APRIJANTI

story, hobby, and beauty blog

4 Tahun Bersama Warung Blogger


Saya ingat empat tahun lalu, tidak lama setelah blog ini dibuat, saya mulai mencari perkumpulan blogger-blogger di media sosial. Pikir saya dulu, pasti akan seru sekali jika bisa bergabung dengan para blogger lain yang sehobi dan akan banyak yang mengapresiasi tulisan-tulisan kita setelahnya. Kemudian saya mampir melihat perkumpulan blogger itu satu per satu. Ada yang bedasarkan genre hobi seperti: kumpulan travel blogger, food blogger, beauty blogger, atau blogger buku. Ada juga yang menampung berbagai macam blogger dengan tulisan random, tetapi memuat syarat yang agak rumit dan mengikat. Karena menulis di blog adalah bersenang-senang, maka bergabung di perkumpulan blogger harusnya juga begitu menyenangkan. Bersyukur entah bagaimana mulanya, saya menemukan akun @Warung_Blogger di twitter. Tanpa syarat macam-macam @Warung_Blogger hanya mempersilakan setiap pesertanya untuk mem-follow akun mereka, dan men-share postingan dengan format yang sudah mereka tetapkan, dengan begitu kita sudah menjadi bagian dari Warga WB. Mudah.

WB, singkatan asyik dari Warung Blogger, tidak membatasi warganya berasal dari genre tulisan mana. Tidak pula membuat syarat yang rumit. Setiap dari kita yang sudah bergabung di dalamnya bisa melihat berbagai macam link tulisan para blogger yang sudah mereka sharing ke akun @Warung_Blogger.


#1Bulan1Buku Hadiah Istimewa

Terima kasih banyak untuk partisipasi teman-teman yang sudah ikut Giveaway ini.
Pemenang pada Giveaway ini adalah
1. Warastri Rezka Hardini dengan postingannya: Hadiah untuk Saya dan untuk Mereka
 2. Arfina Tiara dengan postingannya: Kuota Is The Best Gift
Nantikan Giveaway-giveaway yang akan datang, yah. Salam!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Sejak kecil saya terkenal lamban. Jika dibandingkan dengan anak lain, hasil pekerjaan saya pasti lebih akhir rampung. Karena itu keluarga memberi saya julukan "Nenek". Menurut mereka gerakan lamban hanya boleh dilakukan oleh nenek-nenek. Setelah dewasa saya terus belajar bagaimana bekerja dengan cepat dan hasil yang mendekati sempurna. Saya mengakali waktu. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa hal yang melekat pada saya sejak kecil tidak pernah hilang. Saya yang lebih menikmati proses sebuah pekerjaan sampai menjadi hasil yang sempurnamenurut saya ini, membutuhkan lebih banyak energi jika diberi pekerjaan dengan target waktu, gol kuantitatif, dan tekanan. Padahal hidup terus berjalan, banyak hal yang musti segera diselesaikan dengan banyak kepala yang mau tidak mau harus disesuaikan idenya agar segala sesuatu berjalan dengan lancar. Dengan kelambanan saya, saya ragu segala sesuatu itu bisa berjalan dengan lancar.

Ibarat seorang pelari, saya menjadi ngos-ngosan jika melihat banyak pelari lain sudah berada lebih jauh di depan. Saya mengutuki diri, mengapa saya tidak memiliki satupun strategi agar bisa berlari lebih cepat. Saya sempat menjadi frustasi dan bingung untuk memilih: mana yang lebih saya butuhkan, menjadi pemenang atau pelari? Mana yang lebih saya inginkan, menjadi pemenang atau pelari?


back to top