Mimpi dan Cita-cita

Le Rêve (The Dream) by Pablo Picasso, 1932
Kemarin malam, di dalam commuter yang saya tumpangi pulang, anak (didik) saya menuliskan satu buah cuitan di akun twitternya, "I couldn't stop my tears T..T"

Lalu jiwa Mamak-Mamak saya terpanggil, kepingin tau ada apa dengan ini anak? Singkatnya Raport kenaikan kelasnya jelek dan masuk jurusan IPS, nilai Math turun drastis. Statementnya lucu banget "kakak... I better die, gede mau jadi apa neh?" (masih dengan emote nagisnya) T..T hahaha

Kurang lebih sejak lima tahun yang lalu, saya jadi tutor belajar Si Teteth dan adiknya. Saya beruntung kenal adik-kakak luar biasa cerdas ini. Bagi saya, mereka punya andil dalam warna hidup saya sekarang (jiee... ge'er tuh kamu!)

Sejak usia sekolah dasar mereka punya cita-cita yang kuat. Kakaknya, biasa saya panggil teteh, suka masak (tapi enggak suka makan gara-gara dibilang gendut) dan punya mimpi jadi Chef yang memiliki pabrik makanan. Dengan keras hati mau masuk teknik kimia ITB / Teknologi pangan IPB untuk mewujudkan cita-citanya.

Adiknya, Si Dede, gayanya lebih santai dari Sang Kak. Dia suka makan tapi enggak suka masak. Cita-cita jadi pengusaha sukses seperti sang ibu. Hebat, kan? Waktu SD saya mana punya cita-cita begitu.

Saya tidak berani bercita-cita.

Kata Ibu, dari dulu saya seneng menari. Ibu mau saya masuk sanggar tetapi Bapak malu. Zaman dulu yang bisa masuk sanggar cuma orang kaya bermobil. Sedangkan beliau hanya punya motor dan sepeda menang doorprice.

Waktu masuk SMP, di Sekolah ada pelajaran Bimbingan Konseling. Untuk pertama kalinya saya dipaksa menuliskan sebuah cita-cita di selembar kertas beserta alasannya. Saya belum punya imajinasi akan jadi apa saat itu. Disaat semua anak-anak bisa membayangkan diri mereka mengendalikan pesawat terbang, memegang pisau bedah di ruang operasi, atau duduk di kursi kulit empuk di balik meja kaca mewah, dan setiap hari hanya tanda tangan saja kerjanya, saya cuma kepikiran jadi Resepsionis Hotel. Bekerja di balik meja kayu dengan tutur kata yang ramah dan sopan, dan bisa berbahasa Inggris! Mungkin ini yang menurut saya cool pada waktu itu.

Giliran saya dipanggil maju kedepan gelas oleh guru BP. Dengan galaknya dia bertanya. "kenapa kamu cuma mau jadi resepsionis? kamu tau resepsionis kerjanya apa?". Ini guru memang perawakannya galak, logat batak dan muka tegas bikin Si Ibu disegani di Sekolah.

Jawaban saya kala itu cuma.., nyengir, Bagi saya pertanyaan ibu guru saat itu seperti omelan yang tidak berani saya jawab.

Seiring berjalannya waktu, memasuki usia SMA, saya jadi tahu akan jadi apa kelak. Cita-cita terbesar saya jadi juru rawat, dan sedikit berminat dengan teknik industri. Tetapi cita-cita saya kandas. Saya tidak diterima SPMB, Saya menolak masuk BMG dan jadi PNS. Saya malas membuang waktu untuk mencoba peruntungan SPMB tahun depan. Lalu saya sampai pada titik berfikir, saya akan jadi apa? Hal sama yang anak didik saya tanyakan tadi.

Saya sedih karena ada perasaan sedikit bertanggung jawab meninggalkan teteh kurang lebih setengah tahun lalu. Misal saya terus mengajar pun tidak ada jaminan sih dia bisa masuk IPA. Hiks.

"Kakak kalau aku masuk IPS tetep bisa bikin pabrik makanan, kan? Nanti ilmu masaknya aku ikut les-les aja." I just said TETEP!

"Kakak, aku mau masuk Le Cordon Blue di Paris." Huwaa... now, I'm crying. Oh, Tuhan, kenapa kau pupuskan cita-cita berani seorang anak? Saya, bahkan bermimpi seperti itupun tidak berani T..T

Dear teteh sayang,
Masuk jurusan IPS bukan berarti kamu kehilangan segalanya, orang-orang IPA tidak sehebat yang kamu kira. Einstein pun tidak masuk sekolah dengan jurusan IPA ketika dia menemukan teori relativitas. Tetapi teori itu malah jadi kitab suci anak-anak IPA sekarang. Terpenting dari semua itu adalah untuk tetap berani bermimpi, mimpi saja tidak cukup, bercita-citalah yang tinggi. Wujudkan itu semua dengan semangat. Engkau, teteh sayang, hanya perlu mengubah sedikit saja kebiasaan. Belajarlah dari ibu yang sangat optimis, karena akupun melihat dan belajar dari beliau untuk jadi wanita besar.

Dear teteh sayang, pernahkah kau mendengar kutipan ― Malcolm X
If you don't stand for something, you will fall for anything

Jika kamu tidak yakin pada apapun maka kamu akan kehilangan segalanya. Taukah kau, keyakinan itu adalah sebuah kehidupan. Yakin dan percayalah hanya pada diri sendiri. Ketika kamu bertambah besar nanti, teman setia yang membanggakan adalah mimpi-mimpimu, cita-citamu. Jangan takut gagal, karena gagal barulah abstraknya saja, masih ada bab-bab lain yang perlu kamu coba sampai menghasilkan sebuah kesimpulan. Yang terpenting bukan berapa kali kau gagal, teteh sayang, tapi berapa kali kau bangkit dari kegagalan. Dan lihatlah nanti kegagalan akan menyerah pada usahamu yang tak pernah sia-sia

Baru bangun tidur, pukul 08.45. new blackberry message from gia isa.
  • kakak!!!!!!!
  • udah bangun ka????
  • Aku jadi punya rencana lain kakkk :3
  • ......Hmm kata guru les ku yg sekarang, aku ttp bs masuk teknik loh kakak!!! Karna ada ujian mandiri, soalnya sekarang byk yg gt~

Yes, Darling, just keep believing. You and Me, be sure that you could dominating world, like you said before.

Because I still dreaming. One day I'm entering a cute restaurant, on the edge of the park. I'm sitting in the corner then chosing a menu, that menu is special because cooking by the owner. Beside that pretty plate there is a memo. "Special menu for my pretty teacher :)"

YOU CAN! NO ONE CAN LIKE YOU CAN. YOU BE ABLE TO THAT!

And now, my turn to keep dreaming too.

Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover
― H. Jackson Brown Jr., P.S. I Love You

 to my beloved kid,
Don't stop dreaming ~

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)

INSTAGRAM