12 September 2013

#BeforeMidnight Di Balik Gerobak Kayu

Kejadian yang paling aku ingat dari sosok di balik gerobak kayu adalah tentang pengalaman gadis kecil yang lucu. Gadis kecil yang sering bermain sendiri, usianya setelah balita, lebih sering dikurung di dalam rumah daripada dibiarkan bermain dengan sebayanya. Konon Ibunya tidak tega anak gadisnya selalu menangis setelah pulang dari bermain dengan teman-temannya. Saat gadis kecil itu bermain sendiri di depan rumah, ada sepasang–gerobak kayu dan lelaki tua–yang melintas melewatinya, berhenti di samping rumahnya yang kira-kira hanya lima meter dari tempat dia berada. Kemudian anak-anak datang menghampiri sosok di balik gerobak itu; Ibu-ibu gendut dengan daster warna-warni sambil menenteng mangkok plastik juga datang meramaikan.

"Bang, beli, Bang." Kata bocah lelaki cepak berperawakan kurus dan agak kumal.

"Baksonya aja, bang, kagak pake emi." Sela Ibu-Ibu tambun berdaster kuning.

Lelaki tua di balik gerobak tadi tidak menyahut, tetapi tangannya bergerak mengisi mangkok-mangkok putih bergambar ayam jantan dengan banyak bumbu-bumbu dan bahan makanan kedalamnya. "Sepertinya enak." pikir si gadis kecil. Kemudian dengan rasa penasarannya menghampiri lelaki di balik gerobak kayu itu.

"Bang, beli, Bang," tiru si gadis kecil. Untuk pertama kalinya gadis kecil itu merasakan enaknya semangkuk bakso.

Ibunya datang, bertanya, "apa yang kamu makan?" Gadis kecil itu tidak tahu apa namanya. Yang dia tahu hanya rasa kegirangan bisa berlagak seperti orang dewasa. Ibunya bilang kalau memesan makanan harus dibayar dengan uang. Sehingga lelaki tua itu tidak harus menunggu lama di balik gerobaknya; menunggu semangkuk dagangannya yang barangkali akan dibayar oleh Bapak-Ibunya.

Pertama kalinya gadis kecil itu belajar mengenai ilmu jual beli. Makanan yang sudah dibeli harus dibayar. Atau, akan ada orang tua yang berjongkok pasrah berharap beberapa lembar rupiah.

Gadis kecil itu tumbuh besar dengan segala keanehan orang dewasa. Dia menjadi skeptis pada beberapa hal. Pada jajanan yang ada di balik gerobak kayu. Acara televisi bilang, bahan makanan di balik gerobak tidak bisa dipertanggung jawabkan. Ada borax, pewarna tekstil, obat pengawet mayat, dan hal-hal yang kedengarannya mengerikan untuk dimakan. Lalu dia menghindar dari sepasang–gerobak kayu dan lelaki tua–yang melintas melewatinya.

Gerobak kayu masih sering wara-wiri, mengisi perut keroncongan si bocah kumal, Ibu-Ibu berdaster warna-warni yang tidak sempat memasak, anak gadis yang gemar pedas-pedas, atau pelancong yang kelaparan di sudut-sudut pengkolan. Pikir lelaki yang ada dibalik gerobaknya, tidak apa mendorong beratnya gerobak, atau bercucur keringat dan berdekap dengan panas terik. Bagi mereka hal itu lebih mulia daripada hanya menengadahkan telapak tangan–menundukkan tenaga liat–berharap lembaran kaku yang keluar dari saku karyawan. Masih ada istri yang harus diberi makan, ada anak yang disekolahkan, ada kehidupan yang harus diteruskan dengan sekantong bakso agenan.

Siang itu aku berlari kecil, buru-buru menghampiri pria di balik gerobak kayu yang sedang mangkal di depan kantor. Aku sedang kelaparan, ini sudah jam setengah tiga, tetapi belum juga makan siang. Untung saja ada tukang bakso menyelamatkan asam lambung yang sudah tinggi. "Sepertinya enak," tebakku dalam hati.

"Bang, beli, Bang."

“Dibungkus atau makan sini, neng?” Jawab Abang-Abang pedagang bakso.

“Dibungkus aja bang, mie putihnya aja, jangan pake saos sama micin.”

“Iya. Pulang kerja, neng?” Kepo si Abang bakso sambil memasukkan mie, seledri, dan bawang goreng ke dalam mangkuk putih bergambar ayam jago yang sudah dilapisi plastik.

“Baru mau masuk kantor, Bang, itu kantor saya di depan.” Jawabku sambil menunjuk tembok putih berlogo bulat biru sambil tersenyum.

“Saya bersyukur hari ini.” Jawabnya sambil ikut tersenyum. “Sudah dibeli wanita cantik, ramah, dapat senyum lagi!” Tambahnya dengan warna muka bahagia. “Biasanya yang tipe kaya eneng, boro-boro senyum, ditanya aja susah jawabnya.” Lalu warna mukanya berubah kembali.

Kalau saja si Abang penjual bakso itu tahu, aku juga bersyukur bisa membuat orang menjadi bersyukur pada usahaku yang hanya segaris senyum. Aku jadi teringat kembali, kejadian gerobak kayu dan lelaki tua yang ada di baliknya, kejadian sewaktu kecil yang pernah diceritakan Ibu.

#PeopleAroundUs

11 comments:

  1. nice story, Prie. love it. :*

    ReplyDelete
  2. Menghargai orang lain itu mudah ya mbak, cukup tersenyum dan ramah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, justru karena mudah jadi sering saya abaikan

      Delete
  3. senyum bisa merubah segalanya
    #bahagiaitusimple

    ReplyDelete
  4. Aaaahhhhh, so sweet banget. Jadi, pengen baso mamang-mamang di pinggir jalan. Ga usah lah kita pikirin higienisnya. Selalu ada banyak cara untuk menikmati sesuatu. :D

    ReplyDelete
  5. Lupakan acara tv investigasi, labih baik jadi anak-anak lagi.
    Eh, aku jadi ingat pernah nulis ini di twitter: "Biar mukaku tidak tampan. Tapi, kalau aku senyum, itu akan membuatnya paling tidak sedikit lebih bagus." :)

    ReplyDelete
  6. Karena senyum adalah bahasa universal yang menyatakan bahwa kita menerima seseorang :)

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)