01 February 2015

Seprai Soulmate

Kepada Seprai Kesayangan,

Aku mau jujur kepadamu akan satu hal, yaitu...

Eemm. Sebelumnya aku ingin berterima kasih. Terima kasih atas segala kenyamanan yang telah kamu berikan. Entah sudah berapa lama kamu kugunakan, kukotori, lupa kubersihkan atau sengaja tidak kucuci karena enggan menggantinya dengan seprai lain. Walaupun mereka lebih bagus dan baru, kamu tetap saja menjadi favoritku.

Aku lupa kapan tepatnya Ibu membuatkanku seprai paling nyaman sedunia, kamu. Iya, kamu dibuat dari kain panjang hadiah adik Ibu entah kapan dulu. Kamu bukan hasil beli jadi di toko. Karenanya kamu istimewa. Walau mungkin kalau bukan karena Ibu, kamu bisa menjadi apa saja yang lebih membanggakan; kemeja atau daster panjang contohnya. Tapi aku bisa Jamin, denganku kamu dimanfaatkan sebaik mungkin. Enggg... tapi bolong-bolong kecil di bagian atas itu bukan karena aku sengaja melukaimu, lho. Karena faktor waktu, kita sama-sama menua. Kamu menjadi agak lapuk, dan aku menjadi semakin gemar tidur.

Andai saja teman-teman satu kos kuliahku dulu kedapatan melihatmu di kamarku sekarang, pasti mereka takjub; pasti mereka tidak menyangka kamu masih awet kugunakan. Dulu, meka juga gemar duduk-duduk dan tidur di atas kasur yang beralas kamu. Sudah delapan tahun lamanya, dari aku mulai kuliah sampai sekarang, engkau masih setia menemaniku. Padahal kamu ada jauh sebelum itu.

Seprai kesayangan, terima kasih ya kamu sudah menjadi obat segala lelahku, obat segala penatku, obat segala sedihku. Ketika setiap bulan nyeri haid datang, aku tahu yang kubutuhkan cukuplah kamu. Berbaring seharian diharibaanmu. Denganmu barang sebentar, aku kembali bisa berfikir segala hal akan menjadi baik-baik saja nanti. Segala hal buruk, pedih dan menyakitkan akan terlewati.

Kamu bukan hanya selembar seprai. Kamu lebih dari itu. Jika aku butuh taman luas dengan rumput hijau nan lembut, dengan banyak pohon cemara di sisinya, dan banyak keluarga kelinci hidup nyaman di dalamnya—jika aku butuh taman lembab yang dilimpahi banyak sinar matahari pagi itu—aku cukup berbaring terpejam padamu.

Aku tidak pernah sekalipun berfikir akan membuangmu. Jika kondisimu sudah tidak lagi memungkinkan menjadi alas kasur kesayanganku, izinkan aku merubahmu menjadi selimut atau kain pelengkap tidur. Tapi jangan buru-buru membayangkan hal itu, masih terlalu lama seprai istimewa sepertimu menjadi mudah rusak.

Sampai saat ini, kamu masih selalu kugunakan. Kuselingi sekali-kali dengan seprai lainnya agar bisa beristirahat tenang sebentar di dalam lemari. Lebih seringnya, sih, ketika sudah kumal dan bentuknya tidak karuan, kamu dicuci. Lalu setelah kering dan disetrika, kamu langsung digunakan kembali. Hehehe. Maafkan aku sudah seposesif itu, dan aku tidak tahu bagaimana caranya mengurangi ketergantunganku kepadamu. Karena aku tidak mau.

.... dan hal jujur yang aku ingin katakan kepadamu. Ah, aku mulai gugup. Itu... kamu... kamu adalah satu-satunya alasan aku betah di rumah.

Tolong jangan bilang-bilang kepada yang lain, ya? Ini rahasia kita berdua saja. Aku takut mereka iri dan menjadi salah paham. Ah, aku sudah mulai malu.

Terima kasih seprai soulmateku.

7 comments:

  1. Ada yang sama sepatu, motor, laptop atau apa..
    Tapi kalau seprei mustika sepertinya kasus jarang ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya saya suka tidur :D
      Tapi suka sepatu, buku dan semangka juga *maruk*

      Delete
  2. Sering mampir dan sering baca tulisan kamu. Mampir juga ya ke ikafff.blogspot.com.


    :))))))

    ReplyDelete
  3. wah kayaknya wangi ya spraei nya hmmm mantap

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)