APRIJANTI

story, hobby, and beauty blog

#1Bulan1Buku Hibah Buku Corat Coret di Toilet

Terima kasih banyak untuk partisipasi teman-teman yang sudah ikut Giveaway ini.
Pemenang pada Giveaway ini adalah Aisy KD dengan postingannya:
Corat-coret di Toilet : Kekuatan dalam Bilik Pribadi
Nantikan Giveaway-giveaway yang akan datang, yah. Salam!
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada bulan April lalu saya dihadiahi buku kumpulan cerpen Eka Kurniawan berjudul "Corat-coret di Toilet" oleh seorang teman istimewa yang namanya ada di atas sebagai nama persembahan atas postingan ini. Saya senang. Senang sekali. Semakin tua umur semakin sedikit yang memberi kado atau hadiah kepada saya, pun saya jarang sekali memberikan hadiah atau kejutan kecil kepada orang-orang terdekat. Karena kemalasan berfikir akan bentuk kado seperti apa yang sepertinya cocok untuk diberikan, saya sering menggantinya dengan hal lain yang terasa sederhana. Padahal hadiah atau kejutan tadi menyenangkan si penerima apapun bentuknya, ya? Berangkat dari kesenangan itu, sejak bulan ini, saya ingin membagi kesenangan membaca buku dan berharap semoga kesenangan saya ini menular. Saya berniat membuat program rutin di blog. Saya namakan 1 Bulan 1 Buku.

Pada program 1 Bulan 1 Buku ini, akan ada 1 buah buku yang saya kirimkan kepada 1 orang beruntung setiap bulannya. Bukunya bisa buku baru yang masih disegel atau bisa saja buku baru yang sudah lepas segel atau buku lama yang masih bagus kondisinya. Kondisi buku tergantung bagaimana saya mendapatkannya. Saya akan umumkan judul buku dan persyaratan untuk mendapatkannya setiap tanggal 24 di blog ini. Biar pada enggak penasaran juga dengan bukunya, saya akan beri tahu penampakannya via akun twitter sebelum saya mempostingannya di blog


Wisata Lengkap di Ujung Kulon



Dari sedikit tempat wisata yang sudah saya kunjungi, sejauh ini, Ujung Kulon adalah destinasi yang menawarkan spot-spot wisata paling lengkap. Ujung Kulon tidak hanya menyajikan wisata bahari seperti yang ada di Kepulauan Seribu, lebih dari itu, rangkaian pulau-pulau di sekitar Ujung Kulon akan memuaskan mata kita dengan pemandangan alamnya yang bukan hanya pantai dan laut tropis. Juga hutan, sungai, hewan-hewan liar, dan beberapa daerah konservasi yang teduh.

Jika teman-teman pecinta snorkeling puas dengan pemandangan biota laut di sekitar pulau Handeleum dan pulau Alor, saya yang lebih suka wisata teduh-teduh ini dibuat puas dengan pemandangan hutan dengan pohon-pohon raksasanya, babi hutan, anak monyet yang digendong ibunya ke mana-mana, kancil atau rusa-rusa kecil yang muncul keluar dari hutan ketika malam. Menenangkan. Dari semua itu yang paling epik adalah bisa merasakan naik kano, canoeing bahasa kerennya, di sepanjang sungai Cigenter. Konon sungai Cigenter banyak buayanya, walau guide kano berkata sebaliknya. Epik, kan?

Sempilan Surga Bernama Dieng

"Sikunir bagus, tapi sekarang ini Prau lebih populer," begitu cerita Pak Yasip tentang Gunung Prau yang kami tanyakan di dalam bus Pahala Kencana, Rawamangun, 8 Agustus kemarin.

Pak Yasip adalah pegawai pemerintahan di Jakarta, tetapi rumah, keluarga dan jiwanya ada di Wonosobo. Setiap minggu atau sedikitnya dua kali sebulan Pak Yasip pulang ke Wonosobo. Basa-basi kami yang kemudian menjadi akrab terjadi di dalam bus, Pak Yasip menanyai kawan lelaki saya yang duduk di sebelahnya. Beliau ingin tahu kami hendak ke mana? Sama seperti keingintahuan yang kemudian kami tanyakan kepada beliau mengenai kota Wonosobo atau Dieng dari sudut pandang warga asli sana. Sebagai sesama orang asing di dalam bus, Pak Yasib sangat baik sekali, beliau mau berbagi banyak cerita. Di akhir pertemuan kami, Pak Yasip bahkan memberikan kartu namanya, "kalau ada apa-apa hubungi saya, bisa mampir nginap juga di rumah." oh, kind people are every where!

Layaknya guide yang tabah, Pak Yasip kembali menceritakan dua kali penjelasan mengenai tempat dan rute, kuliner sampai angkutan umum untuk menuju kawasan wisata di sekitar Dieng dan Wonosobo. Saking serunya kami lupa mencatat apa-apa yang dikatakan Pak Yasip sebelumnya. Mungkin tampang kami memang kentara betul awamnya—melihat tiga anak muda (eaaa, muda?) jalan-jalan tanpa itinerary ini—saya rasa beliau iba.


