APRIJANTI

story, hobby, and beauty blog

Buku: #88 Love Life Diana Rikasari

It still summer, lets celebrate it with something bright and colorful. Even at home and my whole agenda is about pleasure, I think it will be cute to start my day with a light book. I decided to read a new book #88LoveLife by Diana Rikasari and Dinda Puspitasari. Since this book written by english, let me review it by english too. Pardon my words.


ABOUT BOOK:

Title: #88LoveLife: 88 Thoughts on Love and Life
Author Diana Rikasari
Illustrator: Dinda Puspitasari
Publiser: POP Imprint KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Category: Self Improvement
Thickness: 128 pages with hardcover and sticker bonus
Edition Language: English
Price: IDR 88,000

Terapi Sebutir Lada

image from http://spicelines.com

Saya punya seorang adik lelaki, bekerja sebagai koki restoran Korea, tentang dia yang mudah sekali kena penyakit pernah saya tuliskan di sini: Koki Kesayangan. Seminggu ini kebetulan Si Broh, adik saya, dapat banyak jatah cuti dan jadwal kerja shift pagi, jadi dia punya banyak waktu istirahat dan main. Dua hari yang lalu ketika saya sudah sampai di rumah pulang dari kantor, Si Broh menghampiri saya dan cerita mengenai pengalamannya ketemu Abang Cina—yang dia lupa namanya—di tempat cetak foto. Dia mengambil sebutir lada dari atas meja dan berkata, "Abang Cina itu temannya Abang cetak foto, dia lagi ngasih tahu kalau pakai lada ini bisa nyembuhin penyakit."

Si Broh juga ikutan diterapi lada rupanya. Sewaktu Abang Cina itu mempraktikkan ke semua ujung jarinya, dia tidak tahan berteriak-teriak dan hampir menangis. Menurutnya itu menyiksa dan sakit sekali. Abang Cina bilang semakin sakit rasanya semakin banyak penyakit yang kamu derita. Si Abang Cina lalu memberinya banyak saran untuk menjaga kesehatan. Menurut Si Abang Cina, yang paling penting buat adik saya sekarang adalah mengontrol pola makan. Sebelum tambah parah, adik saya dianjurkannya untuk tidak makan daging beberapa waktu ke depan untuk menetralisir timbunan lemak dan kolesterolnya. Si Broh memang sering mengeluh pusing dan tegang di belakang leher belakangan ini.

Kuliner Cordoba dari Bakmie Oriental ke Es Krim K-Pop

Dari awal niat saya ke PIK bukan cuma untuk piknik di Taman Wisata Alam Angke Kapuk, tetapi juga kulineran! Mau pelesir ke mana saja, urusan icip-menyicip wajib hukumnya. Berhubung saya tidak paham daerah Utara Jakarta tetapi nafsu untuk mencoba berbagai makanan lucu menggebu-gebu, kami pilihlah tempat makan yang tidak terlalu jauh dari Taman Mangrove. Ruko Cordoba namanya. Jarak tempuh dari Taman Mangrove ke Ruko Cordoba tidak sampai satu kilo, dari kami turun BKTB hanya tinggal berjalan lurus saja menuju jajaran ruko bergaya mediterania. Ruko Cordoba merupakan salah satu pusat hiburan di PIK, segala bentuk hiburan seperti tempat karaoke, massage, waxing, dan berbagai tempat makan ada.

Sedikitnya kami ingin mencoba dua tempat makan di Ruko Cordoba, makanan utama dan dessert. Umumnya menu di restoran Dessert berharga lebih mahal, jadi kami putuskan untuk makan berat di restoran yang biasa saja.

