APRIJANTI

story, hobby, and beauty blog

Surat Terbuka untuk Zus Ika

Duren Tiga, 5 Desember 2013
Zus Ika, Aku paham kamu pernah kesal bahkan marah kepada orang dengan status menikah–khususnya wanita menikah–atas pertanyaan mereka kepada wanita yang belum menikah, "kenapa belum?". Wajar, aku juga pernah diberi pertanyaan-pertanyaan macam itu, karena aku ju…

Setelah Menonton Teater

Tepat minggu kemarin, 17 November 2013, pada jam ini saya sedang ada di TIM, menonton pertunjukkan teater Koma bertajuk Ibu yang tampil di hari terakhirnya. Ibu yang diadaptasi dari naskah Bertolt Brecht - Mother Courage and Her Children, menceritakan tentang Ibu Brani dan ketiga anaknya. Mereka adalah pedagang gerobak keliling di tengah medan perang yang tidak berkesudahan. Jika sedang berjualan di kasawan Matahari Putih, maka Ibu Brani akan memasang bendera Matahari Putih di gerobaknya, pembeli barang dagangannya sudah pasti tentara dan pasukan Matahari Putih. Begitu pun sebaliknya, jika mereka sedang berjualan di kawasan Matahari Hitam. Ibu Brani memanfaatkan keadaan perang agar memperoleh keuntungan dari gerobak jualannya. Tapi, adakah yang benar-benar diuntungkan dari sebuah konflik? Sang sutradara - N. Riantiarno menuliskan pada buku panduan teater yang dibagikan saat pertunjukan, bahwa alasan dia memilih naskah Bertolt Brecht untuk ditampilkan adalah untuk menjawab isu Pemilu yang akan diselenggarakan 2014 nanti. Isu yang nyentil. Maka pada Maret 2014 nanti, bertempat di TIM juga, keluarga teater Koma menjanjikan penonton kala itu untuk datang kembali melihat pertunjukan mereka dengan tajuk yang berbeda. Yang bikin saya penasaran. Yang pasti akan buat saya menangis lagi ketika pertunjukan usai dan tirai ditutup.

Pertunjukan yang seperti itu selalu membuat saya terharu. Bukan karena bagusnya cerita atau megahnya panggung, tetapi passion pemainnya yang selalu buat saya iri. Melihat mereka menari-nari, berteriak-teriak di atas panggung, dan melagukan naskah yang sama selama setengah bulan berturut-turut. Apalagi yang tidak membuat mereka kebosanan melainkan cinta? Sama harunya ketika saya melihat dua empu sastra di Teater Salihara tepat empat minggu yang lalu. Leon Agusta, penyair yang sudah renta bahkan berjalan saja musti dipapah, tetapi pembacaan puisinya sanggup membuat semua orang bergeming. Bicara beliau sama seperti langkah kaki yang bisa diayunkannya saat ini, lambat saja, tidak berapi-api, tetapi sanggup membuat satu ruangan berkontemplasi. Putu Wijaya, hampir 70 tahun usianya, setengah badannya sudah habis dimakan penyakit stroke. Pasti kamu tidak akan tega melihat beliau berjalan ke tengah panggung dengan tongkat penyangga dan dipapah anak istrinya. "Oh. Seharusnya kakek-kakek itu istirahat saja di rumah!" Namun saya tak menyangka suaranya masih sama menggelegar seperti saat dia muda. Padahal dia hanya bisa duduk saja, air liur yang tidak sengaja selalu keluar dari bibirnya itu sesekali dilapnya dengan sapu tangan, bibirnya sudah lumpuh setengah. Beliau berteriak-teriak menghidupi naskah Merdeka yang dibacakannya. Tanpa melihat teks. Dia ingat. Luar biasa! Saya seperti menonton teater dengan banyak lakon dan iringan musik. Pembacaan naskah Merdeka bersama anak lelakinya mendapat tepuk tangan paling meriah.


