20 March 2013

Gelombang Karimun Jawa Membawa Kami ke ...

Jogja - Semarang, 9-12 Maret 2013

Harusnya Judul Postingan Blog kali ini, yang saya sudah buat draftnya dari jauh hari sebelum keberangkatan adalah "Karimun Jawa". Sudah terbayang-bayang di kepala kami semua pemandangan laut dan langit yang beradu biru, pulau kecil-kecil yang memesona, bibir pantai dengan sunrise dan sunset yang lezat, dan penakaran anak hiu yang seru, tapi... Itu semua urung sudah. Berhubung tanggal yang kami rencanakan untuk menyebrang ke pulau Karimun Jawa dari pelabuhan Jepara ditiadakan. Walhasil untuk menutupi kekecewaan acara liburan, kami memutuskan melarikan diri ke Jogja dan sekitarnya.

Kami tiba di dermaga Jepara kurang lebih pukul 10 pagi tanggal 9 Maret, hari itu sabtu yang cerah walau memang cuaca hari-hari sebelumnya sangat buruk karena hujan terus, begitu juga cuaca yang ada di Jakarta. Pihak pulau juga mengatakan kepada kami kalau sampai hari kamis cuaca disana masih buruk maka uang muka akan di kembalikan, syukurlah hari jumat cuaca membaik walau pihak pulau belum memberi guarantee untuk bisa menyeberang pada sabtu paginya. Dengan harapan cuaca membaik, kami berangkat menuju semarang sabtu subuh. Dan ternyata memang bukan jodohnya, semua kapal tidak ada yang bisa menyeberang sampai tanggal 11 Maret karena gelombang laut bisa mencapai ketinggian 6 meter, begitu pihak BMKG menginfokan kepada semua orang yang sudah sampai di dermaga pagi itu. Kurang lebih ada 300 orang yang nasibnya sama seperti kami. Sedih? Iya. Tapi setidaknya kami dapat pelajaran berharga bahwa bulan yang bagus dan aman untuk menyeberang ke pulau atau wisata laut sejenis itu adalah sekitar April s/d September.

Karena tidak ingin buang-buang waktu, kami memutuskan untuk langsung loncat saja ke Jogja dari Jepara. Perjalanan kami yang dari awal adalah bandara Ahmad Yani, Semarang menuju Jepara, kemudian harus berbelok ke Jogja (melewati Semarang kembali) yang menghabiskan waktu sampai 7 jam lebih. Mati lemas di mobil terpulihkan ketika sampai Jogja malam harinya disambut oleh sajian teh hangat, camilan khas dan udara yang sejuk gerimis. Beruntung ada salah satu rumah saudara teman kami di daerah Sleman yang luar biasa baiknya menampung anak-anak manis putus asa ini. Terimakasih mbak Diah, tempatmu luar biasa! Kapan lagi bisa metik salak pondoh langsung dari pohonnya dan makan ikan langsung dari pancingan kolam di belakang rumah. Mantap!



Perut kenyang lelah pun hilang. Setelah istirahat dan bebersih secukupnya kami tidak mau melewatkan malam minggu di Jogja dengan hanya sekedar santai di rumah. Berbekal mobil yang kami sewa melalui kenalan tuan rumah yang baik hati itu juga, sabtu malam di Tugu kami habiskan dengan berfoto-foto. Berfoto di tugu lebih asyik sensasinya daripada berfoto di bundaran HI Jakarta, menurut saya. Kendaraan yang lewat dan manusia-manusia narsis yang mejeng disekitaran tugu tidak berjarak, tidak juga ada yang tertabrak. Untungnya di Jogja, tidak ada pengendara mobil yang berteriak-teriak ke pejalan kaki kalau jalanan yang mereka lalui terhalangi. Oiya, kata orang kalau kita belum ke tugu berarti belum sah datang ke Jogja. Maka bukti foto dibawah ini menandakan kami sah menginjak tanah Yogyakarta. Sah ya? Sah! Sah!.


