20 February 2013

Pekalongan

Pekalongan, 8-11 Februari 2013

Kalau boleh jujur, ini pertama kalinya saya menempuh perjalanan jauh menggunakan kereta selain tujuan Depok dan Bogor, pun teman-teman saya satu keberangkatan. Karena bukan lahir dari orang tua yang besar di kepulauan jawa dimana setiap tahunnya atau hari kapanpun bisa mudik menggunakan kereta, bukan juga bolang yang berani kesana kemari sendiri. Jadi, buat saya ini pengalaman baru. Datang ke kampung orang naik kereta pula. Yang amat disayangkan kami berangkat malam hari, pemandangan Jawa Tengah dan sekitarnya dari dalam kereta yang untuk pertama kalinya itu jadi absen untuk dinikmati.

Tujuan kami ke Pekalongan bukan murni traveling atau jalan-jalan, melainkan memenuhi undangan resepsi perkawinan yang ada di daerah Karanganyar. Berhubung penginapan dan akomodasi saya dapatkan secara cuma-cuma jadi saya anggap saja ini kerepotan yang mengasyikan. Service tuan rumahnya juga oke punya. Hari kedua setelah kami semua repot-repot di acara resepsi, kami disediakan kendaraan beserta supirnya yang bebas untuk dipulangkan jam berapa saja. Keliling pekalongan seharian penuh.

Dan... minggu siang itu, hal pertama yang ingin kami lakukan adalah: MAKAN ENAK!. Di kota yang menurut saya sepi dan agak kering ini, susah sekali mencari kuliner kaki lima yang enak. Padahal saya mengharapkan ada banyak angkringan dan jajanan khas sejenisnya di pinggir jalan Urip Sumoharjo, jalan didekat hotel. Jadi yang kami incar pertama kali adalah kulineran. Beruntung supirnya gaul, pemuda asli sana yang hafal jalan termasuk jalan ibukota. Siang itu kami dibawa ke  RM Eco Raos yang terletak di jalur pantura, Jl. Gajah Mada. Foto ayam gepuk disamping ini jelas enak. Gurih dan dagingnya itu lho... empuk banget! Tapi sekali makan sepertinya harus dua porsi ayam karena ukurannya kecil. Satu porsi ayam gepuk ini harganya sekitar sepuluh ribuan. Worth.


Yang paling authentic dari pekalongan adalah batik. Sayang kalau melawatkan batik pekalongan sebagai buah tangan. So buat ibuk-ibuk yang doyan belanja pasti sudi mampir ke IBC (International Batik Center), lokasinya juga masih sekitaran jalan pantura. Harga-harga batik yang ditawarkan disana saya katakan standar, tidak murah dan tidak mahal. Tergantung dari jenis dan tokonya. Batik Tulis, batik cetak atau batik-batikan. Model gamis, kemeja, blazer atau asesoris nuansa batik yang lumayan kumplit. Yang diperlukan tetap ilmu negosiasi karena hampir semua tokonya bisa ditawar. Saya pernah iseng membandingkan model batik yang saya beli di IBC ini dengan yang ada di Plaza Semanggi, harganya bisa lebih murah tiga puluh ribu rupiah. Another Worth.

Ada kejadian ceroboh dimana teman saya kehilangan handphonenya di IBC, dia lupa terakhir dipegang dimana. Kami sudah mencari disetiap tas dan disetiap kantong belanjaan tidak ada bunyi atau getar ringtone. Akhirnya kami kembali pada toko terakhir yang kami kunjungi untuk mencari handphone yang siapa tahu ketinggalan, tapi tetap tidak ada juga. Yang saya salut, semua mas dan mbak penjaga tokonya ikut-ikutan repot mencari, menelepon dan merasa bertanggung jawab atas handphone teman saya itu. Sampai handphone itu ketemu, si mas dan mbaknya masih saja menanyai kita "handphonenya sudah ketemu?" mereka memastikan dengan cara yang sopan. Oya, akhirnya handphone teman saya itu ketemu di dalam tasnya sendiri, karena di silent mode jadi handphonenya susah ditemukan. Pelajaran beharga: Jangan pernah men-silent mode handphone ketika bepergian atau satu toko kepanikan!

Pada awalnya ada banyak rencana tempat wisata yang ingin dikunjungi, karena acara belanja menyita waktu banyak, akhirnya pemandangan pemandian air panas Guci dan pegunungan yang saya lupa namanya digantikan dengan pemandangan laut yang paling dekat jaraknya. Pelabuhan perikanan nusantara pekalongan. Tiket masuknya cuma Rp. 2000. Disini kita bisa lihat: taman kecil dengan gazebo-gazebo yang isinya kebanyakan orang pacaran, bapak-bapak mancing ikan, dan sunset yang tidak dramatis karena gerimis. Hmm ... Gerimis, lalu hujan yang memaksa kami untuk pindah tempat ke alun-alun.


Alun-alun kota pekalongan dengan jalan-jalan kecil disekeliling bundarannya, menurut saya mirip dengan taman suropati yang ada di Jakarta. Bedanya disana ada museum batik, tugu huruf yang bertuliskan B.A.T.I.K dan becak. Saya sebut becak itu odong-odong karena bentuknya yang ramai mirip odong-odong yang suka dinaikan oleh balita di Jakarta. Ada yang berbentuk angsa, helikopter, lumba-lumba, kembang-kembang dan berlampu neon warna-warni yang bisa disewa dengan harga Rp. 12.500 per dua kali putaran alun-alun. Karena kali ini yang sewa cewek-cewek kece, bapak itu susah menolak waktu saya tawar Rp. 15.000 untuk tiga kali putaran. Aye! :D

Empat orang wanita dewasa naik odong-odong yang senangnya menyerupai balita, bahkan sampai merekam momen bodoh itu dengan video handphone segala. Gak munafik saya pun girang juga sampai gak habis pikir: ini baru odong-odong di alun-alun Pekalongan, apa kabarnya Subway di London? *gak mau bayangin*


Anyway, terimakasih banyak untuk yang berbahagia, Fitrin dan Rahmat.

9 comments:

  1. Menyenangkan, jadi inget, udah lama ga traveling hmm....

    ReplyDelete
    Replies
    1. menyenangkan memang, aku juga jadi pengen explore pulau jawa lainnya :D

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Klo ada waktu jangan lupa mampir ke Solo yha kak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, saya ada niat juga kok kesana. thx linknya ya :)

      Delete
  4. ke timur sedikit tepatnya di Batang itu tempat saya, hehe tengkyu udah rela berbagi keindahan daerah sya

    ReplyDelete
    Replies
    1. tengkyu juga mas sudah mampir disini :D

      Delete
  5. ah pekalongan kamu begitu mempesona sayang cuma lewat saja kemaren :)

    ReplyDelete
  6. mapir ke kedai jetayu pas malam"
    romantis.
    by asli orang pekalongan

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)