APRIJANTI

story, hobby, and beauty blog

Menikah

Barusan saya kedatangan tamu. Mantan tetangga dekat yang sampai sekarang masih sering main ke rumah, teman kecil dimana kami sempat besar bersama. Pertemuan terakhir saya dengannya adalah empat bulan lalu pada resepsi pernikahan dia. Setelah basa-basi panjang lebar, sayapun akhirnya bertanya bagai…

Hurt People Hurt People



Ada yang pernah nonton filmnya Ben Stiller satu ini? Kali ini film serius, agak membosankan menurut saya. Terbukti dari banyaknya orang yang keluar dari bioskop padahal filmnya masih setengah jalan, kalau saya memilih nonton sampai habis, penasaran dan kadung tiket sudah kebeli juga haha.. (gak mau rugi). Sama seperti kebanyakan penonton dengan ekspektasinya Ben Stiller pasti film komedi, padahal ini film drama dengan alur sangat lambat yang mengisahkan hidup seorang pria berusia 40-tahunan yang menganggap dirinya masih remaja, tukang kayu, setengah gila karena over-analisis. Memiliki hobi yang aneh: mengirimi surat kritik kepada setiap produk yang dia anggap perlu dikritik. Contohnya surat yang dia kirim untuk Starbucks seperti ini "Dear Starbucks, in your attempt to manufacture culture out of fast food coffee you've been surprisingly successful for the most part. The part that isn't covered by 'the most part' sucks."

Ah.. Well,

Tapi saya bukan lagi mau ngomongin film, cuma ada salah satu quote di film Greenberg yang bagus dan saya ingat terus "Hurt People Hurt People". Pertanyaan saya, Why (often) hurt people hurt other people?

[Film] Demi Ucok



Glo gak mau jadi seperti maknya:
kawin, lupa mimpi, and live boringly ever after.
Dia mau ngejar mimpi: bikin pilem.
Mak Gondut yang divonis hidupnya tinggal setahun lagi
bertekad mencari ‘Ucok’ agar Glo bisa kawin and live happily ever after.
Pertempuran pun dimulai.

Film yang menceritakan tentang pertentangan seorang ibu dan anak perempuannya. Apalagi kalau bukan "jodoh". Ibu yang sangat menginginkan anak gadisnya cepat-cepat menikah karena dia merasa umurnya sudah tidak lama lagi. Demi ucok untuk sang anak, sang ibu rela melakukan apa saja. Ngomel setiap hari agar anaknya lekas kawin, menjodohkannya dengan lelaki-lelaki batak yang sesuai adat, sampai mengiming-imingi uang 1 M untuk mendanai film anaknya "Asalkan, kawinlah kau dengan batak." Sang anak, Glo, wanita dengan idealisme dan passion hidup yang tinggi tidak ingin menikah sampai cita-citanya terkabul: membuat film kedua dan sukses. Glo tidak ingin seperti Ibunya yang bermimpi tinggi menjadi artis ibu kota terkenal tetapi malah melupakan mimpinya, menikah, punya anak, kemudian menyesal ketika tua. Glo ingin membuktikan kepada ibunya bahwa dia bisa hidup dengan passionnya.

Film pertama yang dibuat Glo memang sukses tetapi film kedua tidak pernah selesai. "Bikin film pertama sih gampang. Film kedua gue gak boleh main-main lagi, harus profesional." Karena idealismenya itu juga Glo menjasi stres dan galau, film keduanya terus ditolak oleh produser yang beranggapan  "Film Indonesia itu yang penting ada banci, hantu dan susu." Glo berteman dengan Niki, lesbian yang sedang hamil yang berprofesi sebagai penjual film bajakan tetapi berpenghasilan dua ratus juta rupiah perbulan dari website pribadinya. Bisa dibilang Niki disini menjadi penasehat utama Glow. Dan Acun, teman pria yang dijadikan artis pada film pertama Glo, terkenal pada masanya, terjerumus pada gaya hidup roket, kemudian jatuh miskin lagi. Lalu akhirnya menjadi karyawan perusahaan sabun multinasional berpenghasilan sepuluh koma dan melupakan citra-citanya menjadi artis dan penyanyi.


back to top