Salihara dan Sarasvati

Postingan ini merupa sebagai ucapan terimakasih saya kepada pertunjukkan sangat tidak biasa yang saya dapat secara cuma-cuma. Ucapan terimakasih saya kepada Salihara yang mendatangkan banyak sekali penyair besar Indonesia dan mancanegara ke dalam teater kecilnya sampai akhir Oktober ini, yaitu acara rutin 2 tahunan Komunitas Salihara. Selain syair dan pepuisian ada juga beberapa pertunjukkan musik, teater dari mancanegara seperti Inggris dan Jepang, pameran seni rupa, sampai kelas tarot. Tahun 2013 ini mereka menamai acaranya "Sirkus Sastra".

Terimakasih Salihara untuk acara luar biasa ini. Akhirnya kami yang biasa duduk sebagai pembaca kertas berisikan cetakan syair-syair bagus, bisa juga duduk dekat menatap dan mendengar suara penyair seperti: Arafat Nur, Djaenar Mesa Ayu, Joko Pinurbo, Seno Gumira Ajidarma, Arswendo Atmowiloto, Putu Wijaya, Sitok Srengenge, dan lainnya secara live!

Sabtu, 5 Oktober 2013, tidak akan saya lupa pertemuan pertama kali saya dengan Joko Pinurbo, salah satu penyair yang saya penasaran sekali bagaimana bentuk rupanya. Bisa melihat dan didongengi puisi yang dibawakan oleh penulis aslinya, buat saya itu sudah lebih dari cukup. Jadi alangkah kurang ajarnya saya sebenarnya karena tidak memperhitungkan nama penyair selain Jokpin yang tertera pada daftar di hari itu, yaitu: Bamby Cahyadi, penulis yang merangkap sebagai manajer restoran besar cepat saji di Jakarta, yang saya ingat betul jawaban atas pertanyaan MC kepadanya, "mengapa menulis?" Bagi Bamby menulis adalah wujud penyeimbang jiwanya. Terdengar sama dengan judul Blog saya ya? hehe. Lalu ada Deddy Arsya, penyair kelahiran Bukit Tinggi yang syair-syairnya sangat kuat berisi tentang kekecewaan 'urang awak' pada masa silam. Ada juga Maria Peura, penulis cerita anak yang berasal dari Finlandia. Dia bercerita bagaimana kehidupan anak-anak yang ada di perbatasan Finlandia dan Swedia. Sepatu putih yang dikenakan Maria Peura akan saya ingat betul! Sayangnya tidak saya foto.



Apa Yang Kamu Lakukan Pada Sebuah Kenangan?

"Apa yang kamu lakukan pada sebuah kenangan?"
Kalau kamu menanyakan hal itu kepadaku, maka aku akan menjawab "Membingkainya. Lalu menaruhnya pada sudut ruangan."
"Bukan menguburnya ke dasar bumi paling dalam atau melemparnya ke ujung langit paling tinggi. Karena menurutku, …

Buku: Pengakuan Eks Parasit Lajang

PENGAKUAN EKS PARASIT LAJANG
Penerbit: KPG
Jenis: Novel (Autobiografi)
Tebal: 328 halaman
Harga: Rp 60.000

Kira-kira enam atau tujuh tahun lalu saya ingat betul pernah membaca buku berwarna biru ber-cover wajah seorang wanita di depan wastafel yang terkesan digambar asal saja, seperti dibuat oleh anak SD yang baru bisa menggambar. Karena cover-nya berbeda dari kebanyakan buku yang telah saya baca, saya jadi tergelitik mengambilnya diantara tumpukan buku di tempat penyewaan dekat kampus. Saya pikir ceritanya lucu, tetapi kok judulnya: Seks, Sketsa, & Cerita, "Si Parasit Lajang".

Saat itu untuk pertama kalinya saya membaca sebuah esai feminis garis keras dengan ide-idenya yang tegas sekaligus lucu. Cerita, unek-unek dan kegelisahan yang dialami penulis dituangkan melalui kumpulan esai tersebut. Secara garis besar isi buku Si Parasit Lajang menceritakan alasan-alasan penulis memilih untuk tidak menikah dan tidak menabukan sex. Penulis ingin memaparkan kepada pembaca, khususnya masyarakat Indonesia yang masih berbudaya Patriarki, mengenai pemikiran wanita modern Indonesia yang menginginkan kehadirannya diperhitungkan dan setara dengan lelaki. Serta tulisan lainnya ala logika Ayu Utami yang luput dari perhatian kita.


