25 February 2014

#BeforeMidnight Over Thinking

: Ika Fitriana Oversensitif

Saat menulis postingan ini, Ka, aku sedang bahagia: mengunyah buah manggis hampir satu kilo banyaknya, sendirian. Di tempat kerjaku sekarang, kalau siang suka banyak tukang buah gerobak lewat. Bisa kamu bayangkan betapa bahagianya aku, kan? Lihat manggis (dan juga semangka) berjejeran.

Harapan-harapanmu itu bukanlah hal yang lucu, Ka. Hanya saja, menurutku, orang-orang yang tidak paham kesedihanmu itu kurang imajinasi, jadi mereka sukar membayangkan apa jadinya kalau mereka juga tertimpa kesedihan yang sama. Atau jangan-jangan mereka sama sekali tidak pernah tertimpa kesedihan seperti itu, jadi mudah saja bagi mereka menyebutnya dengan kalimat "wes biyasa." Untuk dua kemungkinan tadi, mari kita klaim mereka sebagai manusia yang kering empati. Kurang lebih samalah jika kamu tidak bisa membayangkan bagaimana enaknya buah manggis yang sedang kumakan ini, dan menjadi sia-sia aku bercerita pada paragraf awal tadi jika ternyata kamu tidak pernah tahu bagaimana rasa buah manggis yang enak.

Tetapi, Ka, bisa jadi komentar "wes biyasa" itu justru keluar dari korban kesedihan yang sedang menghibur diri, mereka sudah pasrah, karena sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi agar keadaan menjadi lebih baik? Atau, Ka, bisa jadi juga komentar tersebut keluar dari orang yang skeptis terhadap korban kesedihan dan musibah, adikku contohnya, dia menjadi sangat marah melihat penduduk di dekat bantaran kali daerah Salemba (dekat rumah pacarnya) tanpa berdosa melemparkan berbagai sampah langsung ke kali. Plung! "Wes biyasa to ada banjir di Jakarta setiap tahun?"

Ya, aku tahu contoh kesedihan dan musibah bukan cuma banjir saja.

Kalau aku boleh bertanya, Ka, apa dengan mengerti dan memahami kesedihan orang lain membuatmu senang? Senang karena akhirnya kamu bisa mengetahui teka-teki kesedihan orang itu? Atau senang karena dengan mengetahui penyebabnyakesedihan orang itu, maka pada akhirnya kamu bisa memberikan bantuan? Lantas, Ka, apa kesedihan seseorang menjadi berkurang jika kamu dapat mengerti dan memahaminya? Apa orang yang sedang bersedih itu memang benar-benar butuh bantuan?

Ka, bukankah perasaan kasihan akan membuat kita merasa superior? Kita menjadi sadar kalau mereka berkeadaan sangat kurang dibanding kita yang mampu bersenang-senang.

Aku membuat kesangsian ini karena ketika merasa amat sangat sedih, aku tidak membutuhkan sosok lain untuk membantu. Aku merasa malu jika dibantu, seperti aku tidak punya daya upaya untuk menolong diriku sendiri. Lebih mudah buatku memahami keterbukaan orang lain perihal kesedihan mereka daripada aku harus membagikan hal yang sama secara terbuka. Lagi pula, bukankah lebih banyak orang yang butuh didengar kesedihannya, daripada mendengar sebuah kesedihan yang bukan miliknya?

Ka, aku jadi meracau sendiri. Tulisanku malah ke mana-mana. Kusudahi saja, ya. Semoga mimpimu indah malam ini.

9 comments:

  1. aduh, tulisan ini... bikin pengen manggis *lah *dikeplak Aprie x))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh, maksudku menulis ini juga begitu kok. ihihih :D

      Delete
  2. makan manggis jangan kebanyakan ntar temennya ga kebagian.
    ini tulisan hilang arah gara2 kebanyakan makan manggis ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. menurutku tulisan ini tidak hilang arah. ini jurus dewa mabuk. mematikan.

      *halah*

      Delete
  3. aaaaaaaaaaaaaakkkkk~
    Apriiiiiiieeee~
    aaaaaaaaaaaakkkk~

    ReplyDelete
  4. Suka banget dengan tulisan Aprie yang ini. Dalam sekali Jeung :")

    ReplyDelete
  5. 'Lagi pula, bukankah lebih
    banyak orang yang butuh didengar kesedihannya, daripada
    mendengar sebuah kesedihan yang bukan miliknya?"
    Mendapat jeda berpikir di kalimat ini.. :)

    Anw, salam kenal, ya..

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)