APRIJANTI

story, hobby, and beauty blog

Could I Marry Your Mind? Alan Turing

Dear Sir Alan Turing,

Andai saja aku adalah seorang cicit dari Joan Elisabeth Clarke, rekan kerja sekaligus mantan tunanganmu di Bletchley Park, maka aku akan protes ke nenek buyutku itu, mengapa beliau tidak memaksamu—atau setidaknya berusaha keras—untuk tetap bisa bertunangan kemudian menikah denganmu? Kamu tahu, aku sangat berharap andai saja sejarah bisa diubah dan nenek buyutku itu dapat meyakinkanmu bahwa dengan menikahi dirinya, dirimu sedikitnya akan mendapatkan perlindungan hukum dari status perkawinan.

Aku tahu hal tersebut kedengaran bodoh dan tidak masuk akal. Tetapi alangkah sedihnya aku ketika tahu dirimu dipaksa meminum obat hormon estrogen atau jika tidak, akan dijebloskan ke dalam penjara. Karena menjadi homoseksual kala itu adalah melanggar hukum. Sungguh hal tersebut terdengar sangat menyakitkan, apalagi jika aku membayangkan ada di posisimu. Apa salahnya menjadi berbeda? Hanya karena orientasi seksualmu adalah salah dimata kebanyakan orang, maka kamu, Sir, boleh dihukum. Tanpa peduli hal besar apa yang telah kamu lakukan untuk negara.

 image from http://static.guim.co.uk

Sungguh aku tidak berharap dunia ini diisi oleh orang-orang benar, orang-orang beragama, tetapi menggemari perang dan tega menyakiti sesama.


Ada Senyum Ibumu Ketika Tangannya Dicium

sumber gambar https://parenttangoblog.files.wordpress.com

Pagi tadi, ketika saya izin berangkat ke kantor, Ibu saya protes karena tangannya sudah lama tidak disalami. Saya sering kali alpa kegiatan itu, menyalami tangan orang tua ketika izin ke luar atau masuk rumah. Apalagi kalau ada pertengkaran kecil antara saya dan Ibu sebelumnya, saya menjadi malas untuk salaman atau berlagak lupa. Ibu saya, layaknya orang tua kebanyakan, makin tua makin sensitif. Sedangkan saya sensitif dengan keributan, kalau sudah ribut-ribut bawaannya jadi mutung dan memilih bersikap masa bodoh.

"Izin mau pergi doang, enggak salaman?" tanya ibu.

Saya yang sudah ambil ancang-ancang mau jalan ke luar pintu jadi berbalik lagi menuju Ibu, mengambil tangannya dan mendekatkannya ke bibir saya.

"Yanti berangkat dulu." izin saya.

"Iwan kalau berangkat kerja enggak pernah lupa cium tangan mamanya, sama pipinya kanan kiri juga." Rupanya Ibu sedang membandingkan saya dengan adik saya yang tidak pernah sungkan menunjukkan rasa sayangnya itu.


back to top