Tujuh Hari

Saya tidak takut mati. Tetapi, saya takut membayangkan disiksa sampai mati.
Waktu Sekolah Dasar dulu, guru saya pernah bercerita bahwa seharusnya penjahat yang dihukum seumur hidup tidak dimasukkan ke dalam penjara lalu dibiarkan hidup begitu saja sampai ajalnya tiba, melainkan disiksa sampai mati…

Di Balik Gerobak Kayu

Kejadian yang paling aku ingat dari sosok di balik gerobak kayu adalah tentang pengalaman gadis kecil yang lucu. Gadis kecil yang sering bermain sendiri, usianya setelah balita, lebih sering dikurung di dalam rumah daripada dibiarkan bermain dengan sebayanya. Konon Ibunya tidak tega anak gadisnya s…

Kalau Aku Semakin Tua ...

Sebelumnya, saya ucapkan Selamat Idul Fitri. Saya minta maaf atas postingan-postingan kemarin yang kurang berkenan.
Buat saya liburan Idul Fitri tahun ini terasa pendek, mungkin karena jatuh pada hari kamis, setelah itu weekend,  setelah itu kembali Senin. Dan saya sebagai newbie di kantor belum b…

Perempuan Dalam Cerita

Jadi begini, buku ini ada di meja saya sekarang karena tidak lain dan tidak bukan rasa penasaran akan macam-macam jeroan di dalamnya. 15 cerita yang ditulis oleh 13 cerpenis pemenang sayembara Perempuan Dalam Cerita yang diadakan oleh penulis Ika Natassa dalam rangka mengapresiasi hari Kartini dengan sebuah cerita, dalam blognya. Lalu, kenapa buku ini harus saya beli? Pertama, tema yang diangkat adalah perempuan, berarti di dalamnya tertulis sesuatu yang bisa jadi soal saya. Kedua, semua royalti penjualan buku ini akan disumbangkan kepada yayasan Lembaga Pemberdayaan/Perlindungan Perempuan Korban Kekerasan dan Perkosaan, saya pikir ini penghematan beramal karena dapat bonus buku. Ketiga, buku ini adalah bacaan belajar saya, supaya menulis lebih baik lagi, supaya pada sayembara-sayembara berikutnya tidak hanya masuk sebagai 30 semifinalis saja, supaya someday nama saya ada tersempil diantara mereka pemenang sayembara ini.

*Inti dari intro review buku yang mau saya tulis sih, cuma kepengin bilang hal ini. Iya, pamer karyanya si empunya blog :p

Mari kita review sebagian karyanya. Tetapi saya tidak mau terlalu spoiler, biar ada sensasi penasarannya. Siapa tahu kan, buku ini juga berjodoh dengan anda.

Review



PEREMPUAN DALAM CERITA
Penerbit: nulisbuku
Jenis: Kumpulan Cerpen
Tebal: 170 halaman
Harga: Rp 55.000

Cerita pertama diawali oleh cerita pemenang lomba sayembara yang berjudul 3 Perempuan. Perempuan pertama bernama Minah, istri petani garapan yang kesepian karena ditinggal suaminya ke Kota. Minah galau kalau-kalau suaminya beristrikan lain di Kota. Perempuan kedua bernama Marisa, wanita yang sangat terus terang, binal dan punya kepercayaan diri yang tinggi. Marisa membenci sikap menye-menyenya Minah dan Maggie: wanita ketiga yang kutu buku dan paling bijak diantara keduanya. Mereka bertiga mempunyai benang merah yang sama, kesepian, hanya bertiga di dalam ruang gelap berharapkan satu orang wanita bernama Miranda.

