08 May 2014

To Be Creative Is To Be Normal

Karena ketertarikan saya pada tema kelas Akber Jakarta 17 April lalu yaitu "Creative Digital" dan faktor letak kelasnya yang kebetulatan sangat strategis, serta dikuliahi oleh pembicara yang namanya (mungkin) sudah tidak asing lagi didengar anak-anak social media, Om Seseq, maka saya putuskan untuk datang live.

What is Akber?
Akber adalah singkatan dari Akademi Berbagi, yaitu suatu kegiatan non commercial yang bertujuan memberikan ilmu-ilmu berbeda sesuai dengan tema dan pembicara setiap minggunya. Akber ada di berbagai wilayah, tersebar di kota-kota mulai dari pulau Sumatra sampai Sulawesi. Bisa dilihat pada website resminya ini http://akademiberbagi.org/. Pembicara Akber adalah orang-orang yang ahli pada bidangnya, bisa jadi mereka pakar seni, politik, keuangan, bisnis, dan lainnya. Mereka memberikan ilmu secara cuma-cuma, tanpa dibayar sepeserpun dari penyelenggara, dan kita yang menghadiri kelas juga dapat duduk manis sambil menyerap ilmu gratis. Tinggal mengisi data diri pada link pendaftaran kelas yang diinformasikan via Twitter setiap pekan, kita bisa duduk nyaman di kelas yang berpindah-pindah. Seru? Iya banget. Karena buat saya, ilmu yang didapat dari buku-buku atau kuliah formal tidak senyaman penyampaian pakar yang ada di lapangan.

Why Creative Digital?
Karena seru. Ilmu creative apalagi pada media digital, saya pikir adalah ilmu hore-hore. Dalam pandangan saya, setiap orang yang terlibat pada profesi tersebut nampak selalu fun. Jadi saya kepengin belajar sekaligus having fun. Syukur-syukur pulang bisa utak-atik CV, terus ngelamar jadi Creative Media Content deh (eaaak!).

How's your brand became famous on digital media?
Tidak hanya pada digital media secara khusus, umumnya sebuah brand yang berhasil adalah yang pandai bercerita atau membuat cerita di tengah kebisingan. Mau itu medianya koran, radio, ataupun digital seperti social media. Brand yang sukses mempunyai cerita yang akan terus disuarakan mulut orang-orang. Seperti produk Apple yang mempunyai fanboy fanatik karena mendewakan keunggulan iPhone. Fanboy-fanboy itu dapat secara sukarela membela handphone yang mereka pakai, menceritakannya ke mana-mana, membuat social-gap atas produk yang mereka miliki, bahkan sampai menimbulkan perseteruan dengan penggemar merek handphone lainnya. Contohnya yang sedang ramai di social media perseteruan iPhone users dengan Android users.

Contoh lain lagi pada sosok Jokowi. Jika Jokowi sebuah brand, maka dia telah sukses. Beliau membangun image yang tidak biasa. Sebelum menjadi sebesar sekarang, Jokowi terus membuat pencitraan yang baik sehingga namanya terus diceritakan banyak orang. Sebut saja konfliknya dulu dengan gurbernur Jawa Tengah, padahal waktu itu Jokowi hanya menjabat sebagai walikota Solo. Atau usaha lain beliau yang mendukung prestasi anak sekolah SMK di daerahnya dalam memproduksi mobil. Dan cerita lainnya yang terus mengalir setelah beliau menjabat Gurbernur Jakarta. Cerita-cerita tersebut adalah cerita yang tidak pernah kita dengar sebelumnya, anti-mainstream.

Kesulitan yang kita hadapi pada iklan digital saat ini adalah tidak semua orang indonesia terjangkau fasilitas internet, jadi wajar saja persentase iklan yang paling besar masih dirajai televisi. Logika sederhana pada pengiklanan media digital adalah jika tantangan makin sulit, usaha yang dibutuhkan makin besar, maka orang yang dijangkau pun makin sedikit. Di sini saya melihat kaitannya pada kuis-kuis yang sering diadakan di social media: jika persyaratan yang diterapkan semakin rumit maka usaha orang-orang yang ingin mengikutinya semakin sedikit, dan dampaknya produk menjadi tidak dapat dikenal luas. Yang membuat audience secara sukarela mengikuti kampanye sebuah iklan, khususnya di media digital, adalah kampanye tersebut sedikitnya harus relevan dengan kehidupan audience. Sebuah iklan yang sukses atau yang buruk sekali, keduanya belum tentu menghasilkan sales. Pada akhirnya, yang paling esesnsial dari itu semua adalah keunggulan produk itu sendiri. Saya terhibur sekali waktu Om Seseq mengatakan "Agensi periklanan bukanlah tukang sulap yang bisa membuat produk jelek menjadi laku."

Dan satu kalimat yang membuat saya bahagia lahir batin mendengarnya ketika mengakhiri kelas Akber ini, moderator menanyakan kepada Om Seseq. "Bagaimana caranya agar kreatif?"
"Manusia itu pada dasarnya kreatif. Sayangnya banyak manusia terlalu larut dalam kesenangannya sendiri. Seperti terlalu bergantung pada gadget sehingga lupa untuk berinteraksi dengan sesama. Menjadi kreatif adalah menjadi normal."
Menjalani kehidupan layaknya kebanyakan orang normal. Mungkin maksud Om Seseq jika boleh saya menjabarkannya di sini yaitu dengan bekerja sehari-hari, berinteraksi, berkumpul, menonton televisi, membaca buku, kena macet di jalan, berantem sama supir taksi, ngelamun di toilet dan melakukan hal-hal normal lainnya yang akan menimbulkan ide-ide baru tanpa disengaja. Sehingga manusia dapat menggali sebuah inovasi yang datang dari hal-hal sederhana.

Saya jadi ingat tugas marketing pada waktu kuliah dulu, kelompok kami mengulas merek post-it. Sejarah post-it diciptakan tanpa kesengajaan ketika seorang ilmuan ingin membuat lem super kuat tetapi selalu gagal dan akhirnya ditinggalkan begitu saja. Lalu lem tersebut dimanfaatkan oleh rekan kerjanya untuk menandai halaman buku. Karena bantuan lem gagal tersebut, halaman-halaman bukunya berhasil ditandai dengan kertas yang telah di lem itu tanpa merusak bukunya karena bisa dilepas-lepas. Bayangkan jika lem gagal yang dibuat dengan usaha maksimal seorang ilmuan tidak dimanfaatkan oleh rekan kerjanya? Sekarang ini, tentu saja, post-it tidak hanya bisa digunakan rekan kerja yang sedang iseng.

2 comments:

  1. Ah sepakat deh. Jadi inget Quotes Creativator yang bilang kalau produk yang akan dikenal dan laku itu bukan karena berbeda tapi terbaik di kelasnya :)

    ReplyDelete
  2. Waah baru ngerti gua sekarang kalo semua orang itu dasarnya kreatif

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)