03 June 2012

Marah

Angry Fairy by Daily paint
Pernahkah suatu ketika kamu merasa di sekelilingmu hanya kamulah seorang diri yang menjadi dewasa? Kalau pernah aku jadi sedikit lega, ternyata bukan aku saja yang merasa sombong sendiri.

Suatu ketika tidak ada seorangpun yang berpikir sebelum berucap, lalu ucapannya terdengar amat menyakiti.

Suatu ketika tidak seorangpun dapat menghargai perbedaan, lalu kau di tuntut melakukan hal yang sama.

Suatu ketika tidak seorangpun yang menghargai suara, ide dan keputusan yang kamu pilih, lalu kau merasa sangat kerdil atas hidupmu sendiri.

Dan, suatu ketika semua orang dihadapanmu dengan bebas berkehendak, bersikap, berucap, tertawa, mencemooh atas dasar kebebasan hati tanpa peduli kalau kau juga punya hati. Lalu mereka bilang, santai sajalah kau ini terlalu serius. Yang saya tahu serius atau santai itu adalah reaksi atas situasi. Bagaimana kau bisa serius ketika menonton komedi di televisi dan santai ketika menguburkan jenasah ayahmu sendiri?

Adakah bagi mereka itu mengasyikan, mengenakan dan membawa ketentraman? Ah mereka itu seperti kanak-kanak. Cocoknya masuk sekolah play group saja bermain bola, pipis di celana dan memukul kawan sendiri lalu keesokan harinya bermain kembali seaakan lupa kejadian kemarin dan itu dimaklumi. Maka jika hal seperti itu datang dalam hidupmu anggap saja itu seperti sebuah etalase dihadapanmu atau seperti bayangan yang keberadaannya terlihat tapi tidak nyata, sehingga tidak akan mempersulit dirimu karena mereka tidak nyata.

Kadang yang kekanakan itu akan berubah menjadi sangat dewasa menjadi yang bukan sebuah bayangan, dihadapan orang lain dimana mereka harus mengerahkan segala tenaga untuk menjadi yang paling baik. Menjadi dengan baik berkehendak, bersikap dan berucap.

Ya, ya, merekalah yang kekanakan, karena aku sudah merasa sangat paham. Lalu aku harus bagaimana?

Aku kabur saja, lalu bertemu dengan yang bukan bayangan, kali ini Real. Yang bukan bayangan berkata, karena tidak semua protes yang ada dipikiranmu bisa dikeluarkan, alih-alih nanti kau menjadi seperti bayangan pula. Resiko yang paling kecilnya hanya ada dua. Pertama kau keluarkan saja apa yang ada di isi kepala itu seenak hati lalu pasti kau akan disegani dan kemudian mereka menjauh pergi. Efeknya nanti ada sedikit kekosongan tempat mereka di hatimu. Kedua jika kau tidak setuju dengan cara pertama, karena masih sedikit ada rasa akan hati yang semestinya di jaga maka kau sajalah yang pergi menjauh sampai tak terlihat. Dan nanti akan ada saat dimana para bayangan mengelu-elukan namamu, karena ada sesuatu di hati mereka tempatmu yang kosong, itupun kalau ada tempatmu.

Kedua pilihan itu tidak ada yang menguntungkan, menurutku. Yang kumau mereka saja yang berubah menjadi orang dewasa seterusnya, seperti aku ini. Tapi apalah dayaku mengubah seseorang. Menurut saran yang bukan bayangan itu kuncinya sabar. Sabar itu perlu energi besar jika disalurkan, bisa menggerakan kapal nabi Nuh, bisa membuatmu menulis berbaris-baris kata, katanya. Adapula yang bisa menyeimbangkan tubuh dan pikiran. Lihat saja orang yang sabar beryoga mengatur pernafasan dengan gerakan yang amat lambat begitu, dikumpulkan lalu dibuang pelan-pelan, pelan-pelan. Aaah aku saja tidak sabar melihatnya! katanya. Lalu sang bukan bayangan menghilang dari pikiran yang tak berwujud.

No comments:

Post a Comment

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)