Tentang Kegiatan Kaya Sastra Bersama Ika Kemarin Malam

Dear Ika,

Saya senang sekali dengan ajakanmu beberapa hari yang lalu untuk melihat Pameran Naskah Kuno Betawi di Taman Ismail Marzuki kemarin Sabtu. Sebelumnya kamu mengirimi info pameran tersebut kepada saya agar mungkin menambah rasa ketertarikan saya; atau wujud dari ketertarikanmu yang tidak terkira. Setelah membaca link tersebut, saya tidak pikir panjang untuk setuju dan langsung mengiyakan saja. Menurutmu, saya adalah pecinta naskah kuno. Entah bukti darimana atau karena buku Omar Kayam karangan Harold Lamb yang kamu pinjamkan yang membuat saya enggan mengembalikannya cepat-cepat? Kertas usang dan halaman kekuningan yang menciptakan bau khas dari lembaran buku lama rasanya seperti aromaterapi buat saya. Maka dari itu saya menyimpulkan alasan kamu menyebut dan mengajak saya adalah keputusan tepat. Sedikit pengakuan di sini, sebenarnya saya hanya penggemar cerita klasik. Buku favorit saya sampai sekarang masih cerita tentang Laila Majnun karangan Nizami yang diceritakannya pada abad ke-12. Laila Majnun merupakan cerita yang menginspirasi Shakespeare untuk membuat Romeo and Juliet pada abad ke-15. Sayangnya buku tersebut tidak pernah kembali lagi kepada saya.

Dan siang itu ketika memasuki galeri pameran, saya perhatikan pertama kali adalah tiga Baliho besar dekat pintu masuk yang menceritakan silsilah keluarga Muhammad Bakir sebagai penyalin Naskah dan penulis hikayat. Karyanya yang didapat sekarang ini sebagian besar dari koleksi yang dikumpulkan oleh Bataviaasch Genootchap van Kunsten en Wetenschappen mulai abad ke-17 akhir. Yang kemudian, karya-karya yang ditulis dan disalin Bakir tersebut diberi nama Naskah Pecenongan.
Saya masih belum paham.

Lucid Dream dan Sleeping Beauty

"Sana main sama kakaknya!" Lalu bocah kecil itu menghampiriku dengan malu-malu setelah diperintahkan oleh wanita paruh baya berkerudung hijau yang rasa-rasanya aku juga tidak kenal. Wanita paruh baya berkata dengan hanya menolehkan kepalanya ke arahku kepada bocah kecil itu – karena sedang sibuk keluar masuk dapur mempersiapkan makanan untuk semua tamu – sepertinya dia tidak mau diganggu.

Aku sedang duduk bersandarkan tembok pembatas dapur dan labirin menuju ruang tamu sambil memegang sendok dan kue black forest yang masih ada dalam cetakannya. Aku ingat, kue black forest ini mirip sepeti kue yang dibuatkan anak didikku sebagai hadiah ulang tahunku kemarin. Penuh dengan coklat. Permukaan kuenya dilapisi coklat dan pada setiap lapis kuenya ada lelehan coklat manis pula. Humm...

Disini sedang ada acara keluarga besar, di rumah kakaknya Ibu. Acara keluarga besar versi keluarga Ibuku adalah acara yang tidak hanya dihadiri oleh saudara-saudara kandung tetapi juga saudara-saudara yang bisa kubilang jauh, atau saudara-saudara dari nenek, bahkan sampai tetangga di kampung yang menetap di Jakarta dan bisa hadir dalam acara ini juga ikut bergabung. Kebayang kan berapa banyak orang dalam acara ini? Sebagian wajah yang sering kulihat saja yang aku kenal, lainnya tidak. Dan sialnya aku ini adalah contoh orang yang takut salah berbasa-basi dengan orang tua dan kurang nyaman berbasa-basi dengan banyak orang asing. Makanya lebih senang menghindari keramaian seperti ini.

Selamat Hari Wanita!

