karakter disini dong hahaha..
      makanya orang kayak elu itu yang gw bilang "beruntung". Bersyukurlah karena keadaannya baik2 saja :)

      Delete
  4. dilema beberapa wanita, pacaran lama dan merasa harus menikah. Entahlah saya nggak mau ngalamin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya, sebisa mungkin sayapun lebih memilih kegalauan lainnya mba :D

      Delete
  5. "pernikahan bukan piala yang bisa diletakkan pada lemari antik untuk dipajang dan dipamerkan". Yap, setuju. :)

    ReplyDelete
  6. Tulisan yang memberi makna... terima kasih sudah menulis, ya! Terus semangat! :D

    ReplyDelete
  7. dan menikahlah ketika jodoh pilihanNYA datang.. :D:D

    ReplyDelete
  8. Haiii blogger pasta #ups..
    Tambahan

    Menikahlah ketika kamu sudah bisa tidak contact mantan atau calon mertua lg..

    Dah nikah blm bs move on tuh ga ada yg bs nandingin..

    Kalo misal tau sp eike keep silent aja miss ��

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)