30 June 2012

Mimpi dan Cita-cita

Le RĂªve (The Dream) by Pablo Picasso, 1932
Kemarin malam didalam commuter yang saya tumpangi pulang dan sedang asyik baca twitter, biasanya selain itu saya juga suka dengerin musik di player. Karena kalau tidur atau mikir suka kelewatan jalan pulang, harusnya turun di slipi malah sampai grogol, harusnya turun di tana abang bisa-bisa sampai bintaro. Di twitter ada timeline anak (didik) saya, dia bilang "I couldn't stop my tears T..TLalu jiwa ke mamak-mamak-an terpanggil, kepingin tau ada apa ini anak?. Singkatnya raport kenaikan kelasnya jelek dan masuk jurusan IPS, nilai math turun drastis. Statementnya lucu banget "kakak I better die, gede mau jadi apa neh (masih dengan emote nagisnya) T..T" hahaha...

Saya ikut sedih sekaligus seneng. Sedihnya kurang lebih sejak lima tahun yang lalu saya jadi tutor mereka untuk belajar apa aja, khususnya math, lebih khususnya ilmu ketawa bareng. Beruntung kenal adik-kakak luar biasa cerdas ini, untuk saya mereka punya andil dalam warna hidup sekarang (jiee ge'er tuh kamu). Dari usia sekolah dasar aja mereka sudah punya cita-cita.

Kakaknya yang biasa saya panggil teteh, suka masak (tapi gak suka makan gara-gara dibilang gendut) dan punya mimpi jadi Chief yang punya pabrik makanan, dengan keras hati nanti mau masuk teknik kimia ITB / Teknologi pangan IPB untuk mewujudkan cita-citanya. Adiknya, si dede, gayanya lebih santai dari sang kakak, suka makan tapi gak suka masak. Cita-cita jadi pengusaha sukses seperti sang ibu. Hebat kan? Waktu SD saya belum punya cita-cita, atau tidak berani bercita-cita. Kata ibu dari dulu saya seneng tari, mau dimasuki sanggar anak-anak tapi bapak malu karena zaman dulu yang masuk sanggar cuma orang kaya bermobil. Sedangkan beliau hanya punya motor dan sepeda menang doorprice.

Waktu masuk SMP ada pelajaran Bimbingan Konseling dan untuk pertama kalinya saya dipaksa menuliskan sebuah cita-cita di selembar kertas beserta alasannya. Sampai saat itupun saya masih belum punya imajinasi akan jadi apa, disaat semua anak-anak bisa membayangkan diri mereka mengendalikan pesawat terbang, memegang pisau bedah di ruang operasi, atau duduk di kursi kulit empuk di balik meja kaca mewah dan setiap hari hanya tanda tangan saja kerjanya. Saya cuma kepikiran jadi Resepsionis hotel yang kelihatannya menarik, bekerja dibalik meja kayu dengan tutur kata yang ramah dan sopan, dan bisa berbahasa Inggris sama om-om bule (ini yang menurut saya cool waktu dulu kayaknya). Sampai akhirnya giliran saya dipanggil maju kedepan gelas oleh guru BP. Kenapa kamu cuma mau jadi resepsionis? kamu tau resepsionis kerjanya apa?, tanyanya. Ini guru memang perawakannya galak, logat batak dan muka tegas bikin si ibu di segani di sekolah. Dan jawaban saya kala itu cuma "senyum". Bagi saya pertanyaan ibu guru seperti omelan yang tidak berani saya jawab.

Seiring berjalannya waktu, memasuki usia SMA saya jadi tahu akan jadi apa kelak. Cita-cita terbesar saya kala itu jadi juru rawat, dan sedikit berminat dengan teknik industri. Menjadi dokter terlalu tinggi, disamping biaya pendidikannya yang roket. Jaman SMA, orang tua harus sedia uang kurang lebih 80 juta agar anaknya bisa masuk jurusan dokter di universitas swasta. Dan cita-cita saya kandas juga, tidak keterima SPMB, menolak masuk BMG, malas buang waktu mencoba peruntungan tahun depan. Pikir saya kali itu sama seperti anak saya sekarang. Lalu saya akan jadi apa?

Saya sedih karena ada perasaan sedikit bertanggung jawab atas meninggalkan teteh kurang lebih setengah tahun lalu. Padahal kalau saya terus mengajar belum tentu juga dia bisa masuk IPA, hik.

"Kakak kalau aku masuk IPS tetep bisa bikin pabrik makanan kan, nanti ilmu masaknya aku ikut les-les aja". I just said TETEP!. "kakak aku mau masuk Le Cordon Blue di Paris". Huwaa... now, I'm crying. Oh Tuhan, kenapa kau pupuskan cita-cita berani seorang anak. Saya, bahkan bermimpi seperti itupun tidak berani T..T

Dear teteh sayang, masuk jurusan IPS bukan berarti kamu kehilangan segalanya, orang-orang IPA tidak sehebat yang kamu kira. Einstein pun tidak masuk sekolah dengan jurusan IPA ketika dia menemukan teori relativitas, tapi teori itu malah jadi kitab suci anak-anak IPA sekarang. Yang terpenting dari semua itu adalah untuk tetap berani bermimpi, mimpi saja tidak cukup. Bercita-citalah yang tinggi, wujudkan itu semua dengan semangat. Engkau, teteh sayang, hanya perlu merubah sedikit saja kebiasaan. Belajarlah dari ibu yang sangat optimis, karena akupun melihat dan belajar dari beliau untuk jadi wanita besar.

Dear teteh sayang, pernahkah kau mendengar kutipan ― Malcolm X, 
If you don't stand for something you will fall for anything

Jika kamu tidak yakin pada apapun maka kamu akan kehilangan segalanya. Taukah kau, keyakinan itu adalah sebuah kehidupan. Yakin dan percayalah hanya pada diri sendiri. Ketika kamu bertambah besar nanti, teman setia yang membanggakan adalah mimpi-mimpimu, cita-citamu. Jangan takut gagal, karena gagal barulah abstraknya saja, masih ada bab-bab lain yang perlu kau coba sampai menghasilkan sebuah kesimpulan. Yang terpenting bukan berapa kali kau gagal, teteh sayang, tapi berapa kali kau bangkit dari kegagalan, dan berapa kali kegagalan akhirnya menyerah pada usahamu yang tak pernah sia.


Baru bangun tidur, pukul 08.45. new blackberry message from gia isa.
  • kakak!!!!!!!
  • udah bangun ka????
  • Aku jadi punya rencana lain kakkk :3
  • ......Hmm kata guru les ku yg sekarang, aku ttp bs masuk teknik loh kakak!!! karna ada ujian mandiri, soalnya sekarang byk yg gt~

Yes darling, just keep believing. You and Me, be sure that you could dominating world, like you said before.

Because I still dreaming. One day I'm entering a cute restaurant, on the edge of the park. And I'm sitting in the corner then chosing a menu, that menu is special because cooking by the owner. And beside that pretty plate there is a memo. "Special menu for my pretty teacher :)"

YOU CAN. NO ONE CAN LIKE YOU CAN. YOU BE ABLE TO THAT!

And now, my turn to keep dreaming too.

Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover

 to my beloved kid,
Don't stop dreaming ~

No comments:

Post a Comment

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)