Tulisan tidak begitu penting ini saya niatkan sederhana saja, sesederhana curhatan saya mengenai Dismonera atau nyeri haid. Salah satu hal esensial yang menandai seseorang adalah wanita. Melahirkan, ditindik kupingnya, dan gemar bersolek juga tanda seorang wanita, tetapi mereka bisa ditolak kebera…

Bloggers Block, Ben dan Rapid Fire Question

Pada perjalanan kerja menuju tol Cipularang saya coba menulis postingan ini. Dengan cuaca dan suasana hati yang sama bagusnya, saya akan menjawab tantangan Rapid Fire Question yang masuk ke tab mention twitter subuh dini hari tadi dari blogger tengil satu ini http://benagustian.blogspot.com/2013/0…

Tentang Cidera yang Disembuhkan oleh Kata-kata

Pada pelajaran mengenai anatomi tubuh, guru Biologiku pernah berkata "tulang ekor dan umbai cacing (usus buntu) adalah organ tubuh yang tidak mempunyai fungsi", dengan kata lain tidak berguna. Lantas mengapa dengan isengnya Tuhan ciptakan mereka kalau tidak berguna? Adakah hal yang sia-s…

Sebut Saja Dia Sahabat

Dulu anak didik saya sering bertanya, "waktu usia sekolah, kakak paling suka berada di SD, SMP, atau SMA?" Saya mengerti pertanyaan itu timbul karena dia sangat menikmati kehidupan SMP-nya dan membandingkannya dengan kehidupan yang saya punya dulu. Pertanyaan itu juga timbul karena dia t…

Wisata Goa Pindul, Gunung Kidul

Sesuai janji saya pada postingan sebelumnya untuk membuat judul khusus "wisata di Goa Pindul"

Keterangan mengenai Gua Pindul banyak kami dapatkan melalui bapak-bapak dinas pariwisata yang kebetulan bertemu sewaktu kami beristirahat dan makan siang. Menurut saya mereka sangat humble dengan tidak membuka kedok pekerjaan sebelumnya dan mengajak ngobrol para wisatawan yang berkunjung (khususnya wisatawan diluar Jogja) untuk ditanyai testimoninya, kritik dan saran mengenai tempat wisata tersebut, lalu berterima kasih untuk meluangkan waktu mengunjungi Gunung Kidul. "Kami dari dinas pariwisata dan mohon untuk dibantu promosikan mengenai Goa Pindul ini pada teman lainnya", begitu kata mereka pada akhir pertemuan kami. "Dengan senang hati pak, akan saya tulis", jawab saya dalam hati. Syukur-syukur ada 100 orang lebih yang pergi kesana setelah membaca postingan ini, hehehe.

Wisata Goa Pindul ini masih terbilang baru, merupakan program dinas pariwista Jogjakarta yang membuka lahan-lahan potensial pariwisata demi kemajuan tiap-tiap daerah. Bekerjasama dengan masyarakat sekitar dan mahasiswa perguruan tinggi, maka di daerah Gunung kidul dibukalah lahan wisata baru pada tahun 2010. Tidak hanya Gua Pindul yang dapat kita jelajahi disini, ada juga body rafting menelusuri sungai Oyo selama kurang lebih satu setengah jam, off road dengan mobil, dan lainnya yang dibagi kedalam pilihan paket-paket wisata. Berikut paket-paket (seingat saya) yang bisa kita pilih disana:

Paket A : Body Rafting menelusuri sungai Oyo menggunakan ban, Rp.45.000
Paket B : penelusuran Gua sempit yang harus dillalui dengan cara merangkak, Rp.30.000
Paket C : penelusuran Gua Pindul diatas sungai yang harus dilalui menggunakan ban, Rp.30.000
Paket D : Off road (maaf, saya lupa harganya)

Rombongan kami memilih paket A dan paket C sekaligus.


Gelombang Karimun Jawa Membawa Kami ke ...

Jogja - Semarang, 9-12 Maret 2013

Harusnya Judul Postingan Blog kali ini, yang saya sudah buat draftnya dari jauh hari sebelum keberangkatan adalah "Karimun Jawa". Sudah terbayang-bayang di kepala kami semua pemandangan laut dan langit yang beradu biru, pulau kecil-kecil yang memesona, bibir pantai dengan sunrise dan sunset yang lezat, dan penakaran anak hiu yang seru, tapi... Itu semua urung sudah. Berhubung tanggal yang kami rencanakan untuk menyebrang ke pulau Karimun Jawa dari pelabuhan Jepara ditiadakan. Walhasil untuk menutupi kekecewaan acara liburan, kami memutuskan melarikan diri ke Jogja dan sekitarnya.