I Want Lumia!

Semakin banyak pilihan membuatmu semakin sulit memilih.

Kata-kata di atas berlaku pada banyak hal, termasuk memilih gadget atau smartphone. Tidak seperti empat-lima tahun lalu, sebelum Andoid, iOS dan Windows Phone bersaing seperti sekarang ini, kebanyakan orang masih bergantung pada Blackberry sebagai alat hubung canggih mereka. Blackberry sebagai perangkat menjadi raja di pasar telepon selular atas keunggulannya menghadirkan konten real push email dan bbm serta paket data yang biayanya flat setiap bulan berapapun besar penggunaannya. Kemudian tiap merek perangkat selular berlomba, tidak mau kalah dalam berlari menghadirkan spesifikasi-spesifikasi yang selalu di-update untuk memenuhi selera pasar, untuk memenuhi keinginan dan imajinasi banyak orang terhadap teknologi telepon selular. Dengan terus menginovasi keunggulan-keunggulan terdahulu dan menghadirkan konten-konten yang bahkan belum terpikirkan oleh banyak orang, sekarang ini, perangkat telepon selular tidak hanya harus berkualitas tetapi juga harus punya banyak ciri khas agar tidak ditinggalkan penggunanya.

Andai Saya adalah Seorang Penulis yang Baik

Andai saya adalah seorang penulis yang baik, saya pasti bisa mengeluarkan adegan-adegan rumit di kepala menjadi sebuah tulisan yang layak untuk dibaca, tanpa banyak alasan untuk menunda dan menggagalkannya, seperti: saya telah kehabisan energi menulis karena pekerjaan yang begitu melelahkan, saya kehilangan semangat menulis karena mood yang berantakan, saya lebih memilih untuk tidur, dan sebagainya, dan sebagainya. Betapa keinginan sangat mudah sekali menciut lalu hilang begitu saja di tangan si pemalas.

Ketika kawan-kawan saya mengetahui postingan di blog ini dan membacanya, beberapa dari mereka mengetahui saya menuliskan seseorang yang mereka kenal. Mereka kemudian meminta saya untuk menuliskan sesuatu tentang diri mereka juga. Andai saya adalah seorang penulis yang baik, saya tidak akan membuat banyak alasan tentang apa yang harus saya tuliskan.

To Be Creative Is To Be Normal

Karena ketertarikan saya pada tema kelas Akber Jakarta 17 April lalu yaitu "Creative Digital" dan faktor letak kelasnya yang kebetulatan sangat strategis, serta dikuliahi oleh pembicara yang namanya (mungkin) sudah tidak asing lagi didengar anak-anak social media, Om Seseq, maka saya putuskan untuk datang live.

What is Akber?
Akber adalah singkatan dari Akademi Berbagi, yaitu suatu kegiatan non commercial yang bertujuan memberikan ilmu-ilmu berbeda sesuai dengan tema dan pembicara setiap minggunya. Akber ada di berbagai wilayah, tersebar di kota-kota mulai dari pulau Sumatra sampai Sulawesi. Bisa dilihat pada website resminya ini http://akademiberbagi.org/. Pembicara Akber adalah orang-orang yang ahli pada bidangnya, bisa jadi mereka pakar seni, politik, keuangan, bisnis, dan lainnya. Mereka memberikan ilmu secara cuma-cuma, tanpa dibayar sepeserpun dari penyelenggara, dan kita yang menghadiri kelas juga dapat duduk manis sambil menyerap ilmu gratis. Tinggal mengisi data diri pada link pendaftaran kelas yang diinformasikan via Twitter setiap pekan, kita bisa duduk nyaman di kelas yang berpindah-pindah. Seru? Iya banget. Karena buat saya, ilmu yang didapat dari buku-buku atau kuliah formal tidak senyaman penyampaian pakar yang ada di lapangan.

Doakan Aku Sekali Lagi

*membalas postingan Ika di sini
Hai Zus!
Aku mau mengucapkan terima kasih karena sangat senang kamu doakan. Aku tidak peduli doa-doamu datang pada tanggal tiga belas atau tanggal dua puluh empat. Tetapi aku diam-diam peduli jika tahun depan kamu tidak lagi ingat hari lahirku. Dan aku tahu kamu ped…