Selesai dari tugu kami menyusuri jalan Malioboro. Saking ramainya malam minggu dijalan ini, kami tidak tahu harus parkir dimana? Maka nongkrong-nongkrong kece dengan kopi joss ala ABG jalan Malioboro diganti dengan nongkrong-nongkrong imut dengan wedang ronde ala Alun-alun kidul. Sepanjang perjalanan malam itu di jalan Malioboro yang menarik buat saya adalah totalitas senimannya. Kalau kita ingat ada grup musik kelanting asal Jogja yang pernah masuk di acara Indonesia Mencari Bakat tahun lalu, disini ada banyak. Ada juga penampilan ikatan mahasiswa papua dengan tari-tarian daerah mereka, rupanya sedang ada penggalangan dana. Sayang, saya tidak turun dan mendokumentasikan usaha kreatif mereka dengan video saat itu.

Di Alun-alun selatan ini rasa capek saya sepanjang perjalan siang tadi terbayar lunas. Biar kata orang norak tapi kami semua sangat menikmati  permainan di Ringin Kurung (dua pohon beringin besar) yang menurut mitosnya kalau kita berhasil melewati jalan diantara dua pohon ini maka keinginan kita dapat terkabul. Enam orang dari kami yang mencoba hanya dua orang saja yang berhasil melewati jalan antara Ringin Kurung, empat sisanya gagal. Termasuk saya, hahaha. Di alun-alun ini juga banyak odong-odong, becak berlampu warna-warni yang pernah saya naiki di alun-alun Pekalongan tempo lalu. Bedanya alun-alun disini lebih besar dan odong-odongnya lebih bervariasi, bahkan ada yang bisa dinaiki atapnya. Harga sewanya Rp.15.000 /putaran alun-alun.


Minggu paginya kami putuskan untuk mengunjungi daerah wisata Gua Pindul, wisata gua dan body rafting yang ada di kawasan Gunung Kidul. Sebelum berangkat kami memastikan kembali tempat wisata itu buka atau tidak, karena sering kali di jalan menuju Gua dipasangi baliho besar yang memberitahukan lokasi sedang di renovasi. Kami memastikannya melalui kenalan tuan rumah yang tinggal tidak jauh dari sana. Walau menurut kabar lokasi tutup tetapi feeling kami tetap berangkat, berbekal gambling "siapa tahu buka", benar saja, ternyata yang memasang baliho tersebut adalah oknum iseng yang tidak kebagian 'jatah' pungli, begitu kabar yang kami dapat melalui pemandu wisata di Gua Pindul. Untuk memastikan Wisata Gua buka atau tidak, kita dapat bertanya atau dipandu orang yang (bekerja sama dengan pengelola wisata) mangkal jauh di jalan menuju lokasi gua, mereka akan dengan suka rela mengantarkan kita sampai ke Gua Pindul. Orang-orang tersebut mirip dengan pengantar jalan alternatif menuju puncak ketika jam buka tutup tol berlaku. Bedanya mereka tidak minta bayaran, kita dapat memberikan tips kepada mereka dengan suka rela saja. Ini pengantar kami, bocah kecil yang usianya masih belasan. Semangatnya hebat, dia ada di garda paling depan yang menawarkan jasa antaran ke Gua Pindul. Jarak menuju lokasi lumayan jauh kalau kita tidak tahu jalan, bersyukur ada bocah kecil ini.

Goa Pindul

Saya tidak akan bercerita banyak tentang Gua Pindul pada postingan ini, saya akan buatkan khusus pada postingan selanjutnya. Kepalang janji juga dengan bapak-bapak dinas pariwisata yang kebetulan kami temui di tempat makan area bermain. Beliau dengan senangnya meminta tolong kepada kami untuk mempromosikan daerah wisata ini kepada teman-teman kami lainnya. "oh tenang pak, disini ada blogger" begitu celetuk mereka, teman-teman saya yang tidak mau repot. :p

Pulang dari sini kami berencana mampir ke Pantai Indrayanti, letaknya kurang lebih satu jam dari Gua pindul. Pantai baru di daerah gunung kidul yang masih belum terlalu terjamah, yang menurut pemandu wisata Gua Pindul kami juga, sunset di Pantai Indrayanti itu luar biasa. Pantai Indrayanti masih termasuk dalam rangkaian pantai gunung kidul (Pantai Baron, Krakal, kukup) yang letaknya agak lebih jauh sedikit. Namun ternyata kami tidak punya cukup waktu untuk mengejar sunset disana. Daripada tidak sama sekali, akhirnya kami memakirkan mobil di pantai Baron. Pemandangannya lumayan, hanya saja banyak sampah berserakan disekitaran bibir pantai. Banyak warung makan dan kapal-kapal nelayan penangkap ikan yang memadati pantai juga andil terbesar yang membuat pantai ini kurang teratur bentuknya. O iya, saya juga baru tahu satu hari setelahnya kalau pantai Baron ternyata berair asin dan tawar sekaligus. Pada sisi kanan karang pantai yang menjorok dan tidak tersapu ombak, airnya tawar dan berwarna hijau.