Kami tiba di dermaga Jepara kurang lebih pukul 10 pagi tanggal 9 Maret, hari itu sabtu yang cerah walau memang cuaca hari-hari sebelumnya sangat buruk karena hujan terus, begitu juga cuaca yang ada di Jakarta. Pihak pulau juga mengatakan kepada kami kalau sampai hari kamis cuaca disana masih buruk maka uang muka akan di kembalikan, syukurlah hari jumat cuaca membaik walau pihak pulau belum memberi guarantee untuk bisa menyeberang pada sabtu paginya. Dengan harapan cuaca membaik, kami berangkat menuju semarang sabtu subuh. Dan ternyata memang bukan jodohnya, semua kapal tidak ada yang bisa menyeberang sampai tanggal 11 Maret karena gelombang laut bisa mencapai ketinggian 6 meter, begitu pihak BMKG menginfokan kepada semua orang yang sudah sampai di dermaga pagi itu. Kurang lebih ada 300 orang yang nasibnya sama seperti kami. Sedih? Iya. Tapi setidaknya kami dapat pelajaran berharga bahwa bulan yang bagus dan aman untuk menyeberang ke pulau atau wisata laut sejenis itu adalah sekitar April s/d September.

Surat Cinta dari Anakku

Few weeks ago my kid texted me, she told me she got German language tasks to create a letter about favourite teacher. Honestly, since me drowning in damn busyness and replaced by another teacher, I officially was not her teacher anymore. But she picks me. And this letter send by today, success mad…

[Film] Silver Linings Playbook


Pertama, saya penasaran apa yang buat film drama komedi ini begitu bagusnya sehingga masuk di banyak daftar nominasi Oscar 2013 dan Jennifer Lawrence menang sebagai Best Actress melalui film ini? Kedua, Bradley Cooper kan ganteng. Ketiga, sebelumnya saya kurang bisa menebak kalau dilihat dari poster filmnya yang berseliweran di XXI, film ini ada di kategori mana? Drama, romance, comedy atau lainnya. Menjawab ketiga alasan yang membuat saya penasaran akhirnya saya menonton film ini untuk kedua kalinya. Dialognya yang padat itulah yang buat saya ingin menonton untuk kedua kalinya, satu percakapanpun sayang untuk dilewatkan.

Film ini menceritakan tentang Pat (Bradley Cooper) yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa karena menderita mental disorder akut, Bipolar, yang diperparah setelah Pat memergoki istrinya selingkuh dengan guru di sekolah tempat dia mengajar. Dari situ hidupnya berubah, Pat kehilangan semuanya: istrinya, rumahnya, pekerjaannya dan dirinya sendiri. Walau tahu istrinya selingkuh, Pat masih terobsesi dengannya dan berusaha keras untuk sembuh hanya agar bisa kembali pada istrinya. Sayangya Pat masih dalam pengawasan RS dan polisi sehingga tidak memungkinkan dia untuk melakukan itu semua. Hal yang bisa dilakukan Pat adalah menulis surat, tetapi dia tidak tahu alamat istrinya. Lalu Tiffany (Jennifer Lawrence), wanita rapuh mantan pecandu sex yang tidak kalah juga gangguan mentalnya pasca ditinggal mati suami karena kecelakaan, datang memberi bantuan kepada Pat. Tiffany bersedia memberikan yang ditujukan Pat untuk istrinya tapi dengan satu syarat, Pat harus mau menjadi partner lomba tarinya. Tidak hanya bekerjasama dalam lomba tari, tanpa mereka sadari mereka berdua saling bekerjasama menyembuhkan satu sama lain.

