24 September 2015

Terapi Sebutir Lada

image from http://spicelines.com

Saya punya seorang adik lelaki, bekerja sebagai koki restoran Korea, tentang dia yang mudah sekali kena penyakit pernah saya tuliskan di sini: Koki Kesayangan. Seminggu ini kebetulan Si Broh, adik saya, dapat banyak jatah cuti dan jadwal kerja shift pagi, jadi dia punya banyak waktu istirahat dan main. Dua hari yang lalu ketika saya sudah sampai di rumah pulang dari kantor, Si Broh menghampiri saya dan cerita mengenai pengalamannya ketemu Abang Cina—yang dia lupa namanya—di tempat cetak foto. Dia mengambil sebutir lada dari atas meja dan berkata, "Abang Cina itu temannya Abang cetak foto, dia lagi ngasih tahu kalau pakai lada ini bisa nyembuhin penyakit."

Si Broh juga ikutan diterapi lada rupanya. Sewaktu Abang Cina itu mempraktikkan ke semua ujung jarinya, dia tidak tahan berteriak-teriak dan hampir menangis. Menurutnya itu menyiksa dan sakit sekali. Abang Cina bilang semakin sakit rasanya semakin banyak penyakit yang kamu derita. Si Abang Cina lalu memberinya banyak saran untuk menjaga kesehatan. Menurut Si Abang Cina, yang paling penting buat adik saya sekarang adalah mengontrol pola makan. Sebelum tambah parah, adik saya dianjurkannya untuk tidak makan daging beberapa waktu ke depan untuk menetralisir timbunan lemak dan kolesterolnya. Si Broh memang sering mengeluh pusing dan tegang di belakang leher belakangan ini.


Memang dasar manusia, mau insaf kalau sudah ditakut-takuti. Akhirnya tiga hari ini Si Broh benar-benar tidak makan daging, santan, dan jajan sembarangan; Si Broh hanya mengkonsumsi tahu, tempe dan sayur. Padahal dari dulu saya sering bilang kalau berat badan dan perut buncitnya sudah berlebihan. "Kayak perut Babi" begitu candaan yang sering saya ledek ke Si Broh.
Ketakutan saya terhadap daging-dagingan persis seperti ucapan Abang Cina ke adik saya. Saya takut mudah kena penyakit kalau banyak mengkonsumsi daging dan makanan tidak sehat lainnya, pengaruhnya bukan cuma saat ini tetapi ketika tua nanti. Saya pernah niat banget jadi vegetarian, tapi cuma niat. Saya pernah niat banget mempraktikan food combining dengan lebih baik, tapi cuma niat, sampai saat ini yang bisa saya praktikkan hanya sarapan buah. Jika saya belum bisa menghindari makan makanan yang tidak sehat, setidaknya saya harus tahu kadar dan tidak berlebihan.

Sebenarnya saya sedang membuat excuse agar bisa terus mengkonsumsi makanan enak. Fufu~

Terapi, Lada, Kesehatan, Kolesterol, Menyembuhkan, Penyakit
Contoh lada yang diterapi ke jari kelingking
Sebutir lada yang dipegang Si Broh dari tadi ternyata untuk dipraktikkan ke ujung jari saya. Sebelumnya dia sudah mempraktikkan ke Ibu dan Bapak saya, dan tidak ada yang lolos dari rasa sakit. Semuanya kelojotan. Saya yang sombong merasa lebih sehat dari Si Broh, dengan senang hati memberi jari-jari tangan ini untuk dia gosok-gosokkan. Jempol tidak terlalu sakit, telunjuk juga, sampai ke kelingking saya enggak tahan, apalagi ketika lada itu diusap-usap semakin ke belakang. Teriak juga. Padahal ladanya tidak ditekan Si Broh, menurutnya hanya diusap-usap saja.

Si Abang Cina memberi saran ke Adik saya, jika sedang senggang, iseng-iseng saja bawa sebutir lada dan digosokkan ke ujung jari. Jika ujung jari kanan yang mau diterapi, gunakan jempol tangan kiri untuk mengusapnya. Demikian juga jika ujung jari sebelah kiri yang mau diterapi, gunakanlah jempol tangan kanan untuk mengusapnya. Karena jika menggunakan jempol pada tangan yang sama untuk mengusapnya, tidak akan berpengaruh apa-apa. Memang efek dari terapi sebutir lada ini tidak langsung menyembuhkan, tetapi ada. Dan tetap yang paling penting adalah pola hidup sehat.

9 comments:

  1. Apri, foto dong itu terapinya, biar bisa aku ikutin :D

    ReplyDelete
  2. vidoenya ga bisa keputer pri :"( inet gw yang lemot kayaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal jarinya udah manis banget disitu :((

      Delete
  3. Selama ini cuma tau terapi pijat refleksi aja yang butuh tenaga besar. Ini cuma butuh sebutir lada?
    Okesip.
    *langsung coba*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat nyobanya, ya! Kalau bisa gantian sama teman terapinya, lebih berasa tangan orang lain yang pegang. :))

      Delete
  4. itu lada nya yg itu2 aja ya kak..gak ganti2? cuma butuh 1 lada aja yah. Okesipp nanti coba dipraktekin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bebas aja, mau ganti boleh mau yang itu-itu aja juga boleh. Yang penting masih enak dipakai.

      Delete
  5. Ada model terapi baru kayaknya yah, simple dan mudah sekali, pasti saya coba nanti saat waktu senggang atau lagi nonton tv. makasih min

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)