Tujuan pertama yaitu Bakmie Aloi! Saya sudah sering dengar nama Bakmie satu ini, karena cukup terkenal di daerah asalnya, Kelapa Gading, dan sudah punya beberapa cabang juga di Jakarta. Harganya murah, setengah harga Bakmie di dalam Mall. Harga yang kami bayar untuk dua porsi Bakmie Spesial dan Es teh manis IDR 65k rupiah saja. Porsinya banyak, kalau tidak terlalu lapar, makan setengah porsi masih oke buat saya. Toping dagingnya juga tidak cuma satu, ada daging yang direbus dan dibumbui. Sayangnya, waktu saya pesan, banyak menu yang sudah habis, padahal waktu masih terbilang sore. Menurut salah satu stafnya, stok Bakmie yang ada di cabang Cordoba diambil dari cabang Grogol, jadi stoknya tidak terlalu banyak. Pantas saja.


Wisata Pesisir di Taman Mangrove PIK

Sebagai bagian dari masyarakat urban yang aktif dan mudah jenuh dengan rutinitas kekotaan, saya merasa piknik adalah hal wajib. Minimal sebulan sekali harus pelesir ketempat yang jauh dari bising dan dekat dengan alam. Jika waktu dan biaya tidak memadai, tidak perlu mahal-mahal, sebuah taman kota dengan banyak pepohonan buat saya sudah lebih dari cukup; sudah membuat hati dan pikiran kembali fresh besok harinya.

Rasanya masih belum mungkin sekarang ini berharap Jakarta punya banyak taman kota, tetapi dari yang sedikit itu, salah satu taman pesisir yang dikelola dengan baik adalah Taman Wisata Angke Kapuk. Banyak disebut orang sebagai Taman Mangrove PIK (Pantai Indah Kapuk). Sabtu kemarin saya dan teman saya mengunjungi Taman Mangrove dengan angkutan umum, naik busway sampai stasiun kota lalu disambung dengan BKTP jurusan PIK. Harus sabar-sabar menunggu angkutan satu ini, kurang lebih sejam menunggu, baru busnya datang dengan penumpang yang sudah berjubel duluan. Biaya BKTB sampai tujuan Rp. 2500 saja. Sebagian besar penumpang BKTB memang bertujuan ke Taman Mangrove jadi kami tidak perlu khawatir nyasar ke sana.

Ketika sampai, pengunjung disajikan pemandangan bangunan megah Yayasan Buddha Tzu Chi. Saking megahnya, saya sampai enggak percaya bangunan ini ada di Jakarta. Dan yang lebih membuat WOW lagi ternyata bagunan megah ini adalah Sekolah.

Tzu Chi bagian depan

Bedah iRumah

Menulis itu harus menunggu mood. Menulis itu harus bagus, mengesankan, bermanfaat, bisa dibaca semua orang, dan sebagainya. Terlalu lama ditunda oleh keharusan-keharusan bagaimana sebaiknya sebuah tulisan itu dibuat, membuat saya tidak menghasilkan satu buah pun tulisan, atau postingan di blog ini. Karena kebanyakan mikir tadi, draft tulisan di blog saya lebih banyak dari pada tulisan yang sudah ter-upload. Sayang, kan, kalau ide-ide di kepala yang seharusnya dapat dituangkan kedalam satu buah tulisan atau postingan blog jadi buyar semua karena kelamaan di-PHP-in penulisnya. Padahal, menurut orang lain, belum tentu tulisan itu jadinya bagus-bagus amat.

Saya sendiri, atau teman-teman Blogger lain yang pernah mengalami hal serupa, gusar sebenarnya, kok, tulisan di blog isinya cuma Giveaway saja? Sebulan paling banyak dua. Mau bikin cerpen apa, ya? Atau puisi apa, ya? Sebaiknya review film yang tadi ditonton enggak, ya? Ra uwis uwis kebanyakan mikir. Sempat pula saya punya ide untuk membuat blog dengan tema khusus, Traveling misalnya. Atau membahas kecantikan yang lagi ngetrend, atau khusus membuat cerita pendek saja, akhirnya urung juga. Blog ini saja enggak kepegang gimana mau punya dua atau tiga blog lainnya?

Tetapi saya butuh menulis.

back to top