Dan, bisa ditebak pada akhirnya, Pat dan Tiffany jatuh cinta dengan cara yang agak 'gila'. :D

Sepiring Tempe

"Aku gak butuh apa-apa lagi. Cuma butuh orang yang sayang sama aku; yang mau datang ke rumah kalau aku sakit, jam berapa aja, bawa segelas air putih."


image from anakfilm.com

Dialog itu, yang saya dengar dan lihat kurang lebih sebulan lalu waktu saya nonton premier film Rectoverso di Planet Hollywood. Normalnya sih kalau habis dengar itu cewek-cewek mendadak jadi melting atau kasihan atau terenyuh. Tapi... Saya malah tertawa.

Saya tertawa karena mengingat kejadian lama, waktu jaman masih hijau (halah). Kejadiannya kira-kira tahun 2000an awal, seperti ABG pada umumnya saya pernah mengalami cinta-cintaan layaknya remaja yang ada di sinetron. Satu cowok direbutkan dua orang, atau sebaliknya. Ada masa ketika orang yang saya suka ternyata menyukai teman dekat saya juga. Lalu pada akhirnya saya menyerah, malas berlarut-kalut pada hubungan yang sudah pasti salah. Saya bertanya kepadanya "pilih saya atau dia?" Dan hal yang paling saya ingat sampai sekarang, jawabannya atas pertanyaan saya itu, yang menjadi alasan saya tertawa ketika melihat dialog diatas adalah: "Apri, setiap hari aku butuh makan nasi dengan sepiring tempe. Tapi ada saatnya sesekali aku menginginkan seporsi Burger".

Ya. Saya adalah sepiring tempe.


Buku: Prie GS, Sang Penggoda Indonesia

Kegalauan yang saya rasakan ketika membaca buku bagus adalah: antara ingin buru-buru sampai pada akhir cerita karena saking asyiknya, atau tidak ingin buru-buru menyelesaikan membaca karena sedih bacaan bagus akan segera berakhir. Dilema yang aneh. Maka pada sebagian buku yang saya rasa sayang untuk dibaca buru-buru, nasibnya tergeletak nyaman di samping kepala tempat tidur. Akan saya baca sebelum tidur atau pada suasana hati yang sedang baik atau malah bisa jadi terlupakan, karena mudah sekali mata ini teralihkan oleh bacaan lain. Salah satu buku yang menjadi korban pilih-pilih saya itu berjudul "Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia" karangan Prie GS. Buku ini buat saya sangat spesial, sehingga baru dibaca 80 halaman (dari 440 halaman) tapi sudah diletakkan lagi "sayang ah dihabiskan, besok lagi saja dilanjutkan bacanya," pikir saya. Alhasil buku ini dilupakan hampir setahun lamanya dan baru kemarin malam saya membalik-balik lagi halamannya, terhibur lagi dengan isinya. Lalu saya berjanji dalam hati, buku ini harus dibaca terlebih dahulu. Lagipula saya memang pernah ada niatan untuk membuat postingan bukunya kang Prie GS ini.

Review



CATATAN HARIAN SANG PENGGODA INDONESIA
Renungan Sehari-Hari Seorang Budayawan,
Penuh Humor dan Kedalaman
Penerbit: Gramedia Pustaka utama
Jenis: Kolom, Catatan
Tebal: 440 Halaman
Harga: Rp. 55.000

Buku yang lumayan tebal ini berisi catatan sehari-hari penulis, komentar, gagasan, serta opininya terhadap situasi apa saja. Politik, sosial, keluarga, bahkan sampai kelelawar yang nemplok di rumahnya pun bisa jadi ceita lucu yang bagus. Tulisan-tulisan yang ada dalam buku ini berkisah tentang hal yang sederhana tetapi bisa membuat saya berkaca, merenung sangat dalam, terpelintir dan tertawa-tawa geli sendiri. Menurut saya tidak banyak orang yang bisa menceritakan sesuatu kedalam tulisan secara sederhana sehingga menjadi bisa diterima oleh siapapun tanpa terkesan berat dan menggurui, Prie GS ini salah satunya.


