18 September 2014

Sempilan Surga Bernama Dieng

"Sikunir bagus, tapi sekarang ini Prau lebih populer," begitu cerita Pak Yasip tentang Gunung Prau yang kami tanyakan di dalam bus Pahala Kencana, Rawamangun, 8 Agustus kemarin.

Pak Yasip adalah pegawai pemerintahan di Jakarta, tetapi rumah, keluarga dan jiwanya ada di Wonosobo. Setiap minggu atau sedikitnya dua kali sebulan Pak Yasip pulang ke Wonosobo. Basa-basi kami yang kemudian menjadi akrab terjadi di dalam bus, Pak Yasip menanyai kawan lelaki saya yang duduk di sebelahnya. Beliau ingin tahu kami hendak ke mana? Sama seperti keingintahuan yang kemudian kami tanyakan kepada beliau mengenai kota Wonosobo atau Dieng dari sudut pandang warga asli sana. Sebagai sesama orang asing di dalam bus, Pak Yasib sangat baik sekali, beliau mau berbagi banyak cerita. Di akhir pertemuan kami, Pak Yasip bahkan memberikan kartu namanya, "kalau ada apa-apa hubungi saya, bisa mampir nginap juga di rumah." oh, kind people are every where!

Layaknya guide yang tabah, Pak Yasip kembali menceritakan dua kali penjelasan mengenai tempat dan rute, kuliner sampai angkutan umum untuk menuju kawasan wisata di sekitar Dieng dan Wonosobo. Saking serunya kami lupa mencatat apa-apa yang dikatakan Pak Yasip sebelumnya. Mungkin tampang kami memang kentara betul awamnya—melihat tiga anak muda (eaaa, muda?) jalan-jalan tanpa itinerary ini—saya rasa beliau iba.


"Sepanjang perjalanan dari wonosobo (bawah) naik ke Dieng (atas), kalian bisa mampir dulu di alun-alun, makan mie ongklok, mengunjungi kebun teh Tambi, dan mandi di Kalianget, pemadian air panas alami. Bisa dikunjungi sebelum naik atau ketika turun—sepulangnya dari Dieng menuju Wonosobo. Kalau suka tantangan yang lebih ekstrem, di Sungai Serayu Wonosobo ada Rafting yang sudah diakui dunia medannya."


Sayangnya tidak ada satupun tempat-tempat yang dijelaskan Pak Yasip tadi kami kunjungi di hari terakhir, semoga di lain hari, hujan lebat menyertai jalan kami pulang dari Dieng turun ke Wonosobo. Untungnya masih sempat beli oleh-oleh sebelum masuk terminal. Dan yang lebih untung lagi, kami dapat bus pulang ke Jakarta, telat beberapa jam saja kami tidak bisa pulang hari itu, arus balik lebaran masih sangat tinggi. Disamping keuntungan di atas, saya dan kawan wanita saya yang duduk terpisah jauh dari kawan lelaki saya mengalami kesialan, uang kami di dompet ludes semua. Isi dompet hanya tersisa KTP dan Kartu-kartu. Baiknya, pencopet itu tidak mengambil satupun kartu-kartu pribadi kami. Pencopet yang bijak. Sesampainya di rumah saya ceritakan kejadian ini kepada Ibu saya, pikiran beliau sama: saya sedang tidak ketimpa kesialan melainkan hal yang lucu. "Orang itu sedang butuh uang sekali," timpal beliau.

Kejadian itu mengingatkan saya akan cerita Pak Yasip, beliau juga pernah kecopetan di bus menuju kampung halaman. Kamera DSLRnya raib diambil ketika tidur. Padahal kamera itu tidak dia masukkan ke dalam tas atau bagasi. Demi keamanan, Pak Yasip mengalungkan kameranya di leher. Mau bagaimanapun nasib buruk dihindari, kalau sudah jodoh, ya, bertemu saja. Kamera Pak Yasip sudah berpindah tangan pagi harinya, tersisa tali ikatan kamera yang sudah digunting.

Selfie dulu sebelum berangkat, Pak Yasip yang sedang menatap tokek terbang.
Kebanyakan bus Jakarta-Wonosobo adalah bus malam, berangkat sore dari Jakarta tiba di Wonosobo pada pukul enam pagi. Untuk alasan keamanan dan kenyamanan, tempatkanlah budget lebih pada transportasi menuju ke sana. Saya sarankan jika bepergian solo atau tidak meggunakan jasa pemandu, gunakanlah bus Eksekutif / VVIP. Perjalanan yang ditempuh bisa mencapai dua belas jam, selain nyaman, bus dengan grade ekonomi ke atas lebih aman. Kewaspadaan tetap nomor satu, ya. Jangan sampai ada kesempatan pencopet-pencopet bijak lainnya meraba-raba isi dompet.