Pantai Baron

Malam harinya, sekaligus perjalanan pulang dan penutup rangkaian acara kami di Jogja, kami sempatkan dinner di Jejamuran yang lokasinya masih sekitaran Sleman. Restoran besar yang semua menunya adalah jamur (rendang jamur, tongseng jamur, omelet jamur, wedang jamur, dll) ini sayang jika di lewatkan, di restoran ini juga diperlihatkan berbagai tanaman jamur asli beserta informasi dan fungsinya, sambil makan kita juga bisa belajar ilmu baru. Begitulah rangkaian perjalanan kami di Jogja. Senin pagi kami sudah bertolak menuju Semarang kembali.

Dan lagi-lagi, kami ditampung dan dijamu oleh teman baik kami sendiri di rumahnya sampai selasa pagi. Setelah dijemput oleh tuan rumah kami diantar  berjalan-jalan melihat Semarang. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah klenteng Sam Po Kong, klenteng megah yang masih dalam tahap renovasi namun masih bisa dikunjungi ini, tiket masuknya Rp.10.000 dan tiket masuk tambahan sebesar Rp.20.000 jika ingin menginjakan kaki pada klenteng-klenteng besar utama yang digunakan untuk sembahyang. Aroma dupa dan keheningan klenteng menambah suasana khidmat yang cukup terasa. Dua orang teman kami ada yang di ramal di klenteng ini, lumayan seru bagi yang berminat mencoba melihat nomor peruntungannya. Sore harinya sambil menunggu magrib kami bersantai menikmati sunset di Pantai Marina. Setelah malam baru acara jalan-jalan dilanjutkan dengan berburu oleh-oleh khas di jalan Pandanaran. Wingko babat adalah incaran saya, bandeng presto adalah bonusnya. 

Klenteng Sam Po Kong

Ke semarang tidak lengkap jika belum mengunjungi wisata malam di Lawang Sewu. Tiket masuk Lawang Sewu Rp.10.000 kita bisa puas mengelilingi seluruh gedung kantor Kereta Api peninggalan belanda ini yang memiliki seribu pintu. Sebetulnya bukan benar-benar ada seribu pintu, hanya saja orang jawa saat itu berpikir saking banyaknya pintu maka disebut dengan seribu (sewu). Jumlah pintu aslinya sekitar 420-an. Dan dengan menambah Rp.10.000 lagi kita bisa menikmati sensasi horor basement yang gelap dan basah. Masuk kedalam sana harus menggunakan sepatu boot dan sebuah senter yang dipinjami pengelola. Buat saya bukan basementnya yang horor, melainkan cerita yang ada di ruangan paling bawah gedung utama itu pada jaman dahulu. Pada jaman penjajahan belanda di Indonesia, basement dijadikan sebagai pendingin ruangan alami yang di isi air. Setelah masuk penjajahan jepang, basement tersebut digunakan sebagai penjara bawah tanah, tempat dimana tahanan disiksa dan dipancung. Makanya tempat ini sering dijadikan sebagai tempat adu nyali di televisi.

Senin malam itu rasanya saya tidak ingin waktu berlalu dengan cepat. Sungguh, saya segan kembali ke Jakarta. Rasanya ingin selingkuh jangka panjang saja dengan rutinitas. Ya, liburan dan wisata alam memang racunnya formalitas pekerjaan. Semarang, Jepara dan Jogja, saya janji akan kembali! <3

4 comments:

  1. Gak sekalian mampir Solo kak? ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum sempat, kayaknya kalau kesana harus satu harian khusus ya :)

      Delete
  2. Aaaaarghhh... aku pengen banget ke sana :"(

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku doain biar cepat kesana yaa :")

      Delete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)