Menikah

Barusan saya kedatangan tamu. Mantan tetangga dekat yang sampai sekarang masih sering main ke rumah, teman kecil dimana kami sempat besar bersama. Pertemuan terakhir saya dengannya adalah empat bulan lalu pada resepsi pernikahan dia. Setelah basa-basi panjang lebar, sayapun akhirnya bertanya bagai…

Hurt People Hurt People



Ada yang pernah nonton filmnya Ben Stiller satu ini? Kali ini film serius, agak membosankan menurut saya. Terbukti dari banyaknya orang yang keluar dari bioskop padahal filmnya masih setengah jalan, kalau saya memilih nonton sampai habis, penasaran dan kadung tiket sudah kebeli juga haha.. (gak mau rugi). Sama seperti kebanyakan penonton dengan ekspektasinya Ben Stiller pasti film komedi, padahal ini film drama dengan alur sangat lambat yang mengisahkan hidup seorang pria berusia 40-tahunan yang menganggap dirinya masih remaja, tukang kayu, setengah gila karena over-analisis. Memiliki hobi yang aneh: mengirimi surat kritik kepada setiap produk yang dia anggap perlu dikritik. Contohnya surat yang dia kirim untuk Starbucks seperti ini "Dear Starbucks, in your attempt to manufacture culture out of fast food coffee you've been surprisingly successful for the most part. The part that isn't covered by 'the most part' sucks."

Ah.. Well,

Tapi saya bukan lagi mau ngomongin film, cuma ada salah satu quote di film Greenberg yang bagus dan saya ingat terus "Hurt People Hurt People". Pertanyaan saya, Why (often) hurt people hurt other people?

[Film] Demi Ucok



Glo gak mau jadi seperti maknya:
kawin, lupa mimpi, and live boringly ever after.
Dia mau ngejar mimpi: bikin pilem.
Mak Gondut yang divonis hidupnya tinggal setahun lagi
bertekad mencari ‘Ucok’ agar Glo bisa kawin and live happily ever after.
Pertempuran pun dimulai.

Film yang menceritakan tentang pertentangan seorang ibu dan anak perempuannya. Apalagi kalau bukan "jodoh". Ibu yang sangat menginginkan anak gadisnya cepat-cepat menikah karena dia merasa umurnya sudah tidak lama lagi. Demi ucok untuk sang anak, sang ibu rela melakukan apa saja. Ngomel setiap hari agar anaknya lekas kawin, menjodohkannya dengan lelaki-lelaki batak yang sesuai adat, sampai mengiming-imingi uang 1 M untuk mendanai film anaknya "Asalkan, kawinlah kau dengan batak." Sang anak, Glo, wanita dengan idealisme dan passion hidup yang tinggi tidak ingin menikah sampai cita-citanya terkabul: membuat film kedua dan sukses. Glo tidak ingin seperti Ibunya yang bermimpi tinggi menjadi artis ibu kota terkenal tetapi malah melupakan mimpinya, menikah, punya anak, kemudian menyesal ketika tua. Glo ingin membuktikan kepada ibunya bahwa dia bisa hidup dengan passionnya.

Film pertama yang dibuat Glo memang sukses tetapi film kedua tidak pernah selesai. "Bikin film pertama sih gampang. Film kedua gue gak boleh main-main lagi, harus profesional." Karena idealismenya itu juga Glo menjasi stres dan galau, film keduanya terus ditolak oleh produser yang beranggapan  "Film Indonesia itu yang penting ada banci, hantu dan susu." Glo berteman dengan Niki, lesbian yang sedang hamil yang berprofesi sebagai penjual film bajakan tetapi berpenghasilan dua ratus juta rupiah perbulan dari website pribadinya. Bisa dibilang Niki disini menjadi penasehat utama Glow. Dan Acun, teman pria yang dijadikan artis pada film pertama Glo, terkenal pada masanya, terjerumus pada gaya hidup roket, kemudian jatuh miskin lagi. Lalu akhirnya menjadi karyawan perusahaan sabun multinasional berpenghasilan sepuluh koma dan melupakan citra-citanya menjadi artis dan penyanyi.


back to top