Saya enggan menarasikan banyak—mengenai keindahan tempat-tempat wisata yang kami kunjungi di sana, semoga foto-foto ini dapat mewakili bahwa kelelahan di dalam bus kota, keraguaan dan putus asa mencapai puncak gunung, suhu udara yang rendah, kedinginan, kehilangan uang, tidak dapat menggantikan harga sempilan surga yang kami temukan di Dieng.


Persiapan menuju upacara Ruwatan di pinggir Telaga Cebong, Desa Sembungan, Desa tertinggi di Pulau Jawa.
Ada anak-anak di daerah Dieng yang rambutnya tumbuh gimbal secara ajaib, orang-orang menyebutnya anak gembel. Konon mereka adalah titisan Dewa. Rambut mereka akan kembali normal ketika dipotong dengan upacara Ruwatan atas kehendak si anak sendiri, dan orang tua harus memenuhi segala keinginan si anak sebagai syarat. Pak Yasip mempunyai teman yang anaknya dianugrahi rambut gembel, ketika si anak diruwat, dia meminta sepeda motor kepada Bapaknya. Tetapi setelah acara ruwatan sepeda motor itu dijual kembali oleh Bapaknya. Hahaha.


Telaga Cebong, Desa Sembungan, Dieng, Wonosobo.
Setelah Danau Bedugul, saya jatuh cinta dengan Telaga Cebong. Entah danau-danau mana lagi di Indonesia yang akan saya jatuhi cinta.

Salah satu tujuan kami ke Dieng pada awal Agustus adalah menonton acara Simfoni Dieng. Teater sandiwara asal muasal peradaban di Dieng terbentuk. Pertunjukannya di aula terbuka dekat dengan Telaga Warna. Tengah malam semua peserta disajikan wedang dan cemilan dari panitia, bisa foto-foto dengan bule Rusia pula. Mari senyum lebar! Pertunjukan selesai sekitar jam 11 malam, kami langsung kembali ke penginapan karena jam 2 nanti akan melanjutkan perjalanan, naik gunung. Mengejar emas di Prau!

Inilah emas abadi di atas puncak Prau.
Kantongi ingatan, bawalah pulang, jaga—jangan sampai hilang.
Bahkan Pegadaian tidak sanggup membayar kenangan.

Pagi besok harinya, yaitu hari terakhi di Dieng, kami main-main ke Kompleks Candi Arjuna.

Candi Arjuna dan Candi Semar

anak muda gaulnya di Museum, broh!

Masih di area komplek Candi Arjuna, kita bisa mengunjungi museum. Museum Kaliasa tiket masuknya hanya 5000 rupiah, di dalamnya ada batu-batu candi yang diselamatkan tetapi tidak memungkinkan untuk disatukan kembali. Penjelasan mengenai Dieng, sejarah bentuk candi dan sebagainya juga lengkap terulas pada lukisan dan brosur-brosur besar yang dipajang di sepanjang tembok Museum. Di gambar kanan bawah ada salah satu bentuk artefak. Coba tebak itu simbol apa? Simbol kelamin pria dan wanita. ehehe hehe he.

Jalan terus ke arah telaga warna kita juga bisa mengunjungi kawah Sikidang. Diharapkan memakai masker kalau sudah sampai sini. Bau belerangnya menyengat sekali, jadi jangan mencontoh gaya foto di bawah ini, ya. Kecuali sudah bosan dengan aroma oksigen yang baunya begitu-begitu saja.


 Mata pencaharian masyarakat Dieng adalah hasil sawah, ladang dan kebun. Kentang di sana dengan ukuran raksasa harganya 7000 rupiah perkilo, sampai jakarta sudah dua kali lipatnya. Ada juga kembang kol dengan ukuran jumbo, buah Carica di sepanjang jalan, wortel, daun bawang dan segala macam tanaman yang membuat saya tidak bosan memandang persawahan di sana. Bawaannya kepengin tarik nafas terus. Makanan khas di sana adalah Mie Ongklok, cuma ada di Kabupaten Wonosobo, Mie rebus dengan kuah kacang yang agak kental tetapi pedas. Yummy!

7 comments:

  1. ah jd kangen pengen ke sana lagi, tp harus olahraga dulu sebelum ke sana biar badannya kuat bisa nyampe atas.. sikunir kapan kita ke sikunir >_<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sih yes.
      Buruan lari sambil angkat barbel! :))

      Delete
  2. KAMU NAIK DARI RAWAMANGUN DAN NGGAK MAMPIR KE KANTORKU?
    OH. KEHFAYN, PRIE. UGH.

    ReplyDelete
    Replies
    1. enggg.. jadi gini, ka (._. ) (._.) ( ._.)

      Delete
  3. Appprrriiieeeee, itu golden sunrise nya ga nahan kerennnyaaaa!!!! *thumbs* *thumbs*
    Itu diambil pakai kamera apa prie??

    -Sandrine-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semuanya diambil pakai kamera handphone aja, Sandrine. hehe.

      Delete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)