21 February 2014

Dongeng Setelah Bangun Tidur

OCD adalah...

Em, jadi begini, Mas. Aku bingung mau mengarang-ngarang cerita seperti apa mengenai ulasan Obsessive–Compulsive Disorder yang pernah kamu minta. Yeah, I'm a bad storyteller who want to be a good one. Mencontek metode deduksi Sherlock Holmes ketika mengungkap kasus-kasus kriminal kliennya– satu-satunya novel yang rela kamu beli lengkap seluruh seri. Kamu tahu? Kejadian kamu membeli buku Sherlock Holmes adalah kepuasan terbesarku selama kita berteman. "Akhirnya. Si tukang pipa ini beli buku juga!" Sama puasnya ketika muridku dulu bilang, "Kak! Math-ku dapet sepuluh, lho." –Jadi, aku bakal bercerita asal muasal rangkaian kejadian yang membuatku sadar, "oh, ternyata yang begitu itu adalah OCD."

Terlahirlah seorang gadis kecil yang lumayan menggemaskan, sehingga di manapun dia dititipkan oleh Ibunya, semua pintu rumah saudaranya terbuka lebar menyambut kehadirannya (iya, gadis kecil itu aku). Aku ingat betul kejadian ini karena di dalam ingatanku semua orang heboh membicarakannya, membahasnya panjang sekali, sedangkan aku menganggap tidak ada yang salah atas kejadian itu. Namanya juga anak kecil. Usiaku masih balita waktu itu, aku ikut ke Surau tempat sepupuku mengaji, tetapi aku tidak ikut mengaji. Aku menunggu di luar Musala saja. Sambil menunggu yang kulakukan tidak ada, aku bosan tetapi aku tidak kembali pulang. Kamu tahu kan orang dewasa saja kalau bosan pasti mencari satu kegiatan, apalagi anak-anak yang tidak bisa diam? Aku mencari-cari kegiatan, yang nampak di depanku hanyalah sendal murid -murid pengajian berserakan ke sana-ke mari. Aku mulai menyusun semua sendal yang berserakan itu satu persatu, sepasang demi sepasang dari ukuran kecil ke ukuran paling besar, dengan warna yang paling mirip pula kusejajarkan memenuhi satu baris tangga Musala. Lalu, ketika semua murid selesai mengaji dan aku juga telah selesai menyusun semua sendal tadi, mereka kaget melihat fenomena itu. "Siapa ini yang ngejejerin sendal di sepanjang tangga Musala?" Teriak murid-murid pengajian itu kesenangan. Akhirnya, ya, tidak ada orang lain selain aku, mau tidak mau mereka percaya kalau semua sendal yang tadinya tergeletak tidak karuan dirapikan oleh seorang balita. Aku jadi selebritis sehari.

Ketika di sekolah, aku sama normalnya dengan anak-anak lain. Hanya, aku tidak bisa cuek dengan ketidak-teraturan terlebih lagi tulisan sendiri. Sampai SMA, aku lebih senang membuat cacatan dengan pensil daripada dengan pena. Alasanya karena mudah dihapus ketika salah. Aku takut salah, jadi sebisa mungkin catatanku jauh dari coretan. Kalau terpaksa harus menulis pakai pena dan tulisanku ada yang salah, aku pasti buru-buru mau tulisan itu benar, mencari tip-ex ke mana-mana padahal waktu ujian tinggal sedikit lagi. "Yaudah, sih, dicoret aja daripada nungguin tip-ex yang masih dipinjem orang. Lama!" Begitu yang sering diucapkan teman dekatku. Ada kegelisahan luar biasa kalau tulisan itu aku coret saja, tidak menghapusnya, atau membuatnya bersih. Aku lebih gusar kalau tulisanku salah dibandingkan jawabanku pada kertas soal yang salah. Jujur, aku jadi kelelahan sendiri. Kerumitan yang kucari sendiri membuatku capek. Tapi secara sadar aku tidak bisa membenarkan kesalahanku yang menuntut segala-galanya "harus benar-menurutku" itu. My Mind capable to ruin everything. Maka ketika guru Matematikaku di kelas tiga SMA dulu mewajibkan siswanya menulis dengan pena, aku gusar sekaligus terselamatkan. Seperti diberi terapi setiap hari, aku dipaksa melakukan hal yang menurut pikiranku salah tetapi itulah yang benar. Aku harus belajar menerima kalau sesuatu hal tidak harus selalu benar agar menjadi benar.

Dikatai orang yang sok higienis dan perfeksionis, aku sudah biasa. Aku bahkan terkesan tidak peduli, Mas. Sampai sekarangpun, aku membiarkan dan tidak sedang berusaha untuk menghilangkan hal-hal melelahkan seperti dua contoh kejadian yang sudah kupaparkan tadi. Beruntunglah aku bertemu dengan kawan psikolog, secara gratisan mereka mau memberiku banyak tes kejiwaan. Hahaha. Mengetahui kalau aku punya kekurangan tersebut sudah cukup melegakan. Aku perlu apa lagi selain menerima diri sendiri?

Mas, anggap saja postinganku ini sebagai balas jasa atas dongeng yang kamu bacakan tempo lalu. Tulisanku ini memang bukan dongeng yang baik, tetapi buatku sangat menyenangkan dan melegakan. Sama seperti setiap saat aku bisa bercerita banyak hal, apapun itu, denganmu. Kamu berbakat mendongengi orang, Mas! Beneran, deh. God bless your children on the future. O iya, satu lagi, salam untuk kekasihmu. Sampaikan terima kasihku untuk tetap membiarkanku berteman denganmu tanpa terlihat memusuhiku. As you know, it was meant a lot to me. Semoga kebaikan selalu menyertai kalian.

Salam,
neng

8 comments:

  1. sama neh jaman kuliah gw juga selalu pake pensil buat nyatet, menurut gw tulisan gw terlihat lebih mudah di baca klo pake pensil (agak absurd ya?). karena gw selalu pake pensil temen2 gw selalu komplain gara2 pensil sulit kebaca waktu di poto kopi, salah sendiri ga mo nyatet :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. iya, betul! salah sendiri gak mao nyatet :p

      Delete
  2. Ouhh gitu ... ouhhh jadi gitu ...
    Pasti kamarmu resik yah?
    Dan pasti kamu stress kalau aku main-main ke kamarmu :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekarang aku jauh lebih cuek, va..
      sini, aku maen ke kamarmu aja, bantuin beresin. :D

      Delete
  3. saya sudah berkunjung ke blogmu. main-main juga ke ikafff.blogspot.com, yah.. :)))))))

    ReplyDelete
  4. waww, lebih suka nulis pake pensil ya? aku malah lebih suka pake laptop sekarang. kalo nulis pake pulpen jadi kayak acak-acakan.

    ReplyDelete
  5. Aku juga OCD musiman, enggak kayak kamu permanen Prie :D

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)