28 May 2012

Ajal

Dear Ajal,

Tadi pagi saya lihat Anda sekali. Hampir dua kali.



Jam 8.30 pagi, rute yang biasa dilewati ketika berangkat kerja, di depan stadion senayan, saya lihat Anda bekerja mencabut nyawa seorang wanita bermotor bebek supra. Tidak terlalu naas karena adegan yang Anda buat merobohkan tiba-tiba, dugaan sok pintar saya Anda merusak peredaran darah menuju jantung membuat tubuh kaku dan berwarna biru, mengeluarkan darah dari rongga hidung, mungkin rongga lainnya juga tetapi tidak jelas karena saya tidak bisa tahan lama-lama menyaksikan pertunjukkan satu ini.


Senin pagi, seperti biasa hari dimana jakarta lebih padat dari biasanya, anehnya tak banyak orang menoleh entah karena kepekaan masyarakat disini sudah berkurang atau karena adegan yang Anda buat wahai Ajal, kurang dramatis. Saya disana juga hanya berkesempatan jadi penonton saja, sambil bertanya-tanya (dalam hati) Siapakah dia? Dimanakah keluarganya? Apa pekerjaannya? Bagaimana orang-orang yang dia tinggalkan kemudian? Ketika wanita itu di bopong oleh seorang pengendara motor yang kebetulan berada paling dekat.

Wahai ajal, sepanjang perjalanan Anda menyita perhatian. Saya tahu kadang kerja Anda sesuka hati, saya maklum mengingat banyaknya nyawa yang Anda cabut setiap hari. Jadi pasti butuh pekerjaan yang bervariasi, kadang halus, kadang kasar, kadang dengan cara yang sopan, kadang dengan cara yang impolite. Entah tergantung apa, mungkin mood Anda yang suka naik turun.

Dear ajal, andai saja Anda punya official itenary tentang “Bagaimana cara penyambutan sang Ajal”, Saya rasa semua orang siap dengan caranya masing-masing. Ada yang menunggu duduk manis di taman dengan senyum halus dan ekspresi “Yes, I’m ready”, mungkin ini tipe yang tidak mau capek. Biasanya di miliki tipe-tipe si kakek renta yang tidak banyak tenaga dan pasrah saja. Ada juga dengan cara yang sangat tergesa-gesa dan penuh keringat, seperti di pacu adrenalinnya melarikan diri dari Anda dan tapi pada akhirnya menyerah juga, entah kelelahan atau masuk ke jurang. Disini saya jadi ingat film  Final Destination yang rata-rata aktornya anak muda. Mereka capek-capek menghindar ujung-ujungnya meninggal semua. Not worth movie I think dan anehnya laku sampai jilid ke lima. Ck.

Wahai ajal. Kalau boleh saya request, pada gilarannya saya kelak tolong Anda lakukan tidak di jalan raya, karena jujur saja KTP saya aspal, alamat yang tertera bukan petunjuk ke rumah. Jadi pasti banyak menyusahkan orang nanti. Jangan pula pakai cara yang mengerikan, yang membuat mata saya jadi terbelalak karena akan terbelalak pula mata mamak saya nanti. Dan satu lagi jangan dipelukan orang yang menyayangi saya, karena terlalu dramatis nanti. Walaupun itu yang saya harapkan.

Yang manapun itu, tolong beri tanda wahai Ajal, dan buat saya siap.

No comments:

Post a Comment

Hai, terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar di postingan blog saya ini. Salam. :)