05 December 2013

Surat Terbuka untuk Zus Ika

Duren Tiga, 5 Desember 2013

Zus Ika,
Aku paham kamu pernah kesal bahkan marah kepada orang dengan status menikahkhususnya wanita menikahatas pertanyaan mereka kepada wanita yang belum menikah, "kenapa belum?". Wajar, aku juga pernah diberi pertanyaan-pertanyaan macam itu, karena aku juga wanita dengan usia hampir 27 tahun yang belum menikah. Atas pertanyaan mereka itu, biasanya hanya kutanggapi dengan jawaban tidak serius dan cengengesan saja, padahal dalam hati aku sedih. Aku sedih bukan karena melihat diriku yang belum menikah, aku sedih kepada mereka yang hanya bisa bertanya hal demikan sajaseakan-akan tidak ada pertanyaan seru lain yang dapat mereka tanyakan. Pada sebuah pertemuan keluarga atau pertemuan teman-teman lama, kebanyakan dari mereka yang ingin berbasa-basi dengan kita pasti akan membukanya dengan sebuah pertanyaan, salah satunya ya pertanyaan ini: "apa sudah menikah?" Lalu akan merembet menjadi: "kalau belum, siapa calonnya?" Dan keluarlah pernyataan ini: "Apa, ternyata masih single? Idih, buruan cari, jangan kelamaan!" Pertanyaan barusan memang khas diberikan untuk kita, wanita belum menikah di usia yang sedang seksi-seksinya. Maka aku menjadi maklum, tidak sensi, tidak marah, justru kasihan. Mereka sedang gagap berbasa-basi.

Zus, kita hidup dan dibesarkan dalam konsep-konsep. Bagi masyarakat kebanyakan, konsep hidup bahagia itu adalah Lahir-Sekolah-Kerja-Menikah-Punya Anak-Punya Menantu-Mati. Bagian-bagian itu haruslah terlewati sesuai dengan waktu yang telah mereka tentukan. Jika tidak sesuai atau mendekati expired, akan ada kejanggalan, akan ada norma yang dilanggar, akan ada cibiran berisik yang terus saja keluar. Makanya banyak orang yang diburu-buru waktu mengejar konsep bahagia itu agar tidak expired. Aku pernah melawan konsep dengan sebuah konsep, hasilnya? Mereka tuduh aku wanita yang sulit. Padahal, Zus, aku hanya wanita yang sama sepertimu, memperjuangkan kebahagiaan dalam hidup, yang kadang waktu datangnya belum sesuai saja dengan konsep mereka.

Satu hal yang kita semua paham, orang yang sedang berbahagia memiliki energi yang berlebih. Seperti anak kecil yang dapat mainan baru dan berusaha menunjukan mainan itu kepada teman sebayanya. Hal itu dia lakukan karena sedang berbahagia dan berharap orang yang ditunjuki mainan barunya akan menjadi bahagia seperti dirinya. Mereka yang sedang berbahagia akan secara tidak sadar memberi tahu kepada kita bahwa dalam posisi dan pencapaian yang telah mereka dapatkan merupakan hal yang menyenangkan, dan juga membahagiakan. Oleh karena itu mereka berharap kita juga ada di posisi mereka: yang sedang berbahagia. Amin... Tetapi buatku tidak bijak juga jika kita menganggap anak yang tidak memiliki mainan baru adalah anak yang tidak berbahagia. Mungkin saja ada orang tua yang tidak bisa membelikan mainan baru untuk anaknya. Atau mungkin saja ada anak yang sudah berbahagia walau hanya dengan sebutir permen.

Zus Ika yang baik,
Mungkin orang-orang yang hidup pada lingkaranmu adalah orang yang optimis, memiliki prasangka yang baik atas pernikahan, dan memiliki sedikit kekhawatiran yang membuat mereka sangsi. Itu baik. Adakah orang dalam lingkaranmu yang memiliki prasangka abu-abu terhadap pernikahan, Zus?

Jika kamu tanya "Apa Pernikahan Membuatmu Bahagia?" Aku, wanita belum menikah tentu saja tidak bisa menjawabnya. Tapi akan kutanyakan pada wanita menikah terdekatku, Ibuku. "Ibu, apa pernikahan membuatmu bahagia?" Telah kutanyakan hal itu berkali-kali. Tetapi pada akhirnya pertanyaan itu tidak pernah keluar vokal dari mulutku. Aku terlalu pengecut untuk bertanya. Aku menjadi terbiasa menyimpulkan sendiri dengan mendengar setiap keluhannya mengenai sikap suaminya yang mengecewakan, membuatnya sedih, dan frustrasi. "Ibu, apa pernikahan membuatmu bahagia?" Lantas apa aku jadi mengingkari pernikahan? Tidak, Zus. Tapi aku menjadi seorang yang sangat berhati-hati. Lantas apa aku menjadi tidak bahagia? Tidak juga, Zus. Karena semakin aku mencari bahagia semakin aku temukan banyak hal kecil yang membuat bahagia.

Zus,
Menulis pararaf di atas, aku jadi ingat kutipan Theodore Hesburgh yang berbunyi, "The most important thing a father can do for his children is to love their mother."

Zus,
Hari sudah sangat larut, akan kulanjutkan surat ini pada lain hari. Oiya, Zus! Jangan lupa untuk bahagia. :)

6 comments:

  1. Tambahan juga dariku, Kak. Menurutku, mendapatkan pasangan juga tidak seperti di berniaga.com (klik, ketemuan, deal) :)))

    ReplyDelete
  2. istilah expirednya itu loh yang kagak nahan. :D

    ReplyDelete
  3. aw, makasih banyak, Zus Aprie.. :')

    ReplyDelete
  4. Akh ini aku perempuan yang sering punya mainan baru blom sempat dipamerin udah bosenn ?! gmn dong yah ?! tapi yah menikah tidak menikah yg terpenting bahagia kan :)

    ReplyDelete
  5. sesungguhnya kebahagiaan berasal dari dalam diri bukan dari luar (entah orang lain ataupun hal tertentu).

    jadi, entah mo nikah atau belum, selagi kita bersyukur dengan keberadaan diri dan tetap optimis memandang hidup niscaya kebahagiaan akan menjadi bagian hidup.

    IMHO. :)

    ReplyDelete
  6. hii . . .
    salam kenall . . .

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)