13 September 2013

Tujuh Hari

Saya tidak takut mati. Tetapi, saya takut membayangkan disiksa sampai mati.

Waktu Sekolah Dasar dulu, guru saya pernah bercerita bahwa seharusnya penjahat yang dihukum seumur hidup tidak dimasukkan ke dalam penjara lalu dibiarkan hidup begitu saja sampai ajalnya tiba, melainkan disiksa sampai mati. Disiksa. Pemikirannya memang menyeramkan. Mungkin geram dengan hukuman penjahat yang terlampau ringan. Saya jadi membayangkan imajinasi guru saya tersebut, disiksa sampai mati. Bayangkan saja ada seorang yang sudah tidak berdaya diikat kedua kaki dan tangannya pada tiang kayu penyangga yang ditancapkan di kanan-kiri tubuhnya. Dia tentu saja sudah tidak bisa bergerak, badannya basah dengan air yang sengaja dijatuhkan setetes demi setetes tepat diatas ubun-ubunnya. Untuk sehari-dua hari hukuman seperti itu adalah sepele, bisa dibayangkan jadi apa kepalanya setelah berbulan-bulan, bertahun-tahun?

Saya tidak takut mati. Tetapi, saya takut membayangkan disiksa sampai mati. Beruntunglah manusia-manusia yang ditakdirkan mati mendadak tanpa penyiksaan panjang: penyakit, kesedihan, penderitaan, dan apa saja yang mendekatkan manusia pada kematiannya. Tetapi, siapa manusia bisa memilih cara matinya?

Karena tidak mengerti, saya pernah bertanya kepada Bapak, “Kenapa manusia mati?” Bapak jawab dengan sederhana, “setiap yang bernafas pasti mati.” Kemudian saya mencari-cari kemungkinan apa saja yang bernafas di muka bumi ini yang tidak mati? Saya tidak temui. Bapak saya pintar. Kemudian saya menemukan konsep kematian pintar lainnya, yang dituliskan Kafka pada novelnya, The Metamorphosis. The Metamorphosis bercerita tentang seorang pria muda bernama Samsa yang tiba-tiba berubah menjadi serangga raksasa. Samsa hidup di dalam kamar rumahnya dengan keterasingan, menjadi aib keluarga, ditakuti Ibu yang melahirkannya, dikucilkan adik yang baru saja bisa bermain biola berkat dirinya, dipukuli ayah yang kehilangan pekerjaan lalu Samsa lah yang kemudian berkorban banting tulang memenuhi biaya keluarga. Samsa sedih, menderita, dan merasakan ketidakadilan sampai mati. Tetapi ada yang berubah setelah dia berubah menjadi aib dan dijauhi. Ayahnya kembali bekerja karena kebutuhan keluarga, adiknya juga ikut membantu bekerja sambil terus bermain biola, Ibunya lama-kelamaan lupa akan rasa sedihnya. Dan pada suatu pagi yang cerah, Samsa mati.

Dan segala apa yang sudah dituliskan olehNya adalah tanpa sia-sia. Terimakasih Kafka atas kisahnya.

Tujuh hari yang lalu saya duduk di sini, disamping raga yang sudah tidak ada isi. Saya memegang kakinya, menatap wajahnya, “jangan takut kesepian, Mak, besok semua dari kita menuju ke sana.” Pada seseorang yang saya panggil Mak tetapi bukan Ibu saya. Dia adalah kakak wanita Ibu kandung saya. Seseorang yang dituakan yang paling dianggap bijak oleh adik-adiknya, anak adik-adiknya, keluarga besarnya. Dimana rumahnya adalah tujuan pertama kali kami datang ketika Idul Fitri. Mak, orang yang paling saya takuti sewaktu kecil karena galak. Mak, orang yang paling saya hindari akhir-akhir ini karena galak. Mak orang yang paling kuat mengasuh anak-anaknya tanpa pendamping. Mak pernah menikah, dua kali. Dua-duanya tidak bertahan lama. Dari Mak lah saya tahu pertama kali bahwa memang ada orang-orang yang hidupnya lebih baik tanpa pendamping.

Semua orang sedih ditinggal Mak. Ibu saya menangis. Keponakannya menangis, ”waktu sunat kemarin, Mak bilang sama dedek, lebaran tahun depan kita pulang kampung naik mobil,” begitu katanya terisak-isak mengadu pada saya. Maka saya menjadi berkaca-kaca pada kesedihan kehilangan sepupu kecil saya itu.

Untungnya semua anak Mak sudah besar, bisa dibilang Mak mati dengan tenang tanpa beban. Mak sudah punya tiga cucu yang luar biasa lucu. Semuanya jantan dan tampan-tampan. Terimakasih Mak telah hidup dan menghidupi. Keponakan wanitamu yang paling nakal ini tidak akan berdoa, "semoga Mak diterima di sisiNya” karena aku tidak mau menduga-duga dengan kata “semoga” apakah kamu tenang atau tidak di sana. Aku sangat yakin kalau mak sudah tenang di sana. 

“Mak, tenang-tenang ya disisiNya.”


Tujuh hari berpulangnya Ibu kami, Mariati.

11 comments:

  1. mati mah udah pasti tinggal tunggu giliran aja/ yang penting sudah cukupkah persiapan kita sebelum di jemput malaikat Izrail?

    ReplyDelete
  2. Turut berduka cita ya, Prie. Semoga Almarhumah tenang di sisi-Nya.

    ReplyDelete
  3. Aku malah takut mati, tersebab kosongnya bekal yang kupunya :(
    Membayangkan siksa kubur, ngeri.. Apalagi kalo kekal (di neraka)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada komentar Yandhi dan kamu, saya persiapkan balasan komentar yang agak lama, takut kalau salah menjawab tapi pikiran menyuruh harus menjawab. hehe...
      Si Saya tidak takut mati karena dia berfikir semakin takut mati maka semakin dia cinta kepada dunia, hal yang duniawi. Tentu saja si Saya bukan biksu, hanya orang yang pasrah. :D

      Delete
  4. turut berduka ya mbak..turut mendoakan semoga almarhum diterima semua amal ibadahnya aaminn..

    ReplyDelete
  5. turut berduka ya mbak..turut mendoakan semoga almarhum diterima semua amal ibadahnya aaminn..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminnn... Makasih banyak, mba Enny :)

      Delete
  6. Turut berduka ya mbak >.< Semoga beliau diterima di sisi Sang Kekasih~

    "Beruntunglah manusia-manusia yang ditakdirkan mati mendadak tanpa penyiksaan panjang: penyakit, kesedihan, penderitaan, dan apa saja yang mendekatkan manusia pada kematiannya."
    Itu konsep kematian yang paling saya takutkan mbak, mati mendadak tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. Biarlah saya mati karena penyakit tapi saat menghembuskan nafas terakhir, ada keluarga saya, orang-orang yang saya cintai di sisi saya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminnn.. makasih ya :)

      Iya, kamu romantis. Dulu saya juga berfikir kayak gitu, makin ke sini malah jadi makin egois, karena gak mau merasa kesakitan dan gak mau lihat orang-orang yang saya cintai jadi sedih kehilangan. Hik.

      Delete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)