Hal-Hal Yang Membuat Saya Ingin Kembali Ke Bangkok

1. Bolak-balik Bandara bukanlah aktivitas reguler buat saya. Maka perjalan berangkat dari rumah, menunggu berjam-jam di Bandara, dan saat terbang di pesawat menjadi moment langka yang menyenangkan. Saya suka sekali berada di Bandara, entah mengapa. Rabu menjelang siang saya sudah tiba di Bandara Suvarnabhumi, sendirian. Rasanya seperti pemenang. Seperti ketika pertama kalinya saya bisa mengemudikan sepeda dengan lancar; tanpa jatuh dan kagok-kagok. Perasaan seperti pemenang itulah yang saya alami saat pertama kalinya tiba di Bandara negeri asing seorang diri. Maka saya putuskan saya akan kembali merasakan hal seperti itu lagi. Pada jam-jam menunggu ketiga rekan kerja tiba di Bandara yang sama, saya berjanji dalam hati bahwa saya ingin (dan harus. Sekurangnya satu kali) berada di Bandara untuk travelling jauh seorang diri lagi. Saya ingin kembali lagi merasakan moment mencari makanan untuk pengganjal perut yang saya tidak tahu bentuk, rasa maupun namanya, atau menegur orang asing untuk pertanyaan sepele dengan bahasa inggris yang terbata-bata, serta menebak-nebak seperti apa pemandangan di luar sana ketika saya sudah keluar dari Bandara. Terdengar kanak-kanak, ya? Iya, buat saya hal-hal menyenangkan memang selalu terasa seperti suasana taman bermain.


Nasib Sepatu Baru

Malam itu, sepulang bekerja, AJ mendatangi Mall besar yang berjarak tidak terlampau jauh dari rumahnya (Sebagai gambaran, kalau naik Busway hanya berjarak 6 shelter saja). AJ geram, kurang sabaran, karena sepatu baru yang dicari-carinya sejak bulan lalu tidak juga didapat. Ke Passer Baroe–tempat f…

Over Thinking

: Ika Fitriana Oversensitif
Saat menulis postingan ini, Ka, aku sedang bahagia: mengunyah buah manggis hampir satu kilo banyaknya, sendirian. Di tempat kerjaku sekarang, kalau siang suka banyak tukang buah gerobak lewat. Bisa kamu bayangkan betapa bahagianya aku, kan? Lihat manggis (dan juga semang…

Dongeng Setelah Bangun Tidur

OCD adalah...
Em, jadi begini, Mas. Aku bingung mau mengarang-ngarang cerita seperti apa mengenai ulasan Obsessive–Compulsive Disorderyang pernah kamu minta. Yeah, I'm a bad storyteller who want to be a good one. Mencontek metode deduksi Sherlock Holmes ketika mengungkap kasus-kasus kriminal k…

Koki Kesayangan


Hai Broh, gimana badannya? Semoga makin sehat.

Sebenernya surat ini ditulis dari minggu kemarin, waktu Si Broh mendadak sakit, si empunya blog sedih banget. Makanya mendadak melankolis pengin nulis surat. Tapi pasti isi suratnya jadi so sweeeeet banget. Padahal surat yang menurut gue enggak sweet sama sekali masih dibilang sweet sama orang lain. Apa jadinya kalau surat yang tadinya akan begitu so sweet ini diposting? Pasti setelah baca kita bakal ngakak bareng, atau bego bareng kayak biasanya. Sekarang, gue harap isi surat yang sudah ditulis ulang ini enggak lagi menjadi melankolis.

Kenapa sih dari dulu selalu Si Broh yang kena penyakit aneh-aneh? Ingat enggak, dulu kecil pernah kena step? penyakit panas tinggi disertai kejet-kejet. Biasanya penyakit step dialami sama anak kecil, terus kalau enggak cepat tertolong bisa sampai meninggal. Serem kan? Pengobatannya pun enggak cukup dibawa ke dokter saja, si Mamak yang putus asa sampai bawa Si Broh ke "orang pinter". Lalu menurut orang pinter itu, ada Jin wanita di perkarangan TK yang naksir sama Si Broh, pengin Si Broh jadi anaknya. Makanya Mamak overprotect banget dari dulu sama Si Broh. Karena ngerti anak lelakinya kalah kuat dari anak wanitanya. Karena itu juga gue banyak iri, sebel sama adeknya yang cuma bisa jago kandang. Di luar rumah penakut di dalam rumah belagu, mentang-mentang dibela Mamak, hih!


Kepada Alberthiene Endah

Mbak @AlberthieneE yang baik,
Aku lupa bagaimana sejarahnya bisa tahu kemudian jadi bagian dari salah satu followers akun twittermu. Menjadi pelupa (dan penidur) memang bakatku sejak lama. Tetapi aku selalu ingat bahwa ada satu akun yang tidak ingin aku lewatkan isi twitpic-nya, foto-foto kegiatan…

Kepada Mbah (Yang Aku Tidak Tahu Siapa Namanya)

Aku maklum sekali kalau Mbah tidak ingat denganku kemarin itu, aku–wanita yang duduk persis di depan mbah dengan jeans dan kaus panjang berwarna abu–sedang menunggu teman mengantri nasi pecel untuk kami. Dalam waktu menungguku itu, aku telah tanpa ijin mengambil gambar Mbah dengan kamera handphone

Untuk Kamu Yang Akan Kuberi Nama, Avicenna

Hai, nak! (aku senang menyebutmu dengan panggilanan nak. Panggilan posesif orang tua yang merasa memiliki anaknya. Dan kurasa kamu adalah satu-satunya hal di dunia yang akan kuposesifi kelak. Semoga kamu tidak keberatan) Bagaimana harimu? Semoga baik-baik saja dan menggembirakan. Ketikaku kecil, n…
back to top