21 September 2012

Golput tidak mengeluh

Headline Okezone.com "37% golput pilkada DKI Warning untuk Pemilu 2014"

Meneruskan uneg-uneg mengenai Pemilukada Cagub-Cawagub putaran pertama kemarin di Pilih siapa? dan sampai pemilukada putaran kedua sikap saya juga tidak berubah, tetap golput hehehe. Golput buat saya bukan untuk gegayaan, ikut-ikutan kaum hipster, atau malas datang ke TPS (toh saya tetap datang ke TPS dan melakukan penyoblosan untuk merusak kertas suara), golput buat saya adalah cara yang hanya satu-satunya yang saya bisa lakukan untuk mengkritisi pemerintah, silent protest. Daripada banyak mengeluh atas ketidakpuasan performa pemerintah setiap harinya ya lebih baik tidak usah memilih saja, begitu pikir instan saya. Lalu yang saya sayangkan adalah sebagian dari kita, masyarakat jakarta yang seharusnya memiliki cara berfikir yang lebih modern ternyata masih ada juga yang apatis terhadap golput tersebut. Golongan memilih dan golongan tidak memilih seakan menjadi sebuah agama untuk difanatisi, dibuat ribut-ribut dan diperdebatkan.

Yang lucu buat saya adalah pendapat bahwa golongan tidak memilih kedepannya tidak dikenankan untuk protes terhadap performa pemerintahan terpilih, "kan gak milih lo!" katanya. Lalu dimana letaknya kebebasan berdemokrasi? Menurut saya memilih dan tidak memilih memiliki kesamaan hak dan kewajiban terhadap kota besar ini, sebut saja salah satu kewajibannya membayar pajak. Pajak dan Retribusi daerah sebagai sumber pendapatan guna pembangunan daerah. Lalu kalau pajak yang kita bayarkan tersebut tidak menjawab kebutuhan atau menjadi tidak terpenuhinya hak masyarakat atas kewajiban yang sudah terbayarkan, tidak bolehkah kita mengeluh? Toh kita semua membayar pajak yang sama, tidak bolehkah golput ini mengeluh?

Saya jadi berfikir seharusnya yang tidak boleh mengeluh itu ya orang-orang yang tidak sadar pajak saja, pengusaha-pengusaha jetset yang pajaknya sampai Milyaran dan tidak terjamah hukum. Atau sebagian kita yang memang sengaja tidak mau membayar pajak karena sudah hopeless toh ujung-ujungnya dikorupsi juga sama Gayus Tambunan and The Geng. Kalau mereka itu yang protes, bolehlah saya ikut marah juga. Gak bayar kok komplain :p

Membaca headline diatas membuat saya sedikit lega atas kekhawatiran pemerintah dengan angka stabil golput yang mencapai lebih dari 30% (khusus warga ber-ktp Jakarta), terlepas dari kesalahan teknis sehingga surat suara tidak berpemilih, angka stabil tersebut membuat pemerintah gusar atas dampak semakin berkurangnya animo masyarakat berpemilu 2014 nanti. Kegusaran bisa menimbulkan sikap? ya tentu saja. Semoga si pesimis-pesimis ini akan dirubah menjadi optimis nantinya dengan kinerja positif si empunya kepentingan. Semoga...

No comments:

